Young, Wild & Free Part 12

KyuJae M

Author : mylovevil

Title                 : Young Wild, & Free

Cast                 : Cho Kyuhyun, Park Jae In

Category          :  married life, romance.

Desclaimer       : di part ini tiba-tiba ide buat nerusin tulisan buntu. Tapi udah aku usahain supaya cerita ini terus berlanjut ditengah-tengah sakit kepala. Kadang sampe puyeng banget jadi lebih milih tidur dari pada ngetik ff. Dan maaf kemarin sempet ada kendala. Maaf juga ya kalo ceritanya gak nyambung atau emang bahasanya gak enak, aneh, bikin mual..

 

THIS STORY IS MINE! DON’T TO BE A PLAGIATOR AND SILENT READER ^^

 

Sorry For Typo’s and Happy Reading ^^

 

 

 

***

 

 

 

“Kami sedang berpencar, kau tenang saja.” Ujar Dave dengan tangan yang fokus menyetir mobil dan tatapan yang terarah ke depan. Haneul duduk disampingnya, terisak pelan meratapi nasib Jae In. Dave tidak berusaha menenangkan Haneul karena pria itu sama khawatirnya dengan haneul. 3 unit mobil mengikutinya dibelakang. Kedua sahabatnya membantu pencarian Jae In yang katanya Sung Jae berhasil membawa adik Dave menggunakan sebuah helikopter. Dan yang paling belakang mobil Ahra yang dikemudiakan suaminya. Ahra bahkan harus menitipkan Min Woo pada ibunya.

 

Ke empat mobil itu saling memisahkan diri di wilayah perempatan jalan. Dave memilih jalan lurus, Donghae ke kanan jalan, Eunhyuk ke kiri jalan, sedangkan Ahra mengikutinya di belakang dan mulai memisahkan diri saat melewati pertigaan.

 

Di seberang sana, Kyuhyun menelponnya dengan bentakan-bentakan yang memekakkan telinga. Sahabatnya itu sedang berada dalam perjalanan menuju Korea. Dave mengerti kalau Kyuhyun terus uring-uringan seperti sekarang. Karena pria itu harus menunggu selama kurang lebih 8 jam untuk sampai di Seoul.

 

“Sudahlah, ku tutup dulu.”

 

“Bagaimana jika Sung Jae membawa Jae In ke negara lain?” Cicit Haneul. Dave menoleh dengan bibir yang mendesis geram. Apa yang dikatakan Haneul ada benarnya juga, astaga kenapa ia tidak kepikiran sampai kesitu, mengingat bagaimana koneksi Sung Jae dan Jung Ill Woo lebih luas di bandingkannya.

 

Dave memejamkan matanya sesaat dengan tangan yang semakin mengeratkan pegangannya pada setir mobil. “Aku yakin, Sung Jae membawanya kemari.” Dave berucap sedikit ragu, tapi ia memang mengikuti kata hatinya. Biasanya feeling-nya selalu benar. Semoga saja untuk sekarang feeling-nya itu tidak melenceng.

 

 

.

.

 

 

Jae In hanya duduk berdiam diri di kursinya. Sung Jae mengikat tangannya dengan tali, tapi Jae In tak memberontak sedikit pun. Menurutnya percuma saja memberontak karena teriakannya tidak akan di dengar oleh siapa pun, kecuali orang-orang di dekatnya ini. Ada keuntungannya juga untuk Jae In yang tidak memberontak, mulutnya jadi tidak perlu di tutup dengan lakban atau kain.

 

Selama perjalanan Sung Jae mengumpat kasar melihat reaksi Jae In yang tenang. Pria itu tak menyangka reaksi Jae In jauh berbeda dari ekspektasinya.

 

Sung Jae membawa Jae In menuju rumah yang terletak jauh dari keramaian kota. Pria itu keluar dari mobilnya, diikuti Jeremy. Jeremy membuka pintu Jae In. Menarik lengan gadis itu agar keluar dari sana. Jeremy menatap Jae In sebentar, sebelum melepaskan jaketnya untuk di sampirkan di bahu Jae In.

 

Tatapan Jae In berubah padanya. Gadis itu menatapnya penuh kebencian. Jeremy memang merasa bersalah, tapi ia tidak mungkin mundur dari pekerjaannya yang satu ini. Jujur Jeremy memang lebih nyaman bekerja dengan Kyuhyun dibanding Jung Ill Woo yang hanya bisa menambah dosanya. Namun ada satu alasan yang membuat Jeremy seperti ini. Pria tua itu pernah menolong pengobatan mendiang ibunya, sewaktu ibunya itu masih bekerja sebagai pembantu rumah tangga disana. Dan karena itulah Jeremy membalas budi Jung Ill Woo. Membantu rencana pria tua itu untuk melancarkan aksinya, walaupun ia sadar apa yang telah ia lakukan ini salah.

 

Jeremy menarik bahu Jae In hati-hati karena tahu gadis di sampingnya sedang hamil. “Kau bukan Jeremy yang ku kenal!” Desis Jae In. Jeremy diam. Membiarkan gadis itu mengeluarkan unek-uneknya. Kenyataannya memang seperti itu. Jeremy bahkan seperti tidak mengenali dirinya sendiri.

 

Jeremy membawa Jae In memasuki sebuah kamar. Ruangan itu terletak di lantai atas dan berada di pojok ruangan. Jeremy memutar kunci pintu di depannya, membukanya, lalu sedikit mendorong bahu Jae In untuk masuk kedalam sana.

 

Jae In mendesis kesal, membalikkan tubuhnya dan mendapati pintu itu kembali tertutup rapat. “Sialan kau Jeremy! Buka pintunya!!”

 

Krek

 

Pintu terbuka dan menampilkan tubuh Sung Jae berdiri menjulang di depan tubuhnya. Jae In melirik ke sisi tubuh Sung Jae, berharap semoga ia bisa keluar. Namun Jae In sudah meringis duluan melihat pria-pria bertubuh kekar diluar sana.

 

“Berniat kabur, nona?”

 

Sung Jae melangkahkan kakinya dengan pintu yang sengaja di hentakkan. Salah satu tangannya membawa sebuah tali berwarna putih. Kepala Jae In terasa pening memikirkan hal buruk yang akan pria itu lakukan. Apa Sung Jae akan mengikat lehernya di dalam kamar ini?

 

“Sung jae-ssi, kumohon biarkan aku pergi!” suara Jae In terdengar bergetar. Gadis itu berusaha berjalan mundur hingga kakinya menabrak dinding kokoh di belakangnya. Jae In menoleh, dan menemukan jendela yang terbuka, tapi harapannya untuk kabur menciut setelah melihat besi-besi besar yang menghalangi jalan keluarnya.

 

Brakk

 

Sung Jae menarik kakinya hingga dentuman keras itu tak bisa dihindari. Jae In meringis kesakitan sembari memegang perutnya yang terasa keram. Mungkinkah bayinya merasa ketakutan sama seperti dirinya?

 

“Demi tuhan, Kau pria paling keji yang pernah ku kenal!” Bentak Jae In. Mata Sung Jae menyalang marah, dengan senyuman sinis menghiasi bibirnya.

 

“Katakan, berapa banyak pria jahat diluar sana yang pernah kau temui hah?”

 

“Kau bilang aku pria paling keji, kau tidak melihat jika ayahmu lah yang paling keji!”

 

Jae In tak terima dengan ucapan Sung Jae, tangannya terangkat ingin menancapkan kuku panjangnya diwajah pria itu. Tapi Sung Jae berhasil menangkap pergelangan tangannya. Pria itu mengecup tangannya lalu mengusapnya. Jae In mengernyit jijik melihatnya. Tapi ia tidak bisa berkutik karena ia hanya sendiri disini. Jangan tanyakan Jeremy, pria itu bukan pria baik-baik.

 

“Apa yang kau inginkan?” Tanya Jae In pasrah.

 

Sung Jae menegakkan kepalanya. Tangannya terulur menyentuh pipi Jae In, menarik sejumput rambut kecokelatan Jae In, menggulung-gulungnya dengan kerlingan mata genit yang membuat Jae In mual.

 

“Kau dan… bayimu.”

 

“Katakan kau ingin yang mana, menikah denganku atau mati ditanganku..”

 

Jae In menyentuh perutnya, matanya memerah menahan tangis. Ia ingin menangis sekarang juga, tapi Jae In tidak ingin terlihat lemah dihadapan pria keji ini.

 

“Jika kau menikah denganku, otomatis bayimu juga selamat. Tapi jika kau memilih pilihan kedua kau dan bayimu tidak akan selamat. Sekarang aku sedang mencari cara untuk membunuhmu. Menggunakan pisau? Kurasa rasanya sangat sakit jika aku menusuk perutmu dan mungkin bagian dalam organ tubuhmu ikut tertarik keluar. Oh atau mungkin menggantung lehermu, rasanya tidak akan sakit, hanya rasa tercekik yang tidak tertahankan. Pilihan terakhir aku menembakmu tepat di jantungmu, kurasa itu pilihan terbaik.”

 

Dan Jae In tidak bisa membendung tangisannya. Tubuhnya bergetar, dan merosot jatuh. Wajahnya ia tutupi dengan tangannya, berusaha melindungi dirinya dengan cara seperti itu, walaupun sia-sia. Runtuh sudah pertahanannya selama ini.

 

“Tangisanmu tidak akan menghentikan aksiku.” Geram Sung Jae dingin. Berbeda dengan nalurinya yang merasa iba setelah mendengar isak tangis Jae In. Dengan langkah panjang, pria itu pergi meninggalkan Jae In, dan menutup pintu dengan dentuman yang cukup keras.

 

Jae In memejamkan matanya erat. Jika ini akhir dari hidupnya, apa yang bisa ia lakukan? Tidak ada pesan terakhir yang ia sampaikan ke Kyuhyun maupun keluarganya. Mungkin mayatnya tidak akan pernah ditemukan. Dan mengenai pilihan pertama, Jae In sudah pasti tidak akan menerimanya. Pria itu gila, psikopat! Jae In ingin keluar dari sini, tapi bagaimana caranya?

 

 

 

***

 

 

 

‘Kami menemukan keberadaan istri anda, tuan. Aku akan mengirim alamatnya.’

 

Kyuhyun langsung berdiri dari duduknya. Beberapa jam yang lalu, ia dan para sahabatnya berusaha mencari keberadaan Jae In tapi belum juga di temukan. Beruntung Kim Yoon Ho, pengawalnya yang satu ini berhasil menemukan keberadaan istrinya. Kyuhyun bahkan mengagumi kinerja laki-laki satu ini, jika dibandingkan dengan Jeremy, kinerja Kim Yoon Ho lebih bagus.

 

Awalnya, pria itu adalah pengawal baru yang berhasil melewati masa trainee-nya selama enam bulan. Dan Kyuhyun sangat bersyukur meloloskan Kim Yoon Ho. Selain, kinerjanya yang bagus, Kim Yoon Ho juga pandai memasak. Jika Kyuhyun tak salah ingat, laki-laki itu yang membantu istrinya membuat kue dihari ulang tahunnya.

 

“Aku menemukannya.”

 

“Benarkah?” Sahut Haneul yang saat ini duduk disamping Ahra. Mereka sedang berkumpul dirumah Daehwa, beristirahat setelah melalui hari panjang yang melelahkan bagi mereka.

 

Kyuhyun mengangguk dan memperlihatkan alamat yang dikirim Kim Yoon Ho.

 

“Tempatnya lumayan jauh dari sini.” Komentar Donghae dan mendapat anggukkan dari Eunhyuk, Ahra, dan Dave.

 

“Aku bisa datang lebih cepat.”

 

“Uwwoow.. aku tak meragukan kekhawatiranmu hingga mengancam nyawamu sendiri, Cho Kyuhyun!” Sindir Dave. Kyuhyun mendelikkan matanya pada kakak iparnya. Ia tak perlu sungkan pada pria itu karena umurnya pun tak jauh berbeda.

 

“Kalau begitu tunggu apa lagi.. ayo berangkat!” Seru Ahra tak sabar. Mereka segera bergegas menghampiri mobil masing-masing. Kyuhyun membawa mobil Audi milik kakaknya dengan Ahra duduk disampingnya dan Eunhyuk yang duduk di belakang. Sedangkan mobil satunya lagi Dave yang membawanya dengan Haneul di sampingnya dan Donghae di belakangnya.

 

“Siwon dan Go Ara menunggu kita di cafe terdekat.” Ucap Ahra sambil membaca sebuah pesan dari Siwon di ponselnya.

 

“Disaat keadaan genting seperti ini, masih bisanya mereka pergi berkencan.” Gerutu Eunhyuk merasa iri.

 

“Kenapa harus mengurus orang, kau sendiri kenapa tak mengencani calon istrimu!” Sinis Ahra.

 

“Aissshh.. Nuna, aku masih ingin bermain-main. Masih banyak wanita diluar sana yang ingin merasakan cumbuanku,, jadi aku memanfaatkannya dengan baik haha.”

 

“Cih, dasar playboy. Kasihan sekali nasib Dasom.”

 

Gelak tawa Eunhyuk membahana di dalam mobil itu. Sedangkan sang pengemudi tetap diam dan fokus pada jalanan dari pada harus meladeni sikap aneh sahabatnya itu. Kyuhyun melihat sebuah mobil lexus berwarna putih yang ia yakini mobil milik Siwon. Benar saja, jendela mobil itu terbuka dan menampakkan Ara yang melambaikan tangannya.

 

“Oh itu mereka.” Pekik Ahra.

 

Kyuhyun semakin mempercepat laju mobilnya. Para pengawalnya sudah berada disana dan bersembunyi. Ahra dan Eunhyuk berpegangan pada seatbelt-nya melihat bagaimana Kyuhyun membawa mobilnya 120 kilometer per jam. Gila memang di saat jalanan sedang ramai seperti ini, tapi Kyuhyun mengendarai mobilnya seperti orang kesetanan. Kedua orang itu berdoa semoga saja tidak ada polisi yang menilang mereka.

 

Mereka sampai 20 menit lebih cepat sampai di Daegu berkat keahlian mengemudi Kyuhyun. Mereka sampai di sebuah lapangan dengan alang-alang yang menghalangi jalan mereka. Kim Yoon Ho datang menghampirinya dan mulai memasuki mobilnya.

 

“Terus jalan kedapan, tuan. Jaraknya tak jauh dari sini.”

 

Kyuhyun mengikuti instruksi dari Yoon Ho tanpa berkata apa-apa lagi. Pria itu mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, diikuti dengan beberapa mobil di belakangnya.

 

Sesampainya disana, Kyuhyun menatap bangunan mewah dihadapannya dengan hati panas. Istrinya berada di dalam sana dan Kyuhyun harus bergerak cepat jika tidak ingin melihat istrinya kenapa-kenapa.

 

Beberapa pria bertubuh kekar melihat kedatangan mereka dengan sebuah pistol ditangannya. Para pengawal Kyuhyun dengan sigap menembak para pria bertubuh besar itu, sebelum berhasil melukai tubuh majikannya.

 

“Sebaiknya Nuna, Haneul, dan Ara tetap disini.” Ujar Kyuhyun.

 

Ahra menggeleng keras kepala, ia juga ingin menyelamatkan adik iparnya. “Kami tetap ikut.”

 

Kyuhyun menatap kakaknya jengah, lalu tatapannya beralih pada Eunhyuk. “Kau bisa menggunakan pistolmu dengan baik kan?” Eunhyuk mengangguk ragu. Kyuhyun keluar lebih dulu diikuti yang lainnya. Para pengawalnya berhasil melumpuhkan pria-pria bertubuh besar itu dengan sekali tembakan.

 

Dengan langkah lebar, Kyuhyun menerobos masuk melewati pintu besar berwarna colelat. Kedua orang laki-laki berbadan besar menghampirinya dan siap melayangkan tinjuan. Kyuhyun mengeluarkan pistolnya dari dalam saku celananya, menarik pelatuknya dan peluru itu berhasil menembus dada kedua pria itu.

 

Ketiga sahabatnya mulai berpencar mencari keberadaan Jae In. Ahra, Ara dan Haneul mengikuti Dave di belakangnya. Sesekali ketiga wanita itu berteriak ketakutan melihat perkelahian antara laki-laki itu.

 

Ternyata tak banyak yang bertugas menjaga rumah ini, jadi Kyuhyun bisa lebih leluasa masuk semakin dalam hingga ia berdiri di depan pintu kamar yang tertutup rapat. Terkunci.

 

Sial! Jae In pasti ada di dalam.

 

“Tuan..”

 

Kyuhyun menoleh dan rahangnya semakin mengeras melihat Jeremy berdiri tak jauh dari tempatnya berada. Pria itu menatapnya penuh penyesalan, yang malah membuat Kyuhyun muak dengan pria itu. Kyuhyun mengarahkan pistolnya hingga mengenai pergelangan kaki Jeremy. Seharusnya Jeremy bersyukur karena Kyuhyun tidak langsung membunuhnya.

 

Kyuhyun kembali melayangkan pistolnya pada knop pintu. Menembaknya hingga pintu itu rusak. Bibirnya mendesis geram, kedua tangannya terkepal disisi tubuhnya melihat pemandangan tak mengenakkan mata di depannya. Tanpa pikir panjang dan dengan langkah yang lebar, Kyuhyun menghampiri Sung Jae yang tepat berada di atas tubuh istrinya.

 

Kyuhyun tertawa sinis melihat raut kaget di wajah laki-laki itu. Dan sebuah tinjuan dari tangan kekar Kyuhyun berhasil melukai pipi Sung Jae. Pria bejat itu jatuh tersungkur dengan suara dentuman yang lumayan kencang. Kyuhyun segera menarik kerah kemeja Sung Jae, kembali melayangkan tinjuannya. Cih, Kyuhyun tak habis pikir jika pria yang berani menculik istrinya adalah pria lemah. Sung Jae tidak melawan sama sekali, pria itu hanya berusaha menghindar dari tinjuan Kyuhyun tapi selalu gagal karena Kyuhyun selalu berhasil menarik lehernya.

 

Jae In yang tiduran di atas ranjang dengan tangan terikat hanya bisa menyaksikan adegan itu dengan derai air mata yang mengalir. Tak lama Go Ara datang diikuti kakaknya, Haneul, Ahra, Siwon, Donghae, dan Eunhyuk.

 

Ahra dan Ara datang menghampirinya, kedua wanita itu membantu membukan tali yang mengikat pergelangan tangannya. Sedangkan Haneul membantu membukan tali yang mengikat kaki adiknya Jae In meringis kesakitan melihat pergelangan tangannya yang sedikit lecet.

 

“Astaga, Siwon-ah. Bantu aku! Kita harus membawa Jae In ke rumah sakit!” Teriak Ahra setelah melihat luka di sekitar leher Jae In. Sepertinya Sung Jae berhasil menggoreskan pisaunya di beberapa bagian tubuh gadis itu.

 

Kyuhyun segera menghentikan pukulannya setelah mendengar teriakan Ahra. “Biar aku saja. Kalian urus bajingan sialan ini!”

 

Kyuhyun bangkit berdiri dari atas tubuh Sung Jae. Bulir-bulir keringat dan bercak-bercak darah mengotori kemeja putihnya, tapi Kyuhyun tak memedulikan keadaannya karena selama dua hari ini ia sangat frustasi memikirkan keadaan istrinya dan calon bayinya.

 

Bibirnya semakin mendesis geram setelah melihat luka dileher istrinya dan genangan darah di atas seprai berwarna putih itu. Ternyata Sung Jae bukan hanya melukai leher Jae In, tapi juga di bagian pinggang, tangan, dan luka-luka memar lain di wajah cantik istrinya.

 

“Oppa..” Jae In langsung memeluk Kyuhyun dan menangis tersedu-sedu di dada suaminya.

 

Kyuhyun mengusap punggung Jae In, lalu membopong gadis itu, membawanya keluar dari ruangan itu. Belum berhasil ia melangkahkan kakinya keluar pintu. Bunyi tembakan yang begitu memekakkan telinga terdengar di belakangnya. Tapi Kyuhyun tidak merasakan benda panas itu berhasil melukai tubuhnya.

 

“Go Ara..” Bisik Jae In sebelum tatapan gadis itu mulai menghilang dan Jae In tak sadarkan diri.

 

Doorr

 

Hanya suara tembakan terakhir itulah yang Jae In ingat sebelum semuanya menjadi gelap.

 

 

 

***

 

 

 

Jae In mengerjapkan matanya, bau obat-obatan mulai memasuki indra penciumannya. Tanpa di beritahu, Jae In yakin jika mereka berada di tempat keramat. Yah rumah sakit.

 

Jae In tidak melihat siapa pun di ruangan itu. Kyuhyun maupun keluarganya tidak ada dimana-mana. Ruangan itu terasa sunyi tanpa adanya suara apa pun. Jae In berusaha untuk menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang sebelum suara Kyuhyun menginterupsi pergerakkannya.

 

“Jangan banyak bergerak, sayang.”

 

Kyuhyun tersenyum, menghampiri istrinya lalu mengecup leher Jae In, tepat di tempat luka itu berada. “Kemana orang-orang?” Tanya Jae In setelah Kyuhyun duduk di sampingnya.

 

Pria itu menatapnya intens dengan sebelah tangan mengusap kepalanya sayang. Matanya terlihat dingin melihat goresan luka di wajah Jae In.

 

“Mereka pergi makan siang, kecuali Siwon.”

 

Jae In mengangguk pelan. Matanya bergerak-gerak gelisah mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Ia melihat bagaimana Sung Jae mengarahkan sebuah pistol pada punggung Kyuhyun dan setelahnya Ara langsung melindungi Kyuhyun. Sungguh, selama ini Jae In selalu berpikiran buruk tentang Go Ara. Jae In jadi merasa sangat bersalah.

 

“Apa yang kau pikirkan?” Tanya Kyuhyun lembut.

 

Jae In mendongak, memegang pergelangan tangan Kyuhyun karena pria itu mengusap pipinya dengan ibu jarinya. “Go Ara.” Jawab Jae In jujur.

 

Wajah Kyuhyun berubah murung. Pria itu mengalihkan tatapannya dari Jae In. Memilih menjauh dari istrinya.

 

“Oppa marah padaku?” Gumam Jae In sedih.

 

Kyuhyun diam. Mata pria itu bergerak-gerak gelisah. Kemudian menggeleng.

 

“Aku… hanya merasa bersalah padanya.”

 

“Dimana dia sekarang?” Tanya Jae In was-was.

 

“Ruang ICU.”

 

Jae In menundukan wajahnya dalam. Setetes air mata turun membasahi pipinya. Sungguh, perilakumu tak bisa dimaafkan olehnya Park Jae In.

 

Kyuhyun menghampiri istrinya yang menangis terisak. “Hei.”

 

“Dia akan baik-baik saja, ulljima.” Ucap Kyuhyun lembut.

 

Jae In menggeleng, “Aku… selalu berprasangka buruk, nyatanya dia gadis yang baik.”

 

Kyuhyun memeluk tubuh bergetar Jae In. Mengusap kepalanya pelan. Kyuhyun mencium kening istrinya lalu mengusap perut istrinya.

 

“Dia baik-baik saja tak perlu khawatir. Kau tahu aku sangat bersyukur kau dan jagoan kecil kita baik-baik saja.” Goda Kyuhyun.

 

“Bayinya belum tentu laki-laki.” Bantah Jae In dengan rona merah dikedua pipinya. Dan sisa-sisa air mata di kedua pipi gadis itu membuat Kyuhyun gemas. Bibirnya mengecup pipi chubby Jae In dan berakhir di bibir.

 

“Berani bertaruh?”

 

Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya menggoda Jae In. Sejenak, mereka melupakan masalah yang baru saja mereka alami.

 

Jae In menanti lanjutan ucapan Kyuhyun. Ia begitu serius menunggu Kyuhyun hingga setelah kata itu terucap, Jae In tersedak air liurnya sendiri.

 

“Jika bayi itu perempuan aku akan menuruti apa pun kemauanmu, dan jika bayi itu laki-laki, aku ingin bayi itu memiliki 4 orang adik.”

 

“Kau gila, Oppa! Aku bukan induk kucing!”

 

 

 

***

 

 

 

Hari ke-4 Jae In sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit. Orang-orang terdekatnya dan keluarga Kyuhyun menunggu kepulangannya dengan kejutan yang membuat Jae In senang. Bagaimana tidak, rumah yang ia dan Kyuhyun tinggali di renovasi sedemikian rupa hingga membuat Jae In takjub.

 

Di taman terdapat beberapa kandang hewan-hewan peliharaannya. Anjingnya, Milo. Dan kedua kucingnya, Billy dan Lucy terlihat melompat-lompat berusaha mengambil bola yang diikat dengan tali. Jae In berlarian menghampiri hewan peliharaannya itu.

 

“Jangan berlari, sayang.” Seru Kyuhyun tapi tak diacuhkan Jae In.

 

Selama empat hari berada di rumah sakit, Jae In selalu merengek minta di pulangkan, dan dengan tegasnya Kyuhyun terus melarang Jae In dengan iming-iming akan memberikan istrinya itu kejutan jika menuruti perkataannya. Dan sekarang Jae In mengerti kejutan apa yang di berikan suami tampannya.

 

Beberapa sanak saudara berkumpul di satu meja besar yang atasnya terdapat berbagai macam makanan. Cho Ahra terlihat sibuk memanggang daging ditemani sang suami dan ibu mertua. Ibu Kyuhyun sesekali tertawa mendengar kalimat panjang yang dikeluarkan Nuri melalui sambungan telpon-nya. Ya, ibu tiri Jae In tidak bisa ikut pulang karena kondisinya yang sedang hamil tua. Sedangkan Daehwa berada di Korea sejak dua hari yang lalu. Ia begitu panik mendengar kasus penculikan putri semata wayangnya dan Daehwa berusaha meyakinkan istrinya jika mereka akan baik-baik saja.

 

“Kau tahu, putrimu terlihat benar-benar sehat. Kurasa ia tidak merasa trauma dan malah terlihat senang bisa menggendong kucing kesayangannya.” Kekeh Hana.

 

“Kecintaannya terhadap hewan patut diperhatikan, bagaimana jika nanti Kyuhyun cemburu haha.”

 

Hana tertawa dengan wajah menunduk setelah merasakan usapan tangan mungil di kakinya. Min Woo datang menghampirinya dengan kostum motif sapi dan potongan rambutnya yang sedikit botak.

 

“Anakku justru terlihat senang jika putrimu terus tersenyum dan tertawa jika di hadapkan dengan hewan dari pada suatu saat putrimu itu menangis, merenung, melamun, dan sulit didekati, itu malah membuat Kyuhyun khawatir.”

 

“Aigoo… Menantuku sangat mengagumkan.”

 

“Makanan sudah siap…” Teriak Ahra dengan sepiring besar berisi daging panggang di tangannya.

 

“Eoh, Nuri-ya acara sudah dimulai. Sayang sekali kau tidak ada disini, cepatlah lahirkan keturunan Park disana dan kembalilah ke Korea, arraseo.”

 

“Ne Ne halmeoni, annyeong.”

 

Hana mendelikan matanya pada ponselnya. Astaga, jika di perhatikan tingkah Nuri dan Jae In hampir mirip. Kemudian Hana tersenyum melihat cucu-nya memainkan kelinci milik Jae In yang baru di beli kemarin.

 

Mereka berkumpul di sebuah meja persegi panjang yang tersedia. Kyuhyun, Jae In memilih duduk si sebelah Daehwa yang duduk di kursi utama. Sahabat-sahabat Kyuhyun juga datang ditemani kekasih mereka.

 

“Jae In-ah, kau harus makan. Letakkan kucingmu itu.” Perintah Daehwa tegas. Jae In mengerjapkan matanya, tangannya malah semakin erat memeluk Lucy.

 

“Aku merindukannya.” Sahut Jae In keras kepala. Kyuhyun tersenyum tipis, sebelah tangannya ikut mengusap bulu-bulu halus kucing itu.

 

“Kau harus makan, biarkan kucing ini bermain.” Bujuk Kyuhyun.

 

Jae In menatap Kyuhyun dengan semburat merah yang menghiasi kedua pipinya. Jika suami tampannya yang berbicara Jae In menurutinya. Oh kau anak yang durhaka pada ayahmu Park Jae In.

 

“Cuci tanganmu.”

 

Kyuhyun menyodorkan sebuah rantang berisi air bersih dan mulai membasuh kedua tangan Jae In.

 

“Ah untuk pasangan yang baru saja mendapat musibah sudah bisa kembali tersenyum.” Goda Ahra.

 

“Aigoo, nuna… bahkan mereka sudah bisa bermesraan di dalam mobil tadi.” Sambung Eunhyuk.

 

“Jinjayo?”

 

“Aish, kalian! Jangan mengganggu menantuku, cepat makan.” Ujar Hana menengahi.

 

Suasana kembali hening karena mereka begitu sibuk dengan makanannya masing-masing. Hanya terdengar suara celotehan Min Woo yang diurus oleh baby sitter-nya.

 

Baru saja Jae In memasukkan sesendok daging panggang ke dalam mulutnya, perutnya bergejolak mual. Ia membekap mulutnya, lalu beranjak berlari menuju ke dalam rumah. Kyuhyun mengikutinya di belakang dengan tatapan khawatir. Setelah kejadian beberapa hari yang lalu, Kyuhyun selalu merasa khawatir jika terjadi sesuatu pada istrinya. Kyuhyun takut, jika Sung Jae berhasil membuat tubuh istrinya menjadi lemah. Apalagi Kyuhyun menemukan luka parah di beberapa tubuh istrinya itu. Beruntung Siwon langsung menembak tangan pria itu, setelah Go Ara tertembak di bagian perut. Walaupun luka yang diterima Sung Jae belum seberapa, tapi Kyuhyun bersyukur karena pria itu di penjara seumur hidup.

 

Kyuhyun mengusap punggung Jae In lembut. Sesekali ia merapikan rambut Jae In yang menutupi wajah gadisnya. “Oppa, jangan kemari.” Gerutu Jae In.

 

“Kenapa?”

 

“Aku terlihat menjijikan.” Sahut Jae In setelah berhasil menghilangkan rasa mualnya. Gadis itu belum berani membalikkan tubuhnya karena ia begitu malu untuk berhadapan dengan Kyuhyun. Namun, bahunya ditarik secara paksa dan Jae In melihat mata hazzle pria itu yang menatap matanya.

 

“Kau hamil anakku, kenapa aku harus jijik padamu, hmm? Setiap wanita hamil memang selalu seperti ini, mual, muntah-muntah, bahkan sifatnya kadang berubah-ubah…”

 

“Bentuk tubuh mereka juga, kan?”

 

Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya. “Ne..”

 

Jae In menunduk, menatap tangannya yang mengusap perutnya. “Jika aku gemuk, mungkin Oppa akan menyukai Go Ara.”

 

“Astaga, Jae In-ah… Go Ara sahabatku, mana mungkin aku menyukainya. Lagi pula kau tahu dia sedang kritis.”

 

Jae In merutuki ucapannya, ia berhasil menyulut kemarahan Kyuhyun. Kau terdengar sebagai pemeran antagonis Park Jae In! Mana bisa kau berburuk sangka pada gadis yang sedang kritis.

 

“Mian.”

 

“Tidak, kau tidak salah oke. Kajja, kita kembali kesana.”

 

“Tapi, aku tidak ingin makan.”

 

“Aku akan membuatkan omelete dan susu cokelat untukmu! Sekarang kembali kesana dan tunggu kedatanganku dan juga makananmu disana.”

 

“Anni, aku ingin melihat Oppa masak.”

 

Kyuhyun menggeram kesal, segera menarik kepala Jae In, lalu mengecup bibir gadis itu gemas membuat tubuh Jae In mundur karena Kyuhyun menekan tubuhnya, beruntung lengan pria itu berhasil menarik pinggangnya. “Pergi atau aku akan marah, Nyonya Cho.” Bisik Kyuhyun.

 

Jae In bukannya mendengarkan perintah Kyuhyun, malah melingkarkan lengannya di leher pria itu. “Poppo.”

 

Kyuhyun tertawa pelan, lalu menarik wajah Jae In, mencium seluruh wajah gadis itu. Hanya kecupan ringan, namun membuat Jae In mengerucutkan bibirnya.

 

“Wae?” tanya Kyuhyun polos.

 

“Mana ciuman yang biasanya?” Rajuk Jae In membuat Kyuhyun semakin usil mengerjai istrinya.

 

“Tadi sudah.”

 

“Oppa tidak mencintaiku lagi? Aku pasti terlihat jelek, Oppa jijik kan…Emmpphh….”

 

Kyuhyun membungkam mulut Jae In. Pria itu mengangkat pinggang ramping Jae In, mendudukkan gadis itu diatas meja dapur. Kyuhyun menghisap bibir bawah Jae In liar. Tangannya menahan punggung gadis itu agar tidak terjatuh. Kedua tangan mungil Jae In meremas kerah kemejanya. Disela-sela ciumannya, Kyuhyun tertawa pelan. Jae In berusaha melepaskan ciumannya.

 

“Aaakkhh….” Jae In mendesah lirih. Kyuhyun sengaja meremas dadanya keras. Ciuman pria itu mulai turun ke lehernya. Menghisap leher putih Jae In hingga menimbulkan bercak kemerahan di beberapa bagian.

 

“Astaga… Disini sangat panas!!!” Teriak Dave dari belakang tubuh Kyuhyun.

 

Kedua pipi Jae In memerah. Gadis itu menarik bahu Kyuhyun dan menyembunyikan wajahnya di leher pria itu. Kyuhyun menggeram marah, kepalanya menoleh kearah Dave yang mengambil minumam dari dalam lemari es.

 

“Kenapa?” Tanya Dave polos. Dan tawa pria itu meledak setelah melihat celana Kyuhyun yang mengetat.

 

“Hoho… Kau butuh penuntasan Cho Kyuhyun! Ah, jangan melakukannya terlalu keras, aku tidak mau adikku sakit karena hasratmu itu haha.” Canda Dave yang langsung meninggalkan tempat itu.

 

Kyuhyun menurunkan Jae In dari atas meja. Ibu jarinya mengusap bibir Jae In yang memerah. Gadis itu belum berani menegakkan kepalanya. Ia begitu malu ketahuan melakukan hal-hal yang tak senonoh dihadapan kakaknya. Walaupun sekarang statusnya adalah seorang istri, tapi Jae In tetap merasa malu.

 

Kyuhyun terkekeh geli. Jari telunjuknya menarik dagu Jae In. Kepalanya menunduk untuk mengecup kedua pipi Jae In yang memerah, dan terakhir di bibir gadis itu yang memerah karena ciuman mereka.

 

“Kembalilah ke halaman.”

 

Jae In memberengut kesal dan memukul dada Kyuhyun. “Aku terlalu malu menampakkan wajahku dihadapan mereka. Dave pasti menceritakan kejadian tadi pada mereka semua..” rengek Jae In.

 

“Tapi aku tidak tahan jika melihatmu disini. Kau tahu seminggu aku tidak menyentuhmu dan rasanya aku ingin memasukimu sekarang juga!” Gerutu Kyuhyun. Jae In meringis pelan mendengar ucapan Kyuhyun. Gadis itu lebih memilih duduk di kursi bar ditemani buah anggur kesukaannya.

 

“Biarkan aku disini. Aku tidak akan menggagumu. Jika kau merasa terganggu, tidak usah memasak! Biar saja aku dan calon bayinya kelaparan.” Sahut Jae In tak acuh.

 

Kyuhyun mendengus pelan dan lebih memilih menghiraukan keberadaan istrinya sebelum hasrat liarnya muncul lagi.

 

Jae In mulai melupakan buah kesukaannya. Gadis itu menopang dagunya dengan kedua tangannya. Sesekali ia tersenyum melihat punggung Kyuhyun yang sibuk memasak omelete. Pria itu terlihat seksi dan berkali-kali lipat lebih tampan jika sedang memasak.

 

Kyuhyun sudah selesai dengan masakkannya dan beralih membuat susu untuk Jae In. Kali ini Kyuhyun berdiri menghadapnya. Pria itu terlalu fokus pada kerjaannya hingga tak mengacuhkan Jae In. Bulir-bulir keringat membasahi dahi indah pria itu, dan Jae In ingin sekali menyekanya.

 

“Selesai.” Seru Kyuhyun

 

Jae In segera bangun dari duduknya. Sebelumnya ia mengambil selembar tisu. Kyuhyun mulai berjalan ke arahnya dengan sepiring omelet dan susu cokelat kesukaannya. Mereka berdiri berhadap-hadapan. Kyuhyun merasa bingung dengan tingkah istrinya. Jae In berdiri di depannya dengan senyum lebar dan mata yang mengerjap takjub. Kedua tangan gadis itu di sembuyikan di belakang tubuhnya.

 

“Aigoo… kau pria idaman.. aahh aku sangat bersyukur menikah denganmu…” seru Jae In tiba-tiba sambil memeluk Kyuhyun.

 

Kyuhyun diam, tak membalas pelukan istrinya karena kedua tangannya sedang repot saat ini. Kyuhyun memekik pelan merasakan tengkuknya sengaja di tarik ke bawah. Sebelah tangan gadis itu memeluk lehernya dan mulai mengusap wajah hingga lehernya yang penuh keringat.

 

“Gomawo.” Cicit Jae In pelan. Dan setelahnya Kyuhyun mendengar isak tangis istrinya.

 

Kyuhyun langsung menjauh dari tubuh Jae In untuk meletakkan makanan gadis itu. Kyuhyun kembali lagi lalu menggendong tubuh istrinya. Pria itu menarik kursi di dekatnya dan medudukkan gadis itu di pangkuannya.

 

Kyuhyun emosi ibu hamil memang selalu berubah-ubah, jadi ia hanya membiarkan istrinya menangis di bahunya. Selama di rumah sakit, Jae In tak pernah menangis karena kejadian yang dialaminya. Gadis itu malah menangisi orang lain yang saat ini sedang koma dirumah sakit, bukannya merasa trauma. Tapi setidaknya Kyuhyun bersyukur janin di dalam perut istrinya baik-baik saja.

 

Jae In menyeka cairan di hidungnya. Kedua pipi gadis itu mudah sekali memerah, yang malah membuat Kyuhyun gemas. Istrinya selalu terlihat menggemaskan, walaupun sedang menangis sekali pun.

 

“Aku takut.” Adu Jae In.

 

Kyuhyun tersenyum tipis lalu menarik rahang mungil istrinya dengan tangkupan kedua tangannya yang besar. Pria itu mengecup kedua mata Jae In yang masih mengeluarkan air mata. “Sekarang aku tidak akan pernah meninggalkanmu, dan kau tidak perlu takut lagi.”

 

“Arra.. Tapi waktu itu Sung Jae mengancamku, dia memberikan pilihan, katanya aku menikah dengannya atau mati ditangannya. Dia bahkan menjabarkan caranya membunuh orang, dengan pisau, digantung, di tembak..Aku sangat ketakutan bagaimana dia menjabarkan secara detail, apalagi tentang cara membunuhku dengan pisau. Pria itu akan menusuk perutnya hingga sebagian organ dalam… mmppfftthhh.”

 

Kyuhyun menarik tubuh Jae In semakin merapat ke tubuhnya. Ternyata gadis itu baru berani mengungkapkan ketakutannya sekarang. Ck, Kyuhyun harus menunggu selama empat hari lamanya untuk mendengar langsung kejadian itu dari mulut istrinya. Sungguh, hukuman yang diterima Sung Jae tak setimpal dengan penderitaan yang dialami istri dan calon bayinya. Kyuhyun ingin sekali membunuh pria itu.

 

Jae In mendorong bahu Kyuhyun menjauh. Gadis itu masih menundukkan wajahnya, sekarang bukan rasa takut lagi yang mendera Jae In, tapi rasa malu.

 

“Makan.”

 

Jae In memberengut kesal melihat posisinya sekarang. “Bagaimana aku bisa makan jika seperti ini.” Gerutu Jae In membuat Kyuhyun semakin gencar menjahili istrinya dengan semakin mempererat pelukannya di pinggang gadis itu.

 

Kyuhyun mengambil sesendok nasi beserta omelete-nya yang sudah dipotong. Kemudian pria itu menyuapkannya ke dalam mulut Jae In.

 

Jae In menerima suapan Kyuhyun tanpa berkata-kata lagi. Niat mereka yang ingin makan di taman batal karena Kyuhyun tetap menahannya disini. Sesekali pria itu mengambil sesendok makanan Jae In untuk dirinya sendiri. Kyuhyun tak menampik jika dirinya juga merasa lapar. Ia menyampingkan rasa laparnya itu demi istri dan calon bayinya.

 

“Ayo kesana..” Ajak Jae In setelah makanan satu porsi itu habis dimakan mereka berdua.

 

Jae In menerima gelas berisi susu cokelatnya yang diberikan Kyuhyun. Gadis itu meminumnya hingga isinya sisa setengah. Kyuhyun tersenyum geli melihat sisa susu yang menempel di hidung dan bibir istrinya. Pria itu mengusapnya dengan ibu jarinya, lalu mengecup hidung mungil gadis itu.

 

Kyuhyun menurunkan Jae In dari pangkuannya. Kemudian meletakkan piring kotor itu ke westafle. Jae In mengikuti Kyuhyun di belakangnya sembari menarik-narik t-shirt hitam yang dikenakan Kyuhyun.

 

“Wae?” Kyuhyun sudah membalikan tubuhnya dengan wajah yang sengaja dibuat garang.

 

“Oppa… aku ingin memelihara panda.”

 

“Mwo!!”

 

 

 

***

 

 

 

Hoeekk  Hoooeek…

 

Kyuhyun beranjak dari duduknya, ia berlari menghampiri istrinya yang terlihat pucat. Tangannya dengan cekatan memijat tengkuk Jae In, sesekali mengusap punggung istrinya.

 

Jae In membasuh wajahnya setelah yakin rasa mual itu perlahan sedikit menghilang. Matanya menatap Kyuhyun yang saat ini berdiri dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada, pinggang yang menyandar pada pinggiran westafle dan tatapan tajam penuh intimidasi terarah padanya. Sepertinya Kyuhyun akan mengeluarkan emosinya, walaupun Jae In sendiri tak yakin karena ia tahu Kyuhyun adalah orang yang sangat pintar menyembunyikan isi hatinya.

 

“Aku sudah melarangmu untuk mandi malam, dan kau lihat akibatnya!” Cetus Kyuhyun dingin.

 

Jae In menunduk sambil menggigit bibirnya, sungguh dari dulu Jae In sangat takut pada laki-laki yang suka marah. Menurutnya mereka terlihat menyeramkan lebih seram dari hantu-hantu di luar sana.

 

“Ini sudah biasa dialami ibu hamil, oppa.” Bisiknya pelan.

 

Kyuhyun memejamkan matanya erat. Berusaha mengontrol emosinya yang akhir-akhir ini selalu meledak, terlebih lagi jika itu menyangkut kesehatan istrinya.

 

Kyuhyun menggeram, menarik kepala Jae In lalu mengecup puncak kepala istrinya. Setelahnya ia mengangkat pinggang Jae In, membawa gadis itu kedalam gendongannya. Kedua kaki Jae In melingkari pinggang Kyuhyun, kedua lengan gadis itu melingkari lehernya dengan wajah yang di letakkan di atas bahu Kyuhyun.

 

“Kau tahu apa alasan aku selalu marah?” Tanya Kyuhyun. Jae In menggeleng pelan.

 

“Sifatmu yang susah diatur ini. Terkadang kau tidak mendengarkan perintahku, itu membuatku sakit kepala.” Kyuhyun tidak benar-benar mengatakannya. Ia hanya merasa frustasi jika Jae In berani melanggar perintahnya.

 

“Oppa… aku ingin melihat… Go Ara.” Volume suara Jae In semakin mengecil diakhir kalimatnya.

 

“Inikah alasanmu mandi malam? Kita bisa menjenguknya besok.” Gerutu Kyuhyun. Jae In merenggut dan mulai melepaskan lingkaran lengannya di leher Kyuhyun hingga sebelah tangan Kyuhyun harus menahan punggung Jae In.

 

“Kau bisa terjatuh, sayang.” Ujar Kyuhyun sabar.

 

“Oh, Oppa… waktu cuti-ku sudah habis.” Seru Jae In tiba-tiba.

 

“Jadi, besok kau masuk kuliah?”

 

Jae In mengangguk semangat. “Jam berapa mulai pelajaran?”

 

“Jam 10 pagi.”

 

“Besok ku antar..”

 

“Anni, besok kau kerja..”

 

“Kau bilang ingin menjenguk Go Ara? Besok pagi kita pergi ke rumah sakit, sekarang waktunya untuk istirahat, arraseo. Ah, aku bisa masuk kantor lebih siang.”

 

Jae In menepuk bahu Kyuhyun kencang. “Mana bisa begitu! Kau ini seorang atasan, seharusnya kau memberikan contoh yang baik untuk karyawanmu!”

 

“Hanya sekali menuruti keinginan istriku, mereka pasti mengerti.”

 

“Ini bukan keinginanku!” Bantah Jae In membuat Kyuhyun mendelik kesal.

 

“Aku hanya ingin berlama-lama dengan istri dan bayi kita.”

 

Jae In ketawa cekikikan seraya mencubit kedua pipi Kyuhyun yang terdapat lubang-lubang seperti bulan. Sesekali gadis itu menusuk-nusuk pipi Kyuhyun dengan jari telunjuknya bagaikan mainan.

 

“Oppa.. kau belum menuruti keinginanku.”

 

Kyuhyun menurunkan Jae In cepat. Pria itu melangkah pergi menjauhi istrinya. Jae In kembali meminta hal aneh padanya. Sungguh, Kyuhyun tak bisa memikirkan kedepannya setelah anak mereka lahir. Apa keinginan istrinya itu terus berlanjut jika anak-anak mereka sudah besar. Dan bagaimana dengam calon bayinya sekarang? Apa lebih aneh dari ibunya? Kenapa Jae In nyidam seperti itu! Memelihara panda, yang benar saja. Kenapa tidak sekalian saja memelihara Singa, Buaya, atau mungkin beruang kutub! Jika terus seperti itu rumah Kyuhyun bisa beralih menjadi kebun binatang!

 

“Oppaaaa!!” Teriakan Jae In terdengar membahana membuat Dave dan Daehwa yang duduk di  ruang tamu beranjak cepat merasa khawatir.

 

Namun setelahnya yang didapati adalah wajah kusut Kyuhyun yang berjalan menuruni tangga sembari mengacak rambutnya gusar.

 

“Siabeoji, kenapa putrimu suka sekali memelihara binatang.” Rajuk Kyuhyun.

 

“Apalagi yang diinginkannya?” Tanya Dave.

 

“Panda.”

 

“Kau akan membelikannya?” Tanya Daehwa kalem.

 

Kyuhyun menggeleng lemah. Panda bukan hewan berbadan kecil yang bisa Jae In gendong-gendong seperti Billy dan Lucy. Hewan itu akan bertumbuh besar seiring berjalannya waktu. Ketiga pria itu pasti tidak akan menuruti kemauan wanita kesayangan mereka.

 

“Kalau begitu jangan di belikan.”

 

“Ne.”

 

“Kyuhyun-ah, besok Appa kembali ke Jepang.” Ujar Dave.

 

“Secepat itu?” Tanya Kyuhyun.

 

“Nuri disana sendirian. Dia pasti merasa kesepian tanpaku.” Canda Daehwa.

 

“Lagipula sekarang aku tidak perlu khawatir lagi dengan putri kesayanganku. Dia sudah memilikimu sebagai suaminya. Yah walaupun sifatnya lebih parah dari sebelumnya. Ia menjadi lebih manja. Dan itu membuatku merasa cemburu padamu. Ah, kau harus menjaganya baik-baik jangan sampai membuatnya menangis, arra.”

 

“Ne siabeoji.”

 

“Appaaa… aku ingin Panda.” Teriak Jae In sambil berlarian dengan ponsel di tangannya. Gadis itu menunjukkan sebuah video kerumunan anak panda ke hadapan ayahnya.

 

“Kau ingin binatang itu atau seluruh binatang kesayanganmu Appa jual!”

 

“Appa..”

 

“Mungkin suamimu juga akan Appa jual.” Canda Dave.

 

“Tidak mungkin.” Gertak Jae In.

 

“Kalau begitu berhenti meminta hewan itu!” Kali ini Kyuhyun yang membuka suara dan menampilkan wajah garang yang berhasil membuat Jae In mengangguk pasrah.

 

Kyuhyun melirik jam dinding yang terletak di atas meja kecil. Pria itu berjalan menghampiri istrinya yang duduk di samping mertuanya dengan wajah merengut kesal. “Sekarang waktunya tidur, Nyonya Cho.”

 

Jae In memekik tertahan saat tubuhnya diangkat oleh Kyuhyun. Pria itu membopong tubuhnya tanpa kesusahan sedikit pun. “Jaljayo Siabeoji..” Ucap Kyuhyun sebelum meninggalkan kedua orang disana.

 

“Yak, kau hanya mengucapkannya untuk Appa? Kau tidak mengucapkan selamat malam untukku?” Teriak Dave gusar.

 

“Minta saja pada Haneul!” Balas Kyuhyun tak acuh.

 

Kyuhyun membuka pintu dihadapannya dengan kakinya. Sesekali pria itu mengecup dahi Jae In dengan tekanan lembut. Gadis itu memeluk leher Kyuhyun sembari menyembunyikan wajahnya di cekungan leher Kyuhyun. Pria itu mulai membaringkan tubuh Jae In diatas ranjang, namun gadis itu belum melepaskan rangkulan tangannya dileher Kyuhyun.

 

“Lepas.”

 

Jae In malah semakin mengeratkan pelukannya. Gadis itu tersenyum jahil sembari menatap wajah jengah Kyuhyun yang berada diatasnya.

 

“Night kiss..” Pinta Jae In.

 

Kyuhyun terkekeh geli. Usia kehamilan Jae In baru sebulan lebih, tapi lihatlah sifat gadis itu yang berubah menjadi lebih mesum dari biasanya.

 

Kyuhyun menopang tubuhnya denga kesua siku yang diletakkan di samping kepala Jae In. Ia menurunkan sedikit tubuhnya, lalu mendaratkan bibirnya ke dahi Jae In.

 

“Hanya disitu?” Ujar Jae In tak terima.

 

“Ingin dimana lagi? Aku tidak mungkin menyetubuhimu dengan kondisi seperti ini.”

 

Jae In mendorong bahu Kyuhyun kasar. Gadis itu mendelikkan matanya, kakinya menarik selimut bergambar sapi, lalu menutupi tubuhnya hingga kepala. Gadis itu tidur membelakangi Kyuhyun membuat pria itu semakin senang dengan reaksi Jae In sekarang.

 

“Kau tidak ingin ciuman dariku?” Goda Kyuhyun.

 

Jae In tetap pada pendiriannya. Gadis itu semakin mengeratkan pegangannya pada ujung selimut selama Kyuhyun menarik-narik selimut yang membungkus tubuhnya.

 

SRAKK

 

“Yakk!!” Pekik Jae In kaget. Kyuhyun tersenyum miring setelah berhasil menjauhkan selimut itu dari tubuh istrinya.

 

“Oh istriku ingin ciuman dariku.” Kekeh Kyuhyun.

 

Jae In mengalihkan tatapannya dari wajah Kyuhyun yang berada tepat di depan wajahnya. Gadis itu merutuki dirinya sendiri yang berubah mesum bahkan melebihi suaminya sendiri. Astaga ternyata kehamilannya membawa dampak buruk untuknya.

 

Bibir sensual Kyuhyun mulai menyapu pipinya, lalu mendarat tepat di bibirnya. Pria itu menciumnya penuh kelembutan, bukan ciuman panas seperti biasanya. Ciuman itu diakhiri dengan gigitan gemas pada bibir bawah Jae In.

 

“Akhh…”

 

Kyuhyun menjauhkan sedikit wajahnya. Sebelah tangannya mengusap rambut kecokelatan Jae In dengan sebelah tangannya lagi yang menopang tubuhnya.

 

“Jangan mendesah, sayang. Aku tidak ingin menyakiti bayinya.”

 

“Kalau begitu kenapa tidak melakukan ‘itu’? Baby Cho menginginkannya.”

 

“Park Jae In!”

 

 

To Be Continue

 

Apa ini!!! Aduh maaf kalo ceritanya makin absurd, aneh, gak seru, gak ada feel, kebangetan romance, atau semacemnya.. Udah ini aja dah… eh sedikit bocoran di part berikutnya.. akan ada masalah lagi… disini kasus Jung Ill Woo belum ketauan kan? Kita liat nanti Kyuhyun mau ngapain haha..

Terima kasih buat yang udah meluangkan waktunya buat meninggalkan jejak ^^

Advertisements

139 thoughts on “Young, Wild & Free Part 12

  1. Jae in sama kyu bener” cocok uyy, buat iri bgt this couple(O̷̴̷̴̯̐ .̮ O̷̴̷̴̯̐)
    Penasaran bgt sama kelanjutan romantisme mereka, keep writing thor 😉

    Like

  2. Syukurlah jae in cpet selamat…dan suk jae dipenjara…sekoga juga scptnya jung il wo ditangkap.

    jaein jaen ngidam kok aneh bgt yaah..haha

    Like

  3. Syukurlah jae in selamat . Semoga go ara cepet sadar dan pulih. Baru 1 bulan lebih aja udah minta panda gimana beberapa bulan kedepan’y ya ?? Lanjutkan thor

    Like

  4. Yeaay jaen in selamat..semoga go ara cepat pulih yaa

    Kyu sajang ! Aku jg mau pandaaa..hahahaha
    Luaar biasa sekali jae in keinginannya

    Pleaseee thor konfliknya jangan yg berat2 yaa..udah suka sama alur dan isi ceritanya..ringaaan dan enaaaak banget dibaca

    Hidup kyuhyun dan jae in ! Ayeey

    Like

  5. Lucu banget jaein kl lagi hamil malah minta di beliin panda lagi astagaa suaminya pusinggg wkwk
    Next chapt ditungguuu:*

    Like

  6. baca chapter yg in bikin ketawa,yang bener aj si jaein minta di beliin panda hahahhahahaha ampun dah permintaan aneh banget.bisa” rumah nya nanti berubah jadi kebun binatang hahhahahahahah sumpah kocak bgt…
    Ditunggunextnya

    Like

  7. Cara mengancam Dave lucu ya Si Kyu mau ikutan di jual :v
    hahaha…

    Nggak sabar pingen baca jadi ikut nempel di sini juga 😁 ditunggu nextnya eonni (9^0^)9 semangatt

    Like

  8. Jae In
    Jae In
    sejak menikah dia tambah mesum
    berkat ajaran suaminya hahahaha
    Kyuhyun lebih frustasi ngadepin kelakuan istrinya dibanding keadaan yang lain
    wow Jeremy gimana ya
    waaaah dia ituuu
    demi balas budi rela ngekhianatin Kyuhyun ckckck
    woaaah
    si Dave ganggu aja
    Dave Dave
    panas ya hohoho

    Like

  9. Semenjak menikah dengan kyuhyun tingkat kemesuman jae in semangkin bertambah aja ya

    Yaampun jae in minta di beliin panda, kalo bonekanya sih wajar tapi ini bener2 panda yang asli,,
    Sabar aja ya kyuhyun menghadapi bumil ini

    Like

  10. Ckck ajaran kyu nihhh yadong..

    Dughh say udah kerennn tpi pas grebek sungjae kurang gregett say,, soal’a terlalu mulus penyelamatan’a😂😂

    Yg lainn udahh kerenn sweet bnget kyuin’a..
    Btw jeremy???

    Like

  11. Kasian Ara masih kritis. Aku juga udah salah sangka sama Ara ehh taunya dia baik.
    Memang Kyu-Jae selalu gak tau tempat di mana mereka mesra-mesraan. Dave aja sampe negur hahaha XD
    Jae In makin aneh semenjak hamil. Masa minta panda buat dipelihara. Yang bener aja Jae astaga…… Sekalian buka kebun binatang aja kayak kata Kyuhyun

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s