Young, Wild & Free Part 10

PicsArt_12-26-10.38.45

Author             : mylovevil

Title                : Young Wild, & Free

Cast                 : Cho Kyuhyun, Park Jae In

Category         :  NC-17, married life, romance.

Desclaimer      : Wah banyak pengunjung baru nihh… Author ucapkan selamat datang buat para readers yang datang ^^ Untuk Part kemarin maaf banget ya banyak typo T.T  apalagi itu nama Jae In jadi Channie.. lagi nyelesai’in ebook The Darkness jadi keliru gitu cast yeoja nya T.T sekali lagi maaf untuk typonya.. Maaf juga lama nge-postnya >.<

 

THIS STORY IS MINE! DON’T TO BE A PLAGIATOR AND SILENT READER ^^

 

Sorry For Typo’s and Happy Reading ^^

 

 

 

***

 

 

 

Perjalanan mereka kali ini di awali dengan mengunjungi Danau Beratan yang terletak di kawasan Bedugul, pemandang disana membuat Jae In takjub hingga membuatnya berulang kali berdecak kagum melihatnya. Kyuhyun berdiri beberapa langkah di depanya, berbicara dengan Mr. Durma untuk menyewa sebuah kapal boat untuk mengelilingi danau agar dapat menikmati pemandangan Danau Beratan dari jarak dekat.

 

Beberapa pengawal berpakaian casual nampak mengelilinginya. Jae In merasa seperti seorang tahanan polisi. Beruntung para pengawal itu tidak menggunakan seragam polisi ataupun pakaian formal serba hitam. Jae In yakin, para pengunjung disini pasti ketakutan jika melihat pengawalnya berpakaian seperti itu.

 

Di tengah danau Jae In bisa melihat sebuah pura dengan atapnya yang menjulang tinggi. Jae In tidak sabar ingin kesana. Tiba-tiba saja Jae In tidak lagi merasa silau akibat terpaan sinar matahari. Sebuah topi bundar melindungi kepalanya dan Jae In mendapati Kyuhyun berdiri disampingnya sambil tersenyum. “Sudah puas melihat-lihatnya, Nyonya Cho? Kau akan merasakan langsung indahnya danau Beratan sekarang.” Kyuhyun memeluk bahu Jae In, mebawa gadis itu untuk menghampiri sebuah kapal boat..

 

“Oppa, yakin?” cegah Jae In sebelum menaiki kapal itu. Sungguh, Jae In sangat takut dengan kedalaman air. Kedalaman danau di hadapannya itu pastilah jauh berbeda dengan kedalaman kolam renang. Bagaimana jika sewaktu-waktu kapal itu tenggelam?

 

Kyuhyun memperhatikan raut wajah takut Jae In, “Sangat yakin.”

 

“Aku tidak yakin.” Gumam Jae In lagi.

 

“Kau akan menyukainya, percayalah.” Ujar Kyuhyun akhirnya. Ia menggenggam tangan Jae In, menuntun gadis itu agar mengikuti langkahnya.

 

Sesampainya mereka di dekat kapal boat itu, Kyuhyun lebih dulu turun menaiki kapal itu. Jae In masih saja ketakutan dan genggaman tangan mereka belum juga lepas.

 

Dengan lembut, Kyuhyun menarik tangan Jae In. Sebelah kaki Jae In telah lebih dulu turun namun ia gemetaran. Kyuhyun terkekeh geli, kemudian mengangkat pinggang ramping gadis itu. Jae In terkejut bukan karena ulah Kyuhyun tapi kapal yang mereka taiki mulai bergoyang karena pergerakan tubuh mereka.

 

Di dalam kapal kecil itu terdapat 2 buah kursi untuk penumpang dan satu kursi untuk si pengendara kapal. Kyuhyun dan Jae In duduk berdampingan dengan kedua tangan Jae In yang memeluk pinggang Kyuhyun.

 

Lima orang pengawal termasuk Jeremy mengikutinya dengan kapal lain. Jae In tertawa pelan melihat ekspresi kaku mereka semua. Sungguh aneh, seharusnya mereka senang mendapati pemandangan sebagus ini, bukannya menampilkan wajah dingin khas mereka. Raut wajah mereka sangat tidak cocok dengan pakaian yang mereka kenakan saat ini.

 

“Kenapa?” Kyuhyun menunduk, melihat wajah Jae In yang terbenam di dadanya. Gadis itu masih terkekeh geli membayangkan pengawal Kyuhyun.

 

“Anni. Mereka lucu.”

 

Kyuhyun mengerutkan alisnya lalu menoleh ke segala arah, “Siapa?”

 

“Pengawalmu.” Jawab Jae In lalu mendongak menatap wajah Kyuhyun dari bawah. Tangannya terulur menyentuh rahang tegas pria itu, “Aku bersyukur, kau tidak seperti mereka.”

 

Kyuhyun menarik pergelangan tangan Jae In yang menyentuh rahangnya lalu mengecupnya ringan, “Kau terlihat menggemaskan.” Bisik Kyuhyun.

 

“Akh..” Kyuhyun memekik kaget saat merasakan sakit disekitar pinggangnya akibat ulah tangan Jae In. Gadis itu mencubitnya.

 

“Dasar mesum.” Sinis Jae In kesal.

 

“Memangnya aku bicara apa?” Tanya Kyuhyun polos membuat Jae In mendelikkan mata kearahnya sambil mencibir kesal.

 

Kyuhyun tertawa pelan kemudian menarik kepala gadis itu dan mengecup bibir mungil Jae In yang di polesi lipstik berwarna orange. Jae In kembali mencubit pinggang Kyuhyun sambil menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya, berusaha menutupi rona merah di kedua pipinya. Kyuhyun yang melihatnya langsung memeluk bahu Jae In dengan hidungnya yang sibuk membaui aroma sampo yang digunakan Jae In. Di umurnya yang beranjak dewasa, Jae In belum menghilangkan kelakuannya yang masih kekanak-kanakan. Kyuhyun merasa seperti menikahi gadis di bawah umur, yah nyatanya memang seperti itu ‘kan.

 

“Mr. Durma bilang Pemandangan Pura itu sangat indah jika di pagi hari saat matahari terbit. Berarti aku salah mengatur jadwal.”

 

Jae In membenarkan letak topi bundarnya yang sedikit merosot, hampir menutupi kedua matanya. Ia mendongak lalu mengambil ponselnya di saku celana jeans Kyuhyun. Jae In hanya mengenakan sebuah dress berwarna kuning polos dan cardigan tipis berwarna abu-abu, semuanya tanpa saku. Jae In mulai sibuk mengabadikan keindahan danau Beratan, tak lupa ia mengambil gambar dirinya sendiri.

 

“Sekarang pun pemandangannya tak kalah indah.” Gumam Jae In sembari menyandarkan kepalanya pada pundak Kyuhyun.

 

Kyuhyun tersenyum tipis dengan sebelah tangannya yang terulur segera menarik pinggang Jae In. Gadis itu tersenyum senang, kapal yang ditumpanginya berhasil menepi di pinggir jembatan. Jae In lebih dulu keluar di bantu Kyuhyun dari belakang.

 

“Kau terlalu bersemangat, Nyonya Cho.” Kekeh Kyuhyun geli.

 

“Eoh. Apa aku terlihat seperti gadis norak?”

 

“Tidak. Kau terlihat menggemaskan.” Setelahnya Kyuhyun kembali menerima pukulan ringan di bahunya.

 

“Oppa.. Kenapa ada Jeremy disini?” Tanya Jae In setelah mengingat keberadaan Jeremy tadi pagi. Jae In terlalu bersemangat ingin memberikan Kyuhyun kejutan hingga tak menyadari langsung keberadaan Jeremy tadi pagi.

 

“Hanya berjaga-jaga.”

 

Jae In mengangguk mengerti. Setelahnya ia kembali sibuk berjalan kesana kemar diikuti Kyuhyun dan pengawalnya. Sepertinya Jae In mulai melupakan keberadaan Kyuhyun saking sibuknya dengan alam sekitar.

 

“Kau tidak takut?” Tanya Kyuhyun tiba-tiba.

 

Jae In menghentikan langkahnya lalu membalikkan tubuhnya kakinya terus melangkah mundur. “Takut apa?”

 

“Anak buah Jung Ill Woo.”

 

Jae In tertawa pelan sebelum berkata, “Mereka manusia sama sepertiku, kenapa harus takut.”

 

“Mereka seperti binatang, kejam kau tahu itu.”

 

“Oppa lupa, aku tidak takut binatang buas. Sebuas apa pun mereka, bukankah ada kau yang melindungiku? Aku memiliki Superhero.” Canda Jae In membuat kedua sudut bibir Kyuhyun tertarik ke atas.

 

“Aku pahlawan super?”

 

“Eoh, Superkyu.”

 

“Kau lupa, aku takut binatang buas? Apa julukan itu masih berlaku untukku?”

 

“Eoh tentu saja. Bukankah kita seimbang? Kau takut binatang buas dan tidak takut hantu, sedangkan aku sebaliknya.”

 

“Apa yang kau takuti dari hantu?”

 

“Menyeramkan, menjijikan, menyebalkan, aku membenci mereka.”

 

“Kau pernah bertemu mereka?”

 

“Tidak.”

 

“Sebenarnya aku cukup penasaran dengan wujud langsung mereka.” Gumam Jae In lagi.

 

“Mau bertemu hantu-hantu itu?”

 

“Tidak!!!”

 

 

..

 

 

Kyuhyun membuka topi bundar Jae In. Gadis itu terlihat kelelahan dengan bulir-bulir keringat yang mengalir. Cardigan yang dikenakan Jae In dilepas dari badannya dan hanya menyisakan dress tanpa lengannya. Udara panas disekitar benar-benar membakar kulitnya. Pipinya pun mulai memerah.

 

Bagaimana tidak lelah, Kyuhyun bahkan harus ikut berlari karena sifat hyperaktif Jae In. Jadi, bukan hanya Jae In saja yang lelah, Kyuhyun dan pengawalnya juga.

 

Mereka duduk di sebuah cafe yang berada dekat dengan Danau Beratan. Jae In mulai menyeruput es kelapanya dengan sekali tegukan. Kyuhyun sendiri sibuk memandangi istrinya yang kehausan.

 

“Oppa tidak minum?”

 

Kyuhyun tersenyum tipis sambil menopang dagunya diatas meja dengan tatapan yang masih memandang Jae In, “Tidak, lanjutkan minummu.” Perintah Kyuhyun.

 

“Mau menelpon orang tuamu?” Tanya Kyuhyun tiba-tiba.

 

Jae In mengerjapkan matanya. Jae In ingat jika kemarin mereka gagal menghubungi orang tuanya.

 

“Eoh..” Anggukkan kepala Jae In yang terlihat semangat membuat Kyuhyun tak bisa menyembunyikan raut gelinya.

 

Tangannya mulai sibuk mengotak-atik ponselnya lalu mengarahkan layar ponselnya ke wajah Jae In. Tak lama wajah ayah Jae In muncul di sana.

 

“Jae In-ah..” Seru Daehwa.

 

“Appa..” Pekik Jae In senang. Padahal baru beberapa hari mereka berpisah, sekarang Jae In benar-benar merindukan kedua orang tuanya itu.

 

“Kalian baik-baik saja disana?” Tanya Daehwa terlihat cemas. Yah pria paruh baya itu mengetahui jika beberapa anak buah Jung Ill Woo mengikuti anak dan menantunya. Daehwa hanya bisa sedikit bernafas lega karena penjagaan ketat para pengawal Kyuhyun. Yah siapa yang tahu jika suatu saat mereka lengah menjaga Jae In.

 

“Kami baik disini. Eomma, Appa bagaimana? Oh, bagaimana kondisi janin eomma?”

 

“Kami juga.. kau tahu, ibumu selalu merengek padaku.. ingin pergi keluar rumah. Sayangnya aku tak mengijinkannya. Kau tahu kan bagaimana kondisi disini.”

 

“Hmmm.. disana tempat tinggalnya para Setan.”

 

“Setan?”

 

“Ya, Jung Ill Woo beserta anak buahnya. Mereka komplotan setan, oh iblis jahat mungkin lebih cocok untuk mereka.”

 

Kyuhyun tertawa pelan mendengar ejekan Jae In membuat gadis itu melirik kearahnya penuh tanya. Dan Kyuhyun hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.

 

Mata Kyuhyun beralih melirik seorang gadis yang sangat dikenalnya walaupun gadis itu berusaha menutupi wajahnya dengan sebuah topi dan kaca mata hitam. Warna kulitnya yang putih pucat dan wajah khas asia timur, membuat Kyuhyun yakin jika gadis itu bukan orang indonesia. Go Ara, gadis yang notabene-nya adalah sahabat Kyuhyun, tidak mungkin Kyuhyun tidak mengenalnya. Kyuhyun sangat tahu bagaimana bentuk tubuh maupun rupa wajah sahabatnya itu. Mau bagaimana pun juga Go Ara menyamar, Kyuhyun pasti mengenalnya.

 

Dengan refleks, Kyuhyun beranjak dari duduknya. Jae In yang masih sibuk dengan telpon-nya menyadari keanehan Kyuhyun. Jae In ikut menolehkan wajahnya ke belakang tubuhnya, mengingat posisinya yang duduk berhadapan dengan Kyuhyun.

 

Baru saja Jae In ingin berbicara, Kyuhyun telah lebih dulu meninggalkannya. Pria itu berjalan dengan langkah yang lebar. Jadi karena gadis itu, Kyuhyun meninggalkannya. Walaupun Jae In baru beberapa kali bertemu dengan sahabat suaminya itu, Jae In hafal betul dengan Go Ara. Perempuan yang berani mencium leher suaminya di club malam. Apa mereka bisa dibilang sebagai sahabat? Cihh, Jae In mulai meragukan status kedua orang itu. Oh Park Jae In positif thinking Oke!

 

Sambil mengatur raut wajahnya, Jae In meyakinkan dalam hati jika Kyuhyun dan Go Ara hanya bersahabatan.

 

Jae In melihat jelas gadis itu yang berusaha menghindar, namun tangan Kyuhyun lebih dulu menarik lengan Ara. Jae In ingin sekali berteriak, melarang Kyuhyun menyentuh wanita lain. Walaupun hanya sentuhan ditangan, Jae In sangat tidak menyukainya! Biarkan kali ini Jae In merasa egois..

 

“Apa yang kau lakukan disini?” Suara Kyuhyun terdengar dingin di imbangi dengan tatapan mengintimidasinya.

 

“Aku…” Go Ara terlihat mati kutu. Gadis itu tak berkutik di tempatnya. Jae In yakin di balik kaca mata hitam itu, Go Ara sedang menggerakkan kedua bola matanya, mencari alasan.

 

“Kau pasti tidak mempercayai ucapanku kan?” Cicit Ara pelan.

 

Kyuhyun mendengus kesal. Ya, dia memang tidak akan percaya. Apalagi Kyuhyun tahu jika beberapa anak buah Jung Ill Woo mengikutinya kemari, dan di sini ia menemukan sahabatnya. Jadi kemungkinan besar kedatangan Go Ara ada sangkut pautnya dengan Jung Ill Woo.

 

“Katakan!” Desis Kyuhyun setelah melepaskan pegangan tangannya.

 

“Aku hanya ingin memantau keadaan kalian, hanya itu.” Ujar Ara tegas. Kyuhyun mengerutkan alisnya begitu pun Jae In yang berdiri di belakang Kyuhyun.

 

“Bohong, kau pasti hanya ingin melihat Kyuhyun oppa!” Celetuk Jae In tanpa pikir panjang.

 

“Sudah kuduga, kalian tidak akan mempercayainya.” Gumam Ara terlihat lesu. Dan wajah Jae In masih terlihat masam.

 

“Kau salah satu dari mereka?” Tanya Kyuhyun, Ara terlihat menggeleng semangat.

 

“Tidak, bukan. Justru aku ingin melindungi kalian dari mereka.”

 

“Apa yang bisa kau lakukan?” Tanya Kyuhyun dengan nada mengejek. Yah melihat bagaimana mungilnya tubuh Go Ara dibandingkan dirinya yang tinggi, membuat Kyuhyun ingin tertawa.

 

“Bukan aku yang melawan mereka, tapi para pengawalku.”

 

Kyuhyun kembali tersenyum miring. Cih, dia bahkan memiliki banyak pengawal. Untuk apa menambah pngawal lagi.

 

“Aku tidak butuh. Lebih baik sekarang kau kembali ke Korea.”

 

“Cho Kyuhyun.” Rengek Ara.

 

“Eonnie, kau benar-benar bukan salah satu dari mereka kan?” Selidik Jae In, kembali mengulang pertanyaan Kyuhyun sebelumnya.

 

Ara melirik salah satu pengawal yang berdiri di belakang Jae In. Ia mengenal pria itu. Bagaimana tidak, setiap kali Ara menginjakkan kakinya ke rumah adik kandungnya, Ara selalu berpapasan dengan pria itu.

 

“Tentu saja bukan.” Jawab Ara tegas.

 

“Tapi… kalian harus berhati-hati dengan orang-orang terdekat kalian.”

 

“Orang terdekat? Apa kau termasuk?” Ketus Kyuhyun.

 

“Tentu saja tidak!” Jawab Ara.

 

Kyuhyun tersenyum mencemooh. Tanpa memedulikan Ara di depannya, Kyuhyun telah menarik tangan Jae In. Membawa gadis itu pergi menjauh dari Ara.

 

Wajah Kyuhyun terlihat tegang. Genggaman tangannya pada tangan Jae In terlihat mengencang. Membuat gadis itu meringis pelan karena sakit yang ia alami.

 

Kaki Kyuhyun terus melangkah melewati keramaian orang, Hingga mereka tiba di sebuah mobil van berwarna hitam. Kyuhyun membuka pintu mobilnya kasar. Kemudian sedikit mendorong bahu Jae In memasuki mobil diikuti dirinya.

 

Hingga sang supir masuk, suasana disana masih terasa sunyi. Kyuhyun menyandarkan tubuhnya sambil memejamkan matanya, berusaha menormalkan deru nafasnya yang memburu.

 

Jae In yang duduk disampingnya hanya bisa terdiam sambil melihat wajah Kyuhyun. Jae In cukup takut untuk mengganggu ketenangan Kyuhyun. Pria itu terlihat menyeramkan jika sedang marah seperti sekarang.

 

Mata Kyuhyun tiba-tiba terbuka lebar lalu menoleh kesampingnya. Tatapan mereka saling bertemu dan saling menatap satu sama lain. Seolah-olah mereka sedang berbicara lewat tatapan itu. Tangan Jae In terulur menyentuh pipi Kyuhyun. Pria itu kembali memejamkan matanya setelah mendapati sapuan halus di pipinya yang berasal dari tangan dingin Jae In.

 

“Aku takut.” Gumam Jae In, membuat Kyuhyun kembali membuka kelopak matanya.

 

“Apa yang kau takutkan?”

 

“Kau.”

 

Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya. Sial, jangan bilang Jae In takut padanya karena gadis itu melihat raut wajahnya yang menyeramkan saat marah.

 

“Aku takut kau mencintai gadis itu, Go Ara.” Sambung Jae In membuat Kyuhyun tak bisa menyembunyikan kekehan gelinya. Seharusnya para penjahat diluar sana yang Jae In takutkan.

 

“Tidak akan pernah.” Ujar Kyuhyun setelah menarik Jae In agar duduk di pangkuannya.

 

“Bagaimana bisa aku mencintai orang lain jika aku sendiri memiliki istri yang begitu menggemaskan untuk di makan.” Goda Kyuhyun sambil menjawil hidung bangir Jae In.

 

“Aku dimakan?” Tanya Jae In bingung. Kyuhyun tertawa pelan lalu meletakkan kepalanya pada leher Jae In dengan kedua tangan yang memeluk pinggang ramping gadis itu. Posisi Jae In yang duduk menghadap pada Kyuhyun membuat rok gaunnya sedikit tersingkap hingga memperlihatkan setengah pahanya  dan Kyuhyun berusaha menutupi paha Jae In dengan lengannya, berjaga-jaga jika sang supir berani melirikkan matanya kebelakang. Yah Kyuhyun rasa itu tidak mungkin. Kyuhyun pasti akan memecat langsung supir itu jika berani menatap tubuh istrinya.

 

“Apa ada yang kau takuti selain itu?” Tanya Kyuhyun sambil memejamkan matanya. Menikmati usapan lembut di rambutnya, ulah jari-jari mungil Jae In.

 

Jae In terlihat berpikir sebentar dengan bibir yang menipis. “Ehmm… Hantu.”

 

Kyuhyun mendongak lalu mengecup dagu Jae In. “Selain itu?” Tanya-nya lagi.

 

“Tidak ada.” Jawab Jae In yakin.

 

“Orang jahat?”

 

Jae In melirik ke bawah. “Tidak. Mereka berbuat jahat, mungkin karena memiliki alasan tersendiri. Aku yakin mereka sebenarnya orang yang baik.”

 

Kyuhyun kembali menegakkan tubuhnya, tatapannya berubah tajam dari sebelumnya, membuat Jae In sedikit menjaga jarak dengan telapak tangannya yang mendorong bahu Kyuhyun.

 

“Apa yang akan kau lakukan jika orang-orang jahat itu mendekatimu?” Tanya Kyuhyun sarkastik.

 

“Aku… aku akan berbicara baik-baik pada mereka.”

 

“Jika mereka memiliki senjata?”

 

“Aku akan membawa pisau kemana pun aku pergi.” Jawab Jae In jengah.

 

“Jika mereka membawa pistol?” Tanya Kyuhyun kesekian kalinya.

 

“Aku akan melempar pisau yang ku bawa.”

 

“Jika jumlah mereka…..”

 

“Hentikan pertanyaan konyolmu itu Oppa!”Gerutu Jae In sambil memukul dada Kyuhyun. Kyuhyun menarik kepala Jae In agar mendekat. Jae In belum memiliki persiapan yang cukup untuk melawan paman tirinya sendiri dan Kyuhyun semakin merasa khawatir jika sewaktu-waktu ia pergi keluar kota harus membiarkan istrinya dirumah sendirian di temani beberapa pengawal kepercayaannya.

 

“Aku hanya ingin kau bisa menjaga dirimu.”

 

“Masalah Jung Ill Woo lagi? Oh ayolah, Ahjussi itu orang gila dan para pengikutnya itu lebih gila. Aku tidak akan kalah dengan orang gila, Oppa.” Ujar Jae In sepele.

 

Kyuhyun tertawa. Kedua tangannya mengapit pipi Jae In hingga bibir Jae In terlihat mengerucut. “Kau tidak bisa berkata seperti itu sebelum kau membuktikannya sendiri. Aku yakin, kau akan takut jika berhadapan dengan mereka langsung.”

 

“Laaalloo Apaa yang halus ku lakokan?” Tanya Jae In dengan intonasi yang kurang jelas.

 

Kyuhyun kembali tertawa lalu mengecup bibir mengerucut Jae In. “Kau hanya perlu menghilangkan rasa takutmu.”

 

“Hanya itu?”

 

Kyuhyun menggangguk.

 

“Bagaimana caranya?”

 

“Berikan aku ciuman jika kau ingin tahu jawabannya.” Goda Kyuhyun jahil. Jae In memutar kedua bola matanya. Sepertinya sifat mesum Kyuhyun mulai lagi. Bahkan ada orang lain selain mereka di dalam mobil, tapi sepertinya Kyuhyun lupa.. atau mungkin terlalu bodoh.

 

Kedua tangan Jae In menyentuh rahang tegas Kyuhyun dengan kepala yang menunduk hingga bibirnya menyentuh bibir Kyuhyun. Hanya sentuhan ringan karena setelahnya Jae In menutupi bibirnya. Berjaga-jaga jika sewaktu-waktu Kyuhyun kembali mencium bibirnya.

 

“Terus mengingat namaku. Apa pun yang terjadi padamu nanti, kau harus percaya jika aku akan selalu datang menolongmu.” Ucap Kyuhyun sungguh-sungguh.

 

“Hero Gyu.” Goda Jae In geli. Setelahnya ledakan tawa Jae In tak bisa di sembunyikan lagi.

 

“Oppa, memangnya kau superman yang langsung datang menolongku dan mengetahui keberadaanku dengan cepat?” Kekeh Jae In.

 

“Apa yang aku ucapkan itu sebuah lelucon?” Ringis Kyuhyun dan mendapati anggukkan dari kepala Jae In.

 

“Kau memang harus diberi hukuman, Nyonya Cho.”

 

“Uuuu…. aku sangat takut Tuan Cho.”

 

 

 

***

 

 

 

Di tempat lain

 

“Sung Jae-ssi, kakak-mu hampir saja mengacaukan rencana kita.”

 

“Apa!! Bagaimana bisa? bukankah Ara nuna sedang berada di Korea?”

 

“Tidak. Go Ara berada di sini dengan beberapa pengawalnya.”

 

“Sial!  Bagaimana pun caranya kau harus mendapati alamat hotel Ara nuna, Cepat!!”

 

Tut tut

 

Panggilan telepon di seberang sana terputus karena Sung Jae langsung mematikan ponselnya begitu saja. Sedangkan si penelpon kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana yang ia kenakan. Sebenarnya ia merasa lelah jika harus bekerja dengan 2 orang atasan yang bahkan sekarang saling terikat. Ya, ia bekerja untuk Cho Kyuhyun dan Jung Ill Woo, bukan Jung Ill Woo sebenarnya untuk anak kandung Jung Ill Woo. Jung Ill Woo memang memiliki 2 orang anak, yaitu Go Ara dan Yook Sung Jae. Kenapa marga mereka berbeda? Karena mereka diadopsi oleh keluarga merek masing-masing. Namun mereka berdua masih menganggap Jung Ill Woo sebagai ayah kandung mereka sendiri, terlebih lagi Sung Jae yang begitu menyayangi ayahnya itu. Walaupun ia sendiri tahu jika ayahnya itu bukan orang waras.

 

Pria itu mengetahui alasan sebenarnya, kenapa keluarga Jung Ill Woo begitu ingin membalaskan dendam mereka kepada keluarga Park. Yah hanya karena masa lalu kedua pria tua itu. Bahkan ia sendiri yakin jika Park Daehwa tidak bersalah, yang salah adalah ayah dari Daehwa sendiri yang tega membunuh mendiang istrinya, dan sayangnya istrinya yang di bunuh itu adalah ibu dari Jung Ill Woo.

 

“Kenapa aku bisa ada di dua pihak seperti ini? Mana yang harus aku bantu, Tuhan?” Gumam Pria itu gusar. Ia telah salah dengan pekerjaannya sekarang dan masih pantaskah ia meminta pertolongan Tuhan? Berapa banyak dosa yang telah di perbuatnya karena membantu rencana Jung Ill Woo.

 

“Jeremy kenapa kau disana? Tuan Cho telah pergi meninggalkan kita.”

 

 

.

.

 

 

Suara gemercik air dari dalam kamar mandi menjadi sebuah nada di tempat yang sunyi. Sesekali terdengar gesekan kertas-kertas yang selembar demi selembar Jae In geser untuk melihat-lihat gambar perempuan atapun pria yang berfoto dengan bermacam-macam gaya. Jae In tidak merasa takjub sedikit pun dengan gambar disana. Ia hanya melihat wajah orang bule yang terlihat datar tanpa ekspresi memenuhi majalah fashion di tangannya. Sejak mengenal Kyuhyun, Jae In memang jarang berbelanja barang-barang mewah. Hei jika kalian berpikir Kyuhyun tidak mampu membelikannya barang mewah, itu kesalahan besar. Kyuhyun bahkan bisa membeli tokonya jika mau. Oke itu terlalu berlebihan, tapi memang itu kenyataannya.

 

Ceklek

 

Tatapan Jae In langsung teralihkan dengan pemandangan dada bidang Kyuhyun sekaligus perut rata pria itu. Inilah pemandangan yang membuat Jae In dapat berdecak kagum. Rambut kecoklatan yang terlihat basah dengan bulir-bulir air yang perlahan meluncur melewati leher putih Kyuhyun. Oh tidak ada pemandangan yang lebih indah selain pria panas di depannya ini.

 

“Menganggumiku, Nyonya Cho.” Goda Kyuhyun yang tak bisa menyembunyikan raut gelinya. Well, Jae In merasakan deja’vu. Jae In pernah merasakan hal ini di saat pertemuan pertama mereka. Bedanya, sekarang tubuh Kyuhyun hanya terbalut handuk putih yang menutupi bagian bawah tubuhnya.

 

Jae In menoleh ke arah lain. Ia merasa virus mesum Kyuhyun mulai menular padanya. Kenapa akhir-akhir ini Jae In merasa aneh pada dirinya sendiri?

 

“Apa ada barang-barang yang kau inginkan?” Tanya Kyuhyun yang telah selesai mengenakan piyama berwarna biru-nya. Jae In menunduk sambil membolak-balikkan majalah di pangkuannya lalu menggeleng lemah.

 

“Tidak ada yang menarik.” Gumam Jae In sedikit tak yakin.

 

“Oppa..” Panggil Jae In dengan kedua alis yang mengernyit, menahan sesuatu.

 

“Apa aku…”

 

Hoekk

 

Belum selesai Jae In berbicara. Mulut Jae In terlanjur memuntahkan isi perutnya tepat di baju Kyuhyun. Kyuhyun yang panik langsung memijat tengkuk Jae In. Membiarkan seprai yang mereka duduki maupun bajunya kotor karena muntahan Jae In. Tak banyak isi yang Jae In keluarkan, itu semua hanya berupa air bercampur beberapa makanan yang sempat ia makam tadi.

 

Tangan Kyuhyun berusaha menggapai ponselnya yang tergeletak di atas nakas lalu menekan nomor siapa pun yang sekiranya bisa ia andalkan. “Panggil dokter sekarang juga!!!” Teriak Kyuhyun tanpa basa -basi.

 

“Astaga kau kenapa?” Gumam Kyuhyun panik.

 

Jae In sudah tidak terlihat mual lagi. Kepala gadis itu menyandar di bahu Kyuhyun dengan wajahnya yang mulai terlihat pucat. Kyuhyun dengan sigap mengangkat Jae In, sebelumnya ia membuka bajunya terlebih dahulu. Kyuhyun membawa Jae In menuju sofa besar yang terletak di sudut ruangan.

 

Tangannya dengan cekatan membuka kancing piyama yang di kenakan Jae In. Setelahnya Kyuhyun berlarian ke arah lemari, mengambil kaos kebesaran miliknya lalu mengenakannya di tubuh Jae In. Kyuhyun kembali berlari mengambil segelas air putih yang sudah tersedia di atas nakas. Sungguh Kyuhyun tidak pernah melihat Jae In sakit seperti sekarang ini. Bisakah ia saja yang sakit? Kyuhyun merasa tidak tega melihat wajah pucat Jae In seperti sekarang.

 

“Oppa..”

 

“Tidak. Diam, jangan banyak bicara.” Perintah Kyuhyun kemudian menyodorkan gelas di tangannya pada bibir Jae In.

 

Setelahnya, Kyuhyun membenarkan letak tidur Jae In agar berselonjor di sofa.

 

“Tuan, dokter sudah datang.” Ujar salah satu pengawalnya di balik pintu kamar.

 

“Suruh dia masuk.” Jawab Kyuhyun.

 

Cekklek

 

Seorang dokter laki-laki bertubuh tinggi masuk dengan pakaian casual ditambah jas dokter kebanggannya. Jae In yang sejak tadi menatap pintu sedikit terkejut melihat kedatangan Choi Siwon ke kamar hotelnya. Kyuhyun yang duduk membelakangi Siwon pasti akan terkejut jika mengetahui siapa dokter yang datang sekarang.

 

“Astaga!” Pekik Kyuhyun hampir terjungkal.

 

“Hai. Ternyata kedatanganku berguna juga untuk kalian.” Sapa Siwon dengan cengiran anehnya sambil mengangguk-angguk layaknya orang idiot. Sungguh, Siwon tidak terlihat seperti seorang dokter dengan wajah anehnya itu.

 

“Apa yang kau lakukan disini?” Teriak Kyuhyun sinis.

 

Siwon berusaha melihat wajah Jae In yang terhalangi badan Kyuhyun. “Jae In sakit?” Tanya-nya yang langsung berjalan menghampiri tempat Jae In berbaring.

 

“Ya ya ya, apa yang kau inginkan… Aaaww…” Belum siap Kyuhyun melawan, Siwon sudah lebih dulu mendorong tubuhnya hingga jatuh terngkurap.

 

Siwon tak mempedulikan ringisan Kyuhyun. Ia malah sibuk menyentuh dahi Jae In. Tidak panas, hanya wajahnya saja yang terlihat pucat. “Apa ia muntah-muntah?” Tanya Siwon pada Kyuhyun.

 

“Ya.” Ketus Kyuhyun.

 

“Jae In-ah, kapan terakhir kali kau datang bulan?” Tanya Siwon to the point.

 

Jae In melirik Kyuhyun lalu menatap Siwon. “Terakhir kali? Sebulan yang lalu.” Jawab Jae In lemah.

 

Kyuhyun menatap Siwon dan Jae In bergantian. Mungkinkah? Kyuhyun tidak mungkin bodoh dengan apa yang mereka bicarakan. Ia sangat tahu apa inti permasalahan dari pembicaraan ini.

 

“Aku belum bisa memastikannya, jika kita sudah tiba di korea datanglah ke rumah sakit dan melakukan USG, arra.” Jae In mengangguk patuh dan mendapati usapan halus di dahinya.

 

“Ya ya ya apa yang kau pegang itu!” Teriak Kyuhyun gusar.

 

“Kau berlebihan sekali.” Kekeh Siwon.

 

“Kenapa kau bisa ada disini?” Selidik Kyuhyun mulai serius. Yah sepertinya ia selalu merasa was was jika ada orang yang dikenalnya berada di pulau ini.

 

“Ahra yang menyuruhku kemari.”

 

“Kenapa kau menurutinya?” Gerutu Kyuhyun frustasi. Oke Kyuhyun seharusnya menyadari sejak awal jika ini semua ulah kakaknya.

 

“Eoh Jae In-ah, kebetulan aku membawa obat untuk meredakan rasa mual-mu.” Ujar Siwon yang langsung mengeluarkan sebotol obat di dalam botol lalu memberikannya pada Kyuhyun. “Usahakan untuk meminum obatnya dua kali sehari, arraseo. Tugasku sudah selesai kan? Kalau begitu aku ingin kembali menikmati liburanku haha.”

 

“Kau dibayar untuk mengobati kami disini, bukan untuk liburan!” Ketus Kyuhyun.

 

“Yah, tugasku sudah selesai. Jadi, aku tidak mungkin menyia-nyiakan waktu senggangku. Oh, Jae In-ah aku pamit pulang, jangan lupa meminum obatnya. Annyeong.”

 

Tanpa berpamitan pada Kyuhyun, Siwon pergi begitu saja dengan tas punggungnya. Kyuhyun ingin sekali memukul kepala dokter aneh itu, jika tidak melihat kondisi lemas Jae In. Oh apa benar yang dikatakan dokter tadi jika kemungkinan besar Jae In hamil? Kyuhyun sangat bersyukur jika itu benar terjadi. Dia sudah membayangkan bagaimana rasanya jadi seorang ayah dan memiliki bayi mungil yang ingin sekali ia gendong kemana-mana, mengajaknya bercanda, dan hal-hal lain yang menyenangkan. Kyuhyun sungguh tak sabar menantikan hal itu.

 

“Oppa.” Panggil Jae In yang melihat Kyuhyun melamun. Gadis itu mulai beranjak dari tidurnya lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.

 

“Ne.” Jawab Kyuhyun, sedikit merasa panik melihat Jae In beranjak dari duduknya. “Apa yang kau lakukan? Kau seharusnya berbaring.” Gerutu Kyuhyun dengan bola matanya yang melirik perut Jae In yang masih rata. Mata Jae In mengikuti arah pandang Kyuhyun, seulas senyum tipis menghiasi wajahnya. Tangannya meraba perut datarnya lalu mengusapnya sangat pelan. Jae In takut jika sedikit saja ia menekan perutnya bisa membahayakan calon bayinya.

 

“Oppa, apa kau bahagia?” gumam Jae In membuat Kyuhyun terdiam. Jangan ditanya ia bahagia atau tidak, tanpa menjawab pun kalian pasti tahu bagaimana bahagianya seorang Cho Kyuhyun.

 

“Aku tidak sabar melihatnya lahir, tapi apa aku berhasil melahirkan bayinya?” gumam Jae In dengan wajah tertunduk. Yah mengingat kehidupannya sekarang yang terasa rumit. Apalagi kejadian waktu itu yang menimpanya dan Dave. Jae In takut jika ia sedikit lengah, orang-orang itu bisa saja menggores perutnya dengan samurai misalnya, atau mungkin pistol yang terarah ke perutnya.

 

Wajahnya terangkat karena tangan Kyuhyun. Pria itu menggeram marah dengan rahang mengeras. Wajahnya memerah menahan amarah, di tambah cengkraman tangan pria itu yang sedikit menyakiti lengannya. “Aku pasti akan melindungimu, apa pun yang terjadi, aku akan melindungimu. Kau tidak perlu khawatir, arraseo.” Ucap Kyuhyun tepat di depan wajahnya. Jae In memejamkan matanya setelah mendapati sapuan halus dari bibir Kyuhyun di keningnya dan berakhir di bibirnya.

 

“Hmm, duduklah di sofa, aku akan mengambil minum untukmu.” Ujar Kyuhyun merangkul bahu Jae In agar kembali duduk di atas sofa. Wajah Jae In terlihat tidak setuju. Gadis itu kembali ingin beranjak dari duduknya tapi tertahan dengan kedua tangan Kyuhyun yang menahan bahunya. Jae In mendongak dengan wajah kesal dan Kyuhyun menggeleng lalu menundukkan wajahnya agar sejajar dengan wajah Jae In. “Tetap diam disini!”

 

“Anni, aku ingin membereskan ranjang karena muntahan-ku tadi.” Bantah Jae In keras kepala.

 

“Aku akan memesan kamar lagi, jadi tetap disini hingga aku kembali.” Ujar Kyuhyun tak terbantahkan.

 

Setelah melihat tatapan tajam Kyuhyun apa yang bisa Jae In perbuat. Ia sudah cukup takut dengan tatapan seperti itu. Jae In kembali menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa sambil mengelus perutnya dengan tatapan menerawang ke depan. Tiba-tiba saja matanya melihat ke luar pintu yang menuju balkon. Sepertinya Jae In kembali melupakan perintah Kyuhyun tadi. Kaki telanjangnya tak menurunkan keinginan Jae In untuk pergi kesana.

 

Jae In memutar kunci dihadapannya lalu membuka pintunya lebar-lebar. Dan yang di dapatinya sekarang, membuat Jae In berdecak senang. Hembusan angin malam membuat rambutnya berterbangan. Walaupun tubuhnya hanya terbalut kaos tipis dan celana pendek, tapi Jae In tak merasa kedinginan sedikit pun. Gadis itu malah terlihat sangat menikmati angin yang berhembus ke arahnya di tambah lagi dengan cahaya bulan yang terlihat di dalam kolam renang dan suara ombak di bawah sana.

 

“Astaga, kapan kau menuruti perkataanku.” Suara Kyuhyun terdengar menyeramkan. Jae In sudah yakin jika Kyuhyun akan marah kali ini. Dengan hati-hati ia memutar tubuhnya menghadap pada Kyuhyun langsung. “Masuklah. Kau tidak seharusnya berada di luar dengan pakaian seperti itu, kau bisa kedinginan.” Kyuhyun maju selangkah dan Jae In mundur hingga pinggangnya menyentuh besi pembatas.

 

“Aku tidak ingin pindah kamar.” Rajuk Jae In dengan bibir yang mengerucut.

 

“Kenapa? Di kamar yang lain tak kalah bagusnya dengan kamar ini.” Ujar Kyuhyun selembut mungkin. Namun Jae In tetap tidak menuruti perkataan Kyuhyun.

 

“Pemandangannya pasti berbeda.”

 

Kyuhyun menghela nafasnya pelan lalu meletakkan segelas susu coklat ke atas meja. Kakinya kembali melangkah masuk ke dalam mengambil mantel tebal miliknya. Kyuhyun kembali ke hadapan Jae In lalu memakaikan mantelnya ke tubuh Jae In. Mantelnya terlihat kebesaran di tubuh Jae In, Kyuhyun terkekeh pelan setelahnya.

 

Jae In kembali menikmati pemandangan, sedangkan Kyuhyun lebih memilih duduk sambil memainkan ponselnya.

 

“Panggil Room Boy, suruh mereka untuk mengganti kasur di kamarku.” Ujar Kyuhyun melalui ponselnya.

 

Jae In menoleh pada Kyuhyun dengan senyum cerahnya. “Kita tidak jadi pindah kan?” Tanya Jae In memastikan.

 

Kyuhyun tersenyum tipis lalu mengulurkan tangannya. Setelah gadis itu menerima uluran tangannya, Kyuhyun mendudukkan Jae In di atas pangkuannya dengan posisi menyamping.

 

“Oppa, kenapa tidak ada jus jeruk?” Tanya Jae In yang terlihat enggan meminum susu coklat di atas meja.

 

“Berhenti meminum minuman asam itu. Aku sudah menyiapkan susu untuk ibu hamil, jadi sekarang kau minum itu atau kita pindah ke kamar lain.” Ancam Kyuhyun membuat Jae In mengerucutkan bibirnya kesal.

 

Dengan kasar Jae In mengambil segelas susu coklat itu hingga air di dalamnya sedikit tumpah. “Oppa.”

 

Kyuhyun menatap mata Jae In dengan pandangan bertanya. Kedua sudut bibirnya terasa berkedut karena menahan tawa. “Aku tidak suka susu.” Gerutu Jae In.

 

“Tapi kau suka susu coklat.”

 

Jae In mendelikkan matanya pada Kyuhyun lalu meminum susunya sekali tegukkan. Sisa cairan berwarna coklat itu terlihat menempel di atas bibir Jae In. Dengan lembut, Kyuhyun membersihkannya dengan jari jempolnya.

 

Beberapa menit kemudian, dua orang Room Boy masuk ke dalam kamarnya sambil menggotong sebuah ranjang king size. Mereka mengganti ranjang yang tadi terkena muntahan Jae In begitu juga seprai-nya. Kedua pipi Jae In bersemu merah mengingat kejadian tadi. Kejadian tadi terasa memalukan bagi Jae In, apalagi baju Kyuhyun tidak sengaja terkena muntahannya. Tapi, Kyuhyun dengan cekatan membersihkannya, bahkan menggantikannya baju.

 

“Ada apa dengan pandanganmu itu?” Tanya Kyuhyun dengan wajah yang sengaja di buat takut.

 

“Apa kau sedang berpikiran mesum tentangku?”

 

Plakk

 

Kyuhyun membelalakan matanya. Ini kesekian kalinya ia mendapati tamparan di pipinya dari tangan mungil Jae In. “Yak, Cho Kyuhyun apa otakmu itu sudah terkontaminasi dengan video mesum? Tadinya aku hanya kagum padamu, tapi kau melunturkan kekagumanku padamu karna kata-katamu barusan.”

 

Kyuhyun mengangakan mulutnya. Ini pertama kalinya ia mendapati kata-kata kasar yang keluar dari mulut Jae In. Apa ini pengaruh bayi mereka? Benarkah seperti itu? Bukankah usia kandungan Jae In masih sangat muda.

 

“Siapa yang mengajarimu berkata seperti itu?”

 

“Tidak ada.”

 

“Jangan pernah mengulangi kata-kata seperti tadi. Dan apa katamu? Cho Kyuhyun? Yak, aku lebih tua 7 tahun darimu.” Gerutu Kyuhyun gusar. Jae In terdiam dengan kedua lengannya yang bertumpu pada pundak Kyuhyun. Kepalanya maju hingga bibirnya menyentuh bibir Kyuhyun.

 

 

“Mianhae Oppa.” Gumam Jae In merasa bersalah dengan kata-katanya barusan.

 

Kyuhyun tersenyum lebar, kedua telapak tangannya menangkup kedua pipi Jae In, menarik wajah gadis itu agar mendekat lalu mencium bibirnya. Awalnya ciuman itu terasa lembut, namun berubah saat Kyuhyun dengan sengaja mengigit bibir bawah Jae In. Jae In mengerang pelan dan Kyuhyun tak menyia-nyiakan kesempatan itu, lidahnya menelusup masuk ke dalam mulut Jae In, bermain-main di dalam sana, menggoda Jae In. Kedua tangan Jae In beralih menarik-narik rambut Kyuhyun, berusaha menyampaikan gairahnya yang tersulut akibat bibir Kyuhyun. Beruntung kedua Room Boy itu telah pergi meninggalkan kamar mereka.

 

Ciuman Kyuhyun turun menuju leher putih Jae In. Kedua tangannya membawa pinggang Jae In, menggendongnya lalu membawanya ke dalam kamar. Selama perjalanan, bibir Kyuhyun kembali mencium bibir Jae In. Pria itu membaring tubuh Jae In ke atas ranjang dengan hati-hati. Sebelumnya ia melepaskan mantel yang di kenakan Jae In.

 

Ciuman Kyuhyun beralih pada dahi Jae In yang tertutupi anak-anak rambut. Kyuhyun mengusap wajah Jae In, membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan lalu mengecup kedua mata gadis itu. “Tidurlah.” Titah Kyuhyun tepat di depan wajah Jae In.

 

Jae In memegang lengan Kyuhyun sambil menggelengkan kepalanya. Ia sedikit tidak rela jika kegiatan mereka berhenti. Mungkinkah Kyuhyun menahannya karena ada bayi di dalam perutnya?

 

“Aku ingin melindunginya.” Tutur Kyuhyun seolah-olah mengerti arti tatapan Jae In. tangan besar Kyuhyun mengusap perut datar Jae In, membuat Jae In tersenyum tipis.

 

Kemudian Kyuhyun ikut berbaring di samping Jae In, menarik kepala gadis itu agar berbaring di lengannya. Jae In beringsut untuk memeluk Kyuhyun. Ini adalah posisi ternyaman menurutnya. Berada dipelukan Kyuhyun dengan lengan pria itu sebagai bantalannya, ditambah usapan lembut di kepalanya, membuat Jae In bisa lebih cepat tertidur pulas.

 

Kyuhyun menepuk punggung Jae In pelan. Matanya terlihat menerawang, memikirkan kejadian tadi. Ia sempat melihat beberapa orang misterius saat di danau tadi. Kyuhyun yakin jika orang yang ia lihat bukan pengawal milik Ara, melainkan anak buah Jung Ill Woo. Kyuhyun tidak tahu apakah ada pelaku lain selain Jung Ill Woo yang ingin membalaskan dendam pada Jae In. Sungguh, Jae In tidak bersalah. Kenapa harus Jae In yang menjadi sasaran.

 

Besok Kyuhyun harus bertindak, Go Ara sudah memberitahunya tadi. Dia harus berhati-hati dengan orang terdekat. Siapa yang di maksud Ara? Apa salah satu pengawalnya termasuk anak buah Jung Ill Woo?

 

 

 

***

 

 

 

“Yak Go Ara! Buka pintunya!”

 

Sung Jae datang dengan wajahnya yang terlihat memerah. Pria itu tidak lagi mengetuk pintu dihadapannya denga tenang, melainkan dengan gedoran yang memekakkan telinga. Para security telah turun tangan untuk menghentikan aksi Sung Jae, namun pengawalnya berhasil menghadang langkah para security. Beberapa penginap mulai saling berbisik-bisik tentang kelakuan Sung Jae yang mengganggu.

 

Ceklekk

 

Pintu di hadapannya terbuka dan menampilkan Go Ara yang menatapnya jengah. Gadis itu sudah menduga jika kejadian ini pasti terjadi. Ia juga melihat Jeremy berdiri di belakang adiknya dengan tatapan tajam yang terarah padanya. Cih, rupanya pria itu mengadukan kejadian siang tadi pada adiknya. Pengecut sekali.

 

Sung Jae masuk dengan langkah panjang diikuti Jeremy di belakangnya. Sung Jae bahkan melewati kakaknya begitu saja sambil mendengus kesal. “Tidak bisa kah kau merahasiakan hal ini!” Bentak Sungjae murka. Ahra menatap Sung Jae dengan tatapan polosnya, dan senyuman miring tercetak jelas di sudut bibirnya.

 

“Kau berurusan dengan sahabatku. Apa aku harus diam saja membiarkan kalian menyakiti sahabatku?” ujar Ara tenang, tidak meledak-ledak seperti adiknya.

 

“Brengsek, aku hanya ingin membalaskan dendam ayah pada Jae In, bukan sahabat sialan-mu itu!”

 

Ara mengangguk setuju. Baginya tidak masalah jika Sung Jae membalaskan dendam ayah mereka pada keluarga Jae In atau pun gadis itu sendiri, namun situasi sekarang telah berubah. Jae In adalah istri Kyuhyun, sahabatnya sendiri. Jadi, tidak mungkin Ara diam saja melihat Kyuhyun kesusahan melawan adiknya maupun anak buah ayahnya yang beringas ini.

 

“Sung Jae-ya, sadarlah. Kau tahu Ayah….”

 

“Gila! Go Ara kau tahu apa penyebab Ayah seperti itu kan? Semuanya karna Harabeoji yang tega membunuh Halmeoni. Dan yang lebih bodohnya, kenapa Park Daehwa hanya diam saja melihat halmeoni mati di tangan Harabeoji.”

 

“Sung Jae-ya! Apa kau tidak berpikir! Ayah juga melihat kejadian itu, kenapa ayah tidak membantu Halmeoni? Wae?” Amarah Ara mulai tersulut. Walaupun Jung Ill Wo ayah kandungnya, ia tidak memihak pada ayahnya itu.

 

“Saat itu umur ayah masih anak-anak.” Gumam Sung Jae sedikit ragu.

 

“Apa kau melihat kejadian waktu itu? Tidak kan. Kenapa kau begitu ingin membalaskan dendam ayah pada keluarga Jae In?”

 

“Ayah yang menyuruhku.” Gumam Sung Jae dengan wajah tertunduk. Ara menghela nafasnya pelan, lalu menatap Jeremy yang berdiam diri. “Keluarlah, aku hanya ingin berbicara dengan adikku!” Perintah Ara dengan nada dingin.

 

Jeremy menurutinya dan pergi meninggalkan mereka berdua disana. Ara menatap prihatin adiknya yang terdiam. Ara tahu kenapa adiknya berbuat seperti ini. Pria itu hanya ingin merasakan kasih sayang seorang ayah. Selama ini Sung Jae tidak pernah merasakannya karna sejak kecil, Sung Jae di asuh oleh sebuah keluarga yang tidak utuh. Jung Ill Woo tega membuang Sung Jae kecil di depan sebuah rumah sederhana dengan berbekalkan tas berisi pakaian. Waktu itu umur Sung jae sekitar 4 tahun.

 

Dan dari informasi yang Ara dapatkan, keluarga angkat adiknya bukanlah sebuah keluarga yang harmonis. Ayah angkat adiknya itu suka sekali mabuk-mabukkan, dan berjudi. Bahkan pria tua itu sering kali memukuli istrinya sendiri jika sang istri tak memberikan uang dalam jumlah banyak. Sung Jae yang saat itu ingin membantu sang ibu, malah mendapati pukulan sang ayah.

 

Ara tidak bisa membayangkan bagaimana susahnya Sung Jae menjalani hidup selama ini. Ayah mereka benar-benar tega membuang anak kandungnya sendiri. Sebaliknya, kehidupan Ara jauh lebih beruntung dari adiknya. Jung Ill Woo melakukan hal yang sama padanya seperti Sung Jae, bedanya Ara di buang oleh ayah sendiri disaat umurnya yang baru beberapa hari terlahir. Waktu itu segala kebutuhannya benar-benar terpenuhi, sekarang pun begitu. Apa pun yang ia inginkan selalu terpenuhi.

 

Ia pun baru mengetahui kebenarannya 2 tahun yang lalu. Ayahnya dinyatakan Psikopat. Ara sudah menyelidiki penyakit ayahnya ini. Pria tua itu pandai menciptakan kebohongan yang sempurna, memiliki kemampuan menguasai emosi orang lain bahkan memanipulasinya, dan mampu menyimpan dendam dalam waktu yang lama, menunggu ada kesempatan untuk membalaskan dendamnya.

 

Ya sekarang-lah pria tua itu mulai melancarkan aksinya melalui Sung Jae. Pria tua itu tahu pasti kelemahan adiknya. Kasih sayang, pria tua itu berjanji akan menyanyangi Sung Jae sebagai anaknya jika Sung Jae mampu membalaskan dendamnya. Ara tidak ingin ini semua terjadi, namun ia terlanjur untuk mengetahui keberadaan adiknya hingga kekacauan ini terjadi. Yang harus ia lakukan sekarang, hanya perlu meyakinkan Sung Jae jika yang dilakukan adiknya adalah kesalahan besar.

 

“Sung Jae-ya, hentikan semua ini. Kau hanya dibodohi oleh ayahmu sendiri.” Titah Ara sedih.

 

Sung Jae menatap kakaknya dengan pandangan nanar. Menurutnya apa yang ia lakukan ini tidak salah. Ini perintah ayahnya, dan ia harus menjalaninya. “Nuna, tahu bagaimana nasibku selama ini kan?”

 

“Ayah sudah mengakui kesalahannya yang tega menelantarkan-ku. Dan ia berjanji akan menyayangiku, jelas berbeda dengan perilaku ayah angkat-ku.”

 

“Sung Jae-ya…”

 

“Nuna, kau tidak pernah merasakannya. Aku harus rela dipukuli oleh ayah angkatku karena menolong ibuku sendiri, kau tahu bagaimana aku harus menahan rasa sakit akibat pukulannya. Ayah pasti berbeda dengan ayah angkatku.” Ujar Sung Jae keras kepala.

 

“Sung Jae-ya, kau salah… Ayah sudah memanipulasimu kau tidak boleh terpengaruh pada kata-katanya!”

 

“Persetan dengan ucapanmu itu, Nuna. Ku harap kau tidak pernah mencampuri urusanku!” akhir Sung Jae, meninggalkan Ara yang berdiam diri. Ara merasa gagal membujuk adiknya, sekarang apa yang harus ia lakukan. Satu-satunya orang yang bisa menghentikan adiknya hanyalah ayah kandung mereka sendiri. Dan sangat mustahil bagi Ara bisa membujuk ayahnya yang psikopat.

 

 

 

TBC

Aduh maaf yaa lama banget nge-post nih ff.. part 10-nya segini aja dulu ya, masih kurang panjang kah? Kalo iya, tunggu ke part 11-nya oke oke..

Terima kasih juga untuk dukungan kalian semua, terutama buat yang udah memberikan komentarnya baik disini maupun di page fb, maaf ya kalo ada yg inbox lama banget balesnya hihi..

Nah kabar gembiranya, nanti aku bakalan bikin akun bbm khusus untuk kalian..

karna lagi itu ada yg nanya-in pin bbm, sebenernya ada tapi itu untuk keperluan pribadi kkkk

Udah, sekian dari saya… di tunggu feedback dari kalian baik positif maupun negatif, aku terima kok 🙂

Advertisements

159 thoughts on “Young, Wild & Free Part 10

  1. Jeremy? Oh My God !

    Ga nyangka bgt ternyata dia adalah penghianat.. Walaupun ada rasa bimbang tapi tetep aja..

    Hmm semoga renca ill woo gagal..

    Dan ga nyangka sung jae juga jahat, dan dia adik Ara..

    Like

  2. Syukurlah, gue pikir Ara itu jahat. Ehh malah bias gue yang jahat 😂 ya okelahokelah dia hanya termanipulasi 😂

    Like

  3. Sung Jae sama Ara saudara kandung? Udh aku duga sebelumnya klo Sung Jae memang punya niat jahat sama keluarga Park.
    Gak nyangka Jeremy ternyata pengkhianat, musuh dalam selimut. Padahal dia dipercaya banget sama Kyuhyun.
    Jae In hamil dan perlakuan Kyuhyun makin manis. Julukan yg dikasi Jae In ke Kyuhyun itu loh haha
    SuperKyu, Hero Gyu :*

    Like

  4. sungjae ini yg bantuin Jae in bikin kue bukan sih???? lupa deh seinget aku sih iya berarti yg berkhianat sama kyuhyun 2 org dong sungjae ma Jerremy n klo sungjae bukan yg bantuin Jar in berarti Jerremy yg berkhianat sama kyuhyun OMG padahal kyuhyun klo apa2 langsung ke jerremy
    mana sekarang kemungkinan si Jae in hamil lagi…..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s