Young, Wild & Free Part 13 END

PicsArt_05-07-09.52.07

Author             : mylovevil

Title                : Young, Wild & Free

Cast                 : Cho Kyuhyun, Park Jae In

Category         :  NC-21, married life, romance, Chapter.

Desclaimer      : sempet nge-down buat ngelanjutin ini ff. Alasannya cuman satu reader komen singkat tapi nyakitin.

THIS STORY IS MINE! DON’T TO BE A PLAGIATOR AND SILENT READER ^^

 

Sorry For Typo’s and Happy Reading ^^

 

 

 

***

 

 

“Oppa.” Pekik Jae In panik setelah melihat Kyuhyun beranjak menjauh darinya. Gadis itu menarik lengan Kyuhyun hingga pria itu terjatuh hampir menimpa tubuhnya.

 

“Astaga Park Jae In!” Teriak Kyuhyun gusar. Bagaimana tidak, gadis itu tetap memintanya untuk melakukan ‘itu’. Kyuhyun sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menyetubuhi istrinya di usia kehamilan yang masih sangat muda. Dan sekarang apa? Gadis itu memintanya.

 

“Hanya sekali eoh.” Tawar Jae In memelas.

 

Kyuhyun mencekal pergelangan tangan Jae In, lalu meletakkan kedua tangan istrinya di atas perut. Bibirnya mulai mengecup dahi gadis itu. Sialnya, salah satu lutut Jae In menyenggol pusat tubuhnya.

 

“Oppa juga menginginkannya? Dave tadi bilang celana Oppa..”

 

“Sialan! Oke aku mengaku kalah, kau puas!”

 

Jae In tersenyum miring. Kedua tangannya menarik tengkuk Kyuhyun. Bibirnya mulai menggapai bibir suaminya. Kyuhyun yang mendapati perlakuan seperti itu tidak bisa diam. Pria itu mulai mengambil alih ciuman itu dengan nafsunya yang meluap-luap.

 

Tangan Kyuhyun menelusup masuk ke dalam piyama Jae In. Dengan penuh kelembutan, Kyuhyun mengusap perut Jae In, seolah-olah meminta izin pada anaknya itu. Bibirnya menjelajahi rongga mulut Jae In semakin intim. Sesekali Jae In memukul bahu Kyuhyun, saat pria itu tak bisa mengontrol nafsunya. Dan saat itu Kyuhyun memberikan sedikit ruang untuk Jae In bernafas tanpa sedikit pun melepaskan ciumannya.

 

Kyuhyun segera melepaskan baju atasan milik Jae In beserta branya. Pria itu menatap lapar kedua benda kenyal milik istrinya. Seminggu lebih Kyuhyun tidak menyentuhnya dan ukurannya sedikit lebih berisi dari terakhir yang ia lihat. Mulutnya mulai menelusuri leher putih jae In. Mengecup, menghisap, atau pun menggigit leher Jae In hingga menimbulkan bercak kemerahan. Ciuman Kyuhyun terus turun menuju puncak payudara istrinya. Memainkan puting kemerahan itu yang terlihat menegang, membuat sang empunya refleks merintih menahan nikmat sekaligus perih saat Kyuhyun mulai menggigit renggang dadanya.

 

“Katakan jika sakit, aku akan menghentikannya.” Bisik Kyuhyun dengan suara yang terdengar serak.

 

Tangan pria itu kembali bergerak melepaskan celana Jae In beserta dalaman gadis itu. Sesaat Jae In merasa malu dengan ketelanjangannya. Dirinya sudah terlihat acak-acakan, sedangkan Kyuhyun? Pria itu masih menggunakan pakaiannya, hanya rambutnya saja yang terlihat acak-acakan dan bibirnya yang semakin memerah.

 

“Euunghh… Opppaaahh…” Jae In mendesah hebat saat kedua jari milik Kyuhyun mulai memasuki kewanitaannya dan menggerakkannya dengan teratur. Mata tajam pria itu mengamati wajah Jae In yang meringis menahan sakit. Sesekali bibirnya mengecup perut Jae In.

 

Puncak itu tiba. Jae In mengeluarkan cairannya dengan kedua jari Kyuhyun tetap berada disana. Kyuhyun berdiri dengan lututnya untuk melepaskan seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya. Semburat rona kemerahan menghiasi kedua pipi Jae In setelah melihat alat kelamin Kyuhyun yang menegang sempurna.

 

Gadis itu memejamkan matanya erat-erat, menanti kejantanan Kyuhyun memasuki tubuhnya. Tapi itu belum terjadi, Jae In malah merasakan usapan ringan di pipinya. Perlahan, Jae In membuka matanya. Menatap mata Kyuhyun yang menatapnya penuh kelembutan. Pria itu seperti mengerti rasa gelisahnya. Jae In memang sedikit ngeri membayangkan percintaan pertama mereka. Rasa sakit yang tak tertahankan di daerah kemaluannya.

 

“Kau takut?”

 

Jae In mengangguk pelan, dan mulai menggigit bibir bawahnya. Bibir Kyuhyun mengambil alih bibir bawahnya yang tadi ia gigit. Kyuhyun menghisap bibir bawahnya, setelahnya pria itu mengusap bibirnya yang semakin memerah.

 

“Kita hentikan ini?”

 

“Anni!!” Jawab Jae In spontan. Ia merutuki dirinya sendiri. Jae In merasa seperti gadis jalang yang haus akan sentuhan. Nyatanya ia memang menginginkannya.

 

Kyuhyun tersenyum geli. Perlahan ia mulai memasuki Jae In dengan tekanan yang membuat Jae In harus menahan sakit. Kyuhyun menarik tungkai kaki Jae In agar melingkari pinggangnya. Pria itu mulai menggerakan pinggulnya dengan hati-hati. Dada Jae In yang sedari tadi bergerak karena gerakan pinggulnya tak luput dari kuluman bibirnya. Gadis itu berusaha menahan desahannya. Takut-takut jika suaranya terdengar sampai ke luar kamar.

 

Kyuhyun terus menggerakan pinggulnya dengan ritme pelan. Pria itu tak ingin istri dan calon bayinya kesakitan karena birahinya yang selalu meluap-luap itu. Mereka terus melakukannya hingga menjelang pagi diiringi dengan desahan sekaligus rintihan nikmat dari sepasang suami istri itu.

 

.

.

.

 

Jae In terbangun dari tidurnya. Gadis itu sedikit mendongakkan wajahnya demi melihat wajah tampan suaminya yang masih tertidur pulas. Sesekali jari-jari lentik Jae In menyentuh jakun Kyuhyun yang terlihat seperti mainan untuknya.

 

Pria itu tak merasa terusik sedikit pun, Kyuhyun malah semakin mengeratkan pelukannya membuat Jae In sedikit kesulitan bernafas. Jae In tidak tinggal diam, ia mencubit lengan Kyuhyun yang melingkari bahunya. Pria itu melenguh pelan, namun tidak membuka matanya.

 

“Oppa ireona…” Bisik Jae In gemas.

 

“Ini masih sangat pagi sayang..” Balas Kyuhyun malas.

 

Jae In terkikik pelan, lalu mencubit lengan Kyuhyun bertubi-tubi. “Akh.. hentikan sayang, itu sakit!” Pekik Kyuhyun kesakitan. Mata pria itu sedikit terbuka, berusaha menyesuaikan cahaya di sekitarnya.

 

“Kau bilang ingin menemaniku menjenguk Go Ara?” Gerutu Jae In.

 

“Sepagi ini? Kita bisa pergi nanti siang.”

 

Jae In kembali mencubit lengan Kyuhyun lebih kencang. “Oppa, aku ada kelas siang nanti! Cepat bangun!”

 

“Jam berapa sekarang?” Kyuhyun bukannya menuruti perintah sang istri malah menanyakan jam.

 

“10 pagi.”

 

“Apa? Astaga, apa ayahmu sudah berangkat?” Pekik Kyuhyun panik. Ia buru-buru beranjak dari tidurnya dengan mata yang sengaja ia buka lebar-lebar walaupun masih terlihat mengantuk.

 

Jae In mengerutkan alisnya melihat reaksi Kyuhyun yang berlebihan. Gadis itu meletakan kedua tangannya didepan dada dengan ekspresi wajah menatap Kyuhyun penuh penilaian.

 

Kyuhyun memejamkan matanya sesaat. Beruntung Jae In sudah mengenakan pakaiannya. Jika tidak, Kyuhyun tak yakin bisa menahan dirinya lagi.

 

“Berangkat kemana? Kemarin Appa tidak menceritakan apa pun?”

 

“Tentu saja kembali ke Jepang, ia tidak mungkin meninggalkan ibumu sendirian disana.”

 

“Kenapa secepat itu? lagi pula kenapa mereka lebih memilih tinggal disana?” Jae In mengerucutkan bibirnya. Sekarang ayahnya berada jauh darinya. Dulu Jae In memang sudah terbiasa ditinggali ayah dan ibunya pergi ke berbagai negara. Sekarang entah kenapa, Jae In merasa berat hati berada jauh dari kedua orang tuanya itu.

 

“Bukankah mereka sering menghabiskan waktu di negeri sakura itu?”

 

“Itu dulu…” Jawab Jae In dengan wajah tertunduk. Ia merindukan waktu kebersamaan keluarganya.

 

“Setelah adikmu lahir, mereka pasti kembali ke sini, kau tenang saja.”

 

“Kapan? Sampai anakku juga lahir? Bagaimana bisa aku memiliki adik yang seumuran dengan anakku sendiri nantinya? Kenapa juga eomma hamil di usianya yang setua itu?”

 

Kyuhyun diam mendengarkan keluh kesah Jae In. Kemarin-kemarin gadis itu mempermasalahkan kondisi ibunya, tapi sekarang Jae In malah mempermasalahkan umur adik tirinya sendiri dengan anak mereka nanti.

 

“Aku juga ingin mereka membantu merawat anakku.” Adu Jae In.

 

Kyuhyun tersenyum tipis. Pria itu mencondongkan tubuhnya untuk mengusap rambut istrinya yang sedikit acak-acakan. Tatapan pria itu beralih menatap wajah Jae In yang terlihat murung.

 

“Kau pikir aku tidak mampu merawat anakku? Kita bisa merawatnya bersama-sama.”

 

Jae In mendongak. Menatap mata tajam Kyuhyun yang terlihat meyakinkan.

 

“Apa kita bisa melakukannya tanpa bantuan orang tua?” Tanya Jae In ragu.

 

“Masih ada eomma dan Ahra Nuna.” Jawab Kyuhyun serius.

 

Jae In mengerjapkan kedua bola matanya. Kemudian gadis itu tersenyum tipis sebelum mengecup bibir sensual Kyuhyun.

 

“Tidak lebih, Oppa.. Aku tidak ingin mual nantinya.” Cegah Jae In sebelum Kyuhyun berbuat lebih. Pria itu sudah menahan tengkuknya tapi tertahan karena kata-katanya barusan. Yang Jae In lihat sekarang adalah wajah masam Kyuhyun dengan bibir yang mencibir kesal.

 

“Pergilah mandi.. aku ingin membuat kopi untukmu.” Perintah Jae In yang tak langsung dituruti Kyuhyun. Pria itu tak bergeming dari tempat duduknya. Hanya diam memperhatikan Jae In dengan tatapan penuh intimidasinya.

 

Kedua sudut bibir Jae In berkedut geli. Kyuhyun marah padanya karena ia tak menuruti keinginan liar Kyuhyun. Jae In pasti melarang pria itu, karena setiap pagi ia benar-benar merasa mual, namun ia tahan.

 

Jae In memberanikan diri untuk duduk menyamping di pangkuan Kyuhyun. Kedua lengan mungil Jae In melingkari leher suaminya itu. Gadis itu sedikit menundukan wajahnya dan mulai memberikan kecupan ringan di seluruh wajah Kyuhyun. Awalnya Kyuhyun diam, namun semakin lama pria itu tak kuat menahan kegemasannya pada Jae In.

 

Kyuhyun memeluk pinggang Jae In dan melakukan hal yang sama seperti yang istrinya itu lakukan. Bedanya, Kyuhyun bermain lama-lama di bibir manis istrinya.

 

“Kopi tanpa gula..” Ucap Kyuhyun sembari mengusap kedua pipi Jae In yang memerah.

 

“Arraseo…”

 

Kyuhyun terkekeh geli melihat keantusiasan istrinya. Gadis itu melompat dari duduknya dan berlari menuju dapur. Kyuhyun segera beranjak dari duduknya, mengambil handuk berwarna putih dan berjalan santai ke dalam kamar mandi sambil bersenandung pelan.

 

.

.

 

“Aku pikir mereka tak sengaja melupakan kepergianmu ke Jepang, Appa.” Sinis Dave yang melihat kedatang Kyuhyun dan Jae In yang saling berpegangan tangan.

 

“Kami masih pengantin baru, jadi wajar. Jika kau merasa cemburu kenapa tidak segera menikahi Haneul sebelum gadis itu hamil?” Ejek Kyuhyun membuat wajah Daehwa memerah. Mungkin dalam hitungan detik pria tua itu akam murka.

 

“Kau melakukannya sebelum menikah? Dave Aguilar, aku tidak pernah mengajarimu seperti itu!!”

 

Benar saja. Jika nama lengkapnya sudah disebut seperti itu, Daehwa sedang sangat marah. Tapi Dave cukup pintar mengendalikan kemarahan ayah kesayangannya itu.

 

“Appa, aku selalu menggunakan pengaman saat melakukannya. Kau tenang saja, nanti akan ku buatkan cucu jika hubungan kami sudah sah di mata tuhan dan negara.”

 

“Kau pikir semudah itu membuat anak hah! Kau harus segera ku nikahkan! Aku akan mencari tanggal yang pas untuk kalian!” Ucap Daehwa tak terbantahkan. Pria tua itu berjalan cepat menuju mobil yang terparkir di halaman.

 

Dave terlihat mematung di depannya. Dan mulai tersadar setelah Kyuhyun menepuk pundaknya. Kyuhyun tersenyum senang melihat wajah menderita sahabatnya. Berbeda dengan Jae In yang terlihat bingung. Gadis itu masih bingung dengan perkataan ayahnya sendiri. Kakaknya akan menikah dengan sahatnya? Wah..

 

Sesampainya di bandara Incheon. Ekspresi Dave masih terlihat masam. Berbeda dengan Kyuhyun dan Jae In yang tersenyum senang, saling melontarkan candaan dengan Daehwa. Dave terlihat seperti seorang pesuruh daripada keluarga. Bagaimana tidak, pria itu membawakan koper hitam milik ayahnya sedangkan adiknya dan adik iparnya malah asik bercanda di depannya. Yang benar saja! Dia disini juga anaknya, bukan pembantunya.

 

“Jaga diri kalian baik-baik. Oh Jae In-ah kau harus banyak minum susu untuk bayimu, arra.”

 

“Ne appa..” Ujar Jae In patuh.

 

Tatapan pria tua itu beralih menatap putra sulungnya. Dave masih terlihat kesal. Tadinya pria itu tidak benar-benar ingin menikahkan Dave dengan Haneul. Tapi melihat ekspresi pria itu yang sedikit tertekan membuat Daehwa tak bisa menyembunyikan tawanya.

 

“Kau tak ingin mengucapkan kalimat perpisahan untuk ayahmu ini?” Goda Dave.

 

“Hati-hati dijalan, Appa.” Hanya itu kalimat yang diucapkan Dave. Daehwa tahu jika putra satu-satunya itu sudah marah akan sangat sulit untuk membuatnya kembali bersikap biasa. Jika sudah marah, Dave lebih memilih diam daripada berkoar-koar tidak jelas.

 

“Ya, jaga dirimu baik-baik. Kau harus menikah dengan Haneul secepatnya, Arra!” Dave mengangguk

 

“Aku pergi.”

 

“Eoh, sampaikan salamku untuk eomma, Appa.” Seru Jae In sebelum Daehwa benar-benar pergi. Gadis itu menatap punggung ayahnya dengan wajah sedih. ia kembali ditinggali ayahnya pergi jauh. Oh Jae In, ayahmu hanya kembali ke Jepang untuk menemani ibumu yang sedang hamil.

 

“Setelah ini kita pergi cari makanan.” Bisik Kyuhyun sembari mengusap bahu Jae In yang menegang kaku. Gadis itu menganggukkan wajahnya dengan kepala menunduk, dan membiarkan Kyuhyun menggiring tubuhnya pergi dari sana.

 

“Kau ingin ikut pergi makan bersama?” Tanya Kyuhyun dengan suara yang lumayan kencang, melihat sahabatnya yang sudah berjalan jauh di depannya. Dave mengangkat sebelah tangannya tanpa membalikkan badannya.

 

“Aku pulang duluan. Kau bawa mobilnya.” Dave melemparkan kunci mobil miliknya pada Kyuhyun. Beruntung Kyuhyun berhasil menangkap kunci mobil itu yang hampir mengenai tubuh istrinya.

 

“Dia kenapa?” Tanya Kyuhyun pada Jae In.

 

“Jangan hiraukan dia. Sekarang Dave butuh pencerahan dari Haneul.” Kekeh Jae In.

 

“Pencerahan apanya?”

 

“Kalian sesama laki-laki yang memiliki nafsu tinggi pasti tahu.” Bisik Jae In pelan. Kyuhyun tertawa geli mulai memahami maksud Jae In.

 

“Baiklah, Nyonya dan Little Cho, kalian ingin makan apa?” Tanya Kyuhyun sembari mengusap perut Jae In

 

“Makanan Jepang.” Jawab gadis itu semangat.

 

 

 

***

 

 

 

Setelah menghabiskan 5 buah kue dorayaki dan segelas teh hijau hangat, Jae In sangat antusias ingin menjenguk Go Ara yang masih koma di rumah sakit. Awalnya Kyuhyun menentang keiginan Jae In yang ingin kue manis itu. Tapi apa daya, Kyuhyun tidak akan bisa menolak jika Jae In sudah mengeluarkan jurus aegyo-nya.

 

Dan disinilah mereka, menunggu seseorang yang beberapa hari ini menjaga Go Ara di rumah sakit sekaligus bekerja. Choi Siwon, sepertinya pria itu sudah menetapkan hatinya pada gadis sebaik Go Ara. Ya, siapa pun pantas bahagia. Mungkin dulu Go Ara memang menyukai Kyuhyun, tapi nyatanya sejak kejadian itu, Go Ara bukannya memanfaatkan keadaan malah membantu menemukannya dengan tulus. Jae In merasa seperti tokoh perempuan antagonis, terkadang ia selalu melihat sifat orang dari wajahnya, dan selama itu pula ia selalu salah.

 

Pintu di hadapan mereka terbuka lebar hingga menampilkan Siwon dan Tuan Go. Kedua pria itu menatap Kyuhyun maupun Jae In dengan pandangan sedih.

 

“Seperti biasa. Aku tidak bisa memastikan kapan ia terbangun.” Ujar Siwon lirih.

 

Kyuhyun menghampiri pria itu, menepuk pelan pundaknya dan tersenyum tipis. “Kita hanya bisa berdoa semoga ia cepat pulih dari komanya.”

 

“Kau tidak bekerja?” Tanya Tuan Go pada Kyuhyun.

 

“Aku mengambil libur satu hari ini, Ahjussi.” Jawab Kyuhyun sopan.

 

“Dasar pengantin baru.” Goda pria tua itu.

 

“Ah kalau begitu aku pulang dulu, kebetulan ada kalian disini. Aku minta bantuan kalian untuk menjaga Go Ara sebentar. Aku ingin menjemput istriku kemari, aku janji tidak akan lama.” Pinta Tuan Go sebelum pergi. Siwon mendengus kesal. Pria tua itu belum mau menerimanya sebagai menantu mereka. Sudah berulang kali ia meyakinkan kedua orang tua Go Ara jika dirinya adalah pria baik-baik.

 

“Kenapa wajahmu seperti itu?” Selidik Kyuhyun. Siwon diam dan lebih memilih duduk di kursi deret berwarna biru tua.

 

“Gagal lagi?”

 

“Ya.” Siwon mengacak rambutnya gusar.

 

“Pria tua itu terlalu dingin, sangat susah didekati. Padahal aku belum menceritakan rasa tertarikku pada anaknya. Tapi, ia bersikap seolah tahu aku menyukai anaknya dan ia tidak menyukaiku.”

 

“Mungkin karena sikap aneh Oppa itu yang membuat Tuan Go tidak menyukaimu.” Celetuk Jae In.

 

“Benar, Paman Go menyukai laki-laki yang serius.” Sambung Kyuhyun.

 

Setelahnya wajah Siwon terlihat berseri-seri. Pria itu beranjak dari duduknya dengan semangat.

 

“Terima kasih. kalian benar-benar saudaraku yang terbaik. Ah, aku akan kembali bekerja. Kalian boleh menjenguknya..” Seru Siwon sebelum pergi meninggalkan Kyuhyun dan Jae In yang melongo melihat ekspresi Siwon yang kembali ceria.

 

“Tunggu apa lagi? Ayo masuk..” Pekik Jae In antusias.

 

Kyuhyun diam saja saat tangannya ditarik secara paksa oleh istrinya. Pria itu menghela nafasnya gusar. Kyuhyun sangat menyayangi Go Ara sebagai saudaranya, ia masih belum siap jika melihat wanita yang di sayanginya selain kakak, ibu dan istrinya, tidur begitu lama.

 

“Apa selama tidurnya ia diberi asupan makanan?” Tanya Jae In setelah berada di sisi tubuh Go Ara. Kyuhyun terkekeh pelan, lalu mengacak rambut Jae In gemas. “Ya, melalui selang NGT.” Jawab Kyuhyun.

 

“Kira-kira kapan ia bangun?” Jae In masih tetap pada posisinya.

 

“Apa mereka sudah mencoba menciumnya?” Ucapan polos itu sukses membuat Kyuhyun tertawa geli. Pria itu menarik pundak istrinya dan menatap mata kecokelatan Jae In. “Komik mana yang kau baca?”

 

“Semua anak kecil tahu dongeng itu.. Kau tidak tahu cerita putri salju?”

 

Kyuhyun mengerutkan alisnya. Astaga apa saja yang Kyuhyun lakukan semasa kecilnya?

 

“Lupakan!” Gerutu Jae In. Gdis itu memilih menjauh dari Kyuhyun dengan menduduki sebuah sofa berwarna panjang. Matanya menangkap sebuah majalah fashion. Wah, jiwa fashion-nya keluar setelah menemukan majalah itu. Sudah lama Jae In tidak mencuci matanya dengan pakaian-pakaian mewah. Biasanya hampir setiap hari Jae In membeli barang mewah. Tapi setelah menikah, secara tidak sadar, ia melupakan hoby menghambur-hamburkan uang itu.

 

Sepertinya ide bagus jika akhir pekan ini ia kembali berbelanja. Uang Kyuhyun tidak akan habis jika ia gunakan sebanyak-banyaknya. Pria itu seperti mesin penghasil uang. Mungkin jika bukan dirinya yang menjadi istri Kyuhyun, uang Kyuhyun akan habis, itu pun jika seorang gadis matrealistis. Lantas bagaimana nasibnya jika Kyuhyun menikahi gadis yang lebih cantik, dewasa, baik, dan mandiri?

 

Oh tidak Park Jae In. Kau lah istri sahnya! Kyuhyun tidak menikahi gadis lain, dia menikahimu. Camkan itu!

 

“Wae?” Tanya Kyuhyun setelah melihat gelengan kepala istrinya. Jae In sendiri hanya bisa tersenyum kikuk. Ternyata tanpa sadar, ia melakukan gerakan kecil dari pikirannya.

 

“Oppa.. kemarilah!” Perintah Jae In.

 

Kyuhyun menghampiri Jae In. Pria itu memilih duduk disamping istrinya dengan tatapan penasaran. “Kenapa?”

 

Jae In melirik tubuh Go Ara yang masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Kedua tangan mungilnya segera menarik rahang Kyuhyun dan memberikan kecupan ringan di bibir pria itu. “Apalagi yang kau inginkan?”

 

Kedua sudut bibir Kyuhyun berkedut geli. Ia sangat hafal dengan sikap Jae In yang tiba-tiba berubah sangat menggemaskan. Istrinya itu pasti menginginkan sesuatu. Yah, Kyuhyun pasti menurutinya jika keinginan itu mudah ia turuti. Tapi jika hewan liar atau semacamnya, ia tidak akan menurutinya.

 

“Aku ingin ini.” Jae In bukannya menunjuk salah satu gambar baju atau tas disana malah menggoyangkan majalah yang ia pegang. Besar kemungkinan bukan hanya satu pakaian atau tas, gadis itu ingin membeli lebih dari satu.

 

Kyuhyun menjawil hidung Jae In lengkap dengan kekehannya. Pria itu segera menarik majalah yang ada di genggaman Jae In dan mulai membuka halaman demi halaman. “Kau menginginkan ini?”

 

“Ya.”

 

“Apa imbalannya jika aku menuruti keinginanmu?” Tanya Kyuhyun jahil.

 

“Ciuman?”

 

“Baby Cho? Oppa ingin apa?”

 

Kyuhyun mengangkat pinggang istrinya sembari meremasnya membuat Jae In memekik pelan. Gadis itu sudah berada di pangkuan Kyuhyun dengan kedua lengan bertumpu di bahu pria itu. Jae In mendongakan wajahnya saat merasakan bibir lembut Kyuhyun menyentuh lehernya.

 

“Ciuman? Aku bisa kapan saja mendapatkannya.” Ujar Kyuhyun sembari mengusap punggung Jae In. Gadis itu memejamkan matanya karena tangan Kyuhyun menekan tubuhnya semakin rapat.

 

“Baby Cho? Sekarang aku sudah mendapatkannya.” Kyuhyun menjauhkan sedikit wajahnya. Pria itu terkekeh geli mendengar deru nafas berat Jae In.

 

“Aku hanya ingin kau selalu tersenyum seperti ini agar aku bisa menciummu sepuas-puasnya.” Kyuhyun menarik kedua sudut bibir Jae In hingga membentuk sebuah senyuman. Mata gadis itu nampak berkaca-kaca entah karena apa. Mungkin karena hormonnya yang selalu berubah-ubah.

 

“Astaga! Kalian pikir ini rumah kalian!” Siwon berteriak heboh melihat pemandangan tak lazim di depannya. Itu menurut Siwon, mungkin jika sahabat Kyuhyun atau orang tuanya yang melihat posisinya seperti ini sudah biasa. Mereka sangat tahu bagaimana sifat manja Jae In dan sifat dewasa Kyuhyun.

 

“Bisa-bisanya kalian bermesraan di ruangan seperti ini.” Seru Siwon galak.

 

“Kau semakin terlihat tua jika marah-marah seperti itu.” Kekeh Kyuhyun tak merasa bersalah sama sekali. Pria itu malah mengusap punggung istrinya dengan senyum mengejek. Jae In memeluk tubuhnya dengan menyembunyikan wajahnya di cekungan leher Kyuhyun.

 

“Sialan kau. Eoh, apa Jae In tidur?”

 

Kyuhyun sedikit mendongakan wajah Jae In. Ia mengusap pipi Jae In dengan ibu jarinya. Setelahnya tawa kecil keluar dari bibirnya saat melihat bibir istrinya yang sedikit terbuka. Kyuhyun mengecup bibir Jae In dengan tekanan yang kuat. Gadis itu tak terusik dari tidurnya malah memeluk pinggang Kyuhyun semakin erat.

 

“Kurasa kalian butuh tempat privat.” Sindir Siwon. Kyuhyun bangun dari duduknya sembari menggendong Jae In di depannya. Pria itu menahan beban tubuh Jae In dengan sebelah tangan yang memegang bokong dan tangan sebelahnya lagi ia gunakan untuk menahan punggung Jae In agar tidak jatuh.

 

“Terima kasih atas sarannya. Mungkin aku bisa menggunakan saranmu di lain waktu.” Sinis Kyuhyun yang langsung melenggang pergi melewati Siwon.

 

Sesampainya di rumah, Kyuhyun membawa tubuh istrinya memasuki kamar utama. Pria itu sedikit kesusahan membawa tubuh Jae In, bukan karena berat, tapi karena hembusan nafas gadis itu yang mengenai lehernya. Dia pria normal, hormonnya naik begitu cepat hanya karena hal-hal kecil seperti ini. Apalagi jika itu berkaitan dengan istrinya.

 

Ponselnya berdering didalam saku celananya. Pria itu mengumpat pelan sembari meletakan tubuh berisi Jae In ke atas ranjang. Ia melihat nama Dave tertera disana. Dahinya mengkerut, tidak biasanya Dave menelponnya di siang hari seperti ini.

 

Kyuhyun mendudukkan dirinya di samping tubuh Jae In dan mulai mengangkat panggilan mendadak sahabat sekaligus kakak iparnya itu.

 

“Halo.”

 

“Apa Jae In bersamamu?”

 

Kyuhyun menoleh kebelakang, menatap Jae In dengan dahi mengkerut dalam. “Ya.”

 

“Pastikan ia tidak melihat televisi.”

 

“Kenapa?”

 

“Pesawat yang ditumpangi ayah kecelakaan.”

 

“APA! Bagaimana bisa?”

 

“Aku sedang menuju bandara Incheon untuk meminta informasi lebih lanjut.”

 

“Aku akan kesana.”

 

“Tidak, kau tetap dirumah. Biar aku dan Haneul yang pergi, dan satu lagi, jangan beritahu Jae In masalah ini sebelum aku mendapatkan kepastian.”

 

“Arraseo.” Sahut Kyuhyun lemah.

 

“Oppa..” Kyuhyun memejamkan matanya erat. Bodoh, dirinya benar-benar bodoh. Ia tadi refleks berteriak karena panggilan tadi. Apa Jae In mendengar semuanya?

 

“Kau mau pergi kemana?” Tanya Jae In dengan mata yang masih setengah terpejam. Kyuhyun tersenyum tipis lalu mengusap dahi istrinya.

 

“Dapur, aku ingin membuatkanmu susu cokelat.”

 

Sepertinya kesadaran Jae In belum sepenuhnya pulih. Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya dengan mata yang kembali terpejam. Kyuhyun tersenyum tipis dan mulai menundukan tubuhnya. Matanya menatap wajah Jae In. “Mual?”

 

Jae In membuka matanya dan bertatapan langsung dengan mata elang suaminya. Gadis itu menggeleng pelan sembari memegangi kepalanya. “Hanya sedikit pusing.”

 

Tangan Kyuhyun refleks memijat kepala Jae In. Sesekali bibirnya mendarat sempurna di seluruh wajah istrinya. Tiba-tiba Jae In beranjak dari tidurnya, gadis itu menoleh ke segala arah mencari keberadaan jam hingga matanya menemukan ponsel Kyuhyun di samping paha laki-laki itu. Tangannya segera mengambil ponsel Kyuhyun lalu melihat waktu disana.

 

“Oppa, Aku sudah sangat telat.”

 

“Aku sudah meminta izin pada dosenmu.” Sahut Kyuhyun berbohong.

 

“Ne?”

 

“Aku juga sudah mengurus waktu cutimu.” Ujar Kyuhyun berbohong lagi. Pria itu memang berbohong, tapi ia akan benar-benar melakukan perkataannya secepatnya.

 

“Ne? Berapa lama?”

 

“Satu tahun.”

 

“Kenapa lama sekali? enam bulan saja. Aku tidak ingin ketinggalan pelajaran selama 2 semester.”

 

“Tidak. Satu tahun atau selamanya!” ucap Kyuhyun tegas.

 

“Kalau begitu aku tidak ingin mengandung anakmu. Hamili saja wanita lain..” Teriak Jae In frustasi.

 

Kyuhyun mengangakan mulutnya. Yang benar saja? Menghamili wanita lain?

 

“Park Jae In.”

 

“Mwo! Aku ingin pulang!” Jae In mulai merengek sembari menendang-nendang kaki Kyuhyun.

 

“Pulang kemana? Ini rumahmu, sayang.” Bujuk Kyuhyun.

 

“Aku ingin kerumah Appa!”

 

“Oke, hanya 6 bulan. Dengan satu syarat kau harus bisa lulus dengan hasil yang memuaskan, bagaimana?”

 

“Oke. Tapi, untuk beberapa bulan ini biarkan aku tetap melanjutkan kuliahku.” Jawab Jae In semangat. Ia pasti bisa mendapatkan nilai yang sempurna jika ia rajin belajar, ‘kan?

 

Kyuhyun tersenyum lebar melihat raut senang di wajah istrinya. Pria itu segera beranjak dari duduknya dan meninggalkan Jae In yang masih melamun. Pria itu terus berjalan menuju dapur dengan ponsel ditangannya. Kyuhyun menekan panggilan terakhir lalu meletakan ponsel itu di telinganya.

 

“Bagaimana?”

 

“Dari informasi yang ku dengar, pesawat yang ditumpangi Appa sengaja di tembak oleh orang tak dikenal. Beruntung kejadian ini terjadi di bandara Haneda, jadi pesawatnya hanya tergelincir.”

 

“Bagaimana dengan siabeoji.”

 

“Itu yang aku khawatirkan, Appa tidak bisa dihubungi, dan pihak bandara belum bisa memastikan berapa banyaknya korban jiwa.”

 

“Sepertinya aku mengerti inti masalah ini!” Desis Kyuhyun geram.

 

“Bisakah kau ke rumahku sekarang, ada yang ingin aku bicarakan, penting!”

 

“Baiklah, aku akan kesana.”

 

Sambungan terputus. Kyuhyun mengacak rambutnya gusar. Sungguh sialan Jung Ill Woo itu. Belum puas dia menghasut anak kandungnya sendiri, sekarang malah kembali berulah. Baiklah kita lihat seberapa hebat pria bejat itu menyembunyikan dirinya sendiri.

 

To: Kim Yoon Ho

‘Temui aku di ruang kerja sekarang’

 

Setelah mengirim pesan itu, Kyuhyun melempar ponselnya ke atas meja makan. Dia kembali berjalan menuju lemari es, mengambil sebotol air mineral dari sana dan langsung menenggaknya hingga air itu tersisa setengah botol. Setelahnya Kyuhyun berniat membuat segelas susu untuk Jae In. Pria itu mengerutkan keningnya. Istrinya itu belum juga keluar dari kamar?

 

Kyuhyun yang merasa khawatir segera menyelesaikan pekerjaannya. Pria itu meletakan gelas berisi susu ibu hamil di atas meja pantry. Baru saja ia memutar tubuhnya, Jae In datang dengan seekor kucing kesayangannya.

 

“Apa itu susu untukku?” Tanya Jae In.

 

“Hmm.” Kyuhyun menjawabnya dengan wajah datar. Sebenarnya pria itu masih kesal karena perkataannya dibantah, tapi Kyuhyun tahu ia tidak akan bisa berlama-lama marah pada istrinya.

 

Jae In mengangguk pelan lalu meminum susunya. Gadis itu sengaja membiarkan sisa-sisa susu itu mengotori atas bibirnya. Kemudian Jae In mendongakkan wajahnya dihadapan Kyuhyun. Gadis itu mengerjapkan matanya layaknya anak kucing. Jae In yakin jika saat ini Kyuhyun sedang menggigit pipi bagian dalamnya setelah melihat tingkahnya ini.

 

“Oppa tidak ingin menghapusnya?” Jae In menatap Kyuhyun sedih. Suaminya itu malah berkacak pinggang dan mengalihkan tatapannya dari dirinya.

 

Jae In merunduk sedih lalu menatap kucing kesayangannya yang bergelung manja padanya. “Sepertinnya Cho Appa marah,  Jae In Eomma harus bagaimana, Billy?” Setelahnya kucing Jae In melompat turun dan mulai berlarian menjauh dari Jae In. Jae In kembali melanjutkan minumnya. Kali ini ia berdiri membelakangi Kyuhyun. Biarlah pria itu marah.

 

Tubuhnya dibalik secara paksa. Matanya bertatapan dengan mata tajam suaminya yang menyeramkan. Gadis itu bergidik ngeri membayangkan perilaku jahat seorang pria. Dari berita yang ia lihat, pria lebih menyeramkan jika bertindak. Selama ini, ia memang belum pernah melihat marahnya Kyuhyun, selain tatapan tajam dan sifat pendiamnya.

 

“Sialan sekali bibirmu ini huh!”

 

Jae In mengerutkan alisnya. Kenapa dengan bibirnya? Ia tidak pernah berciuman dengan pria lain selain suami mesumnya ini. “Kau tahu apa kesalahanmu?” tanya Kyuhyun.

 

Jae In mengangguk. “Masalah cutiku tadi?”

 

Kyuhyun meraih pinggang Jae In dan membawanya menuju meja pantry. Tatapan pria itu mulai melembut. Sebelah tangannya beralih menyentuh rambut bergelombang Jae In. Kemudian ia memeluk tubuh istrinya. Kyuhyun menghirup rambut Jae In yang beraroma buah-buahan. Ia pasti akan sangat sangat merindukan istrinya ini. Setidaknya selama ia pergi nanti, akan ada Haneul, Dave, Ibunya, Ahra dan sahabatnya yang menjaga gadis di pelukannya ini.

 

Jae In menjauhkan dirinya dengan tenaga yang ia miliki. Kepalanya mendongak terlalu keatas membuat Jae In tanpa sadar memegangi lehernya. Kyuhyun terkekeh geli, ia menundukan badannya dengan kedua tangannya yang bertumpu pada pinggiran meja hingga wajahnya berada tepat di depan wajah Jae In.

 

“Oppa baik-baik saja?” Tanya Jae In khawatir. Kyuhyun memejamkan matanya saat menerima usapan halus dari tangan Jae In dipipinya.

 

“Aku akan pergi ke Jepang.”

 

Usapan Jae In pada pipi Kyuhyun terhenti. Gadis itu menatap suaminya penuh tanda tanya. Setelah ibu dan ayahnya yang pergi ke sana, sekarang suaminya. Oh Jae In rasanya ingin mati saja.

 

“Ada hal penting yang harus ku urus disana.”

 

“Apa itu masalah Jung Ill Woo?” Tanya Jae In tepat sasaran. Tapi Kyuhyun menggeleng, pria itu lantas mengecup bibir Jae In yang mengerucut, bahkan kedua mata wanita itu mulai berkaca-kaca.

 

“Tidak, bukan. Aku sedang membangun sebuah resort disana.” lagi-lagi Kyuhyun berbohong. Dia memang memiliki satu resort di pulau Hokaido, tapi resort itu sudah selesai ia bangun dua tahun yang lalu. Dan sekarang resort itu memiliki banyak pengunjung.

 

“Berarti kau akan bertemu dengan kedua orang tuaku?”

 

Kali ini Kyuhyun mengecup kedua mata Jae In. Kemudian pria itu mengangguk.

 

“Ingin kubelikan sesuatu?” Kyuhyun menyentuh rahang mungil Jae In dan sedikit mendongakan wajah gadisnya.

 

Hebatnya kali ini Jae In tidak mengutarakan keinginannya seperti biasa. Wanita itu hanya menggeleng lemah dan berusaha menjauhkan wajahnya dari tangan besar Kyuhyun. Air matanya jatuh turun membasahi sebelah pipinya. “Hei, aku tidak akan lama.” Kyuhyun kembali menarik wajah Jae In.

 

“Aku ingin ikut.”

 

“Tidak, sayang. Kau tetap di sini, ada Eomma, Ahra Nuna, sahabatku dan sahabatmu disini. Kau aman bersama mereka.”

 

“Kau yakin? Apa tidak akan ada lagi Sung Jae kedua?”

 

“Tidak akan ada!” Sahut Kyuhyun yakin. Pria itu sedikit menarik dagu Jae In lalu menciumnya penuh kelembutan. Tidak ada permainan lidah atau gigitan di bibir masing-masing. Mereka hanya saling mengecup.

 

“Maaf Tuan.”

 

Kyuhyun menjauhkan sedikit wajahnya, matanya melirik Kim Yoon Ho yang berdiri di tengah-tengah pintu dapur dengan pandangan bersalah. Jae In yang malu karena lagi-lagi kepergok pengawal malah menyembunyikan kepalanya di dada Kyuhyun sembari memegangi baju depan yang dikenakan pria itu.

 

“Tunggu aku diruang kerja!”

 

“Aku malu… sangat malu…..” Gerutu Jae In membuat Kyuhyun tertawa. Pria itu kembali memeluk tubuh Jae In sambil mengelus rambut panjang istrinya.

 

“Kenapa harus malu? Mereka pasti memakluminya karena kita ini suami istri.”

 

Jae In mendongak, menatap Kyuhyun dengan pandangan kesal, tapi kedua lengannya malah memeluk pinggang laki-laki itu erat. “Eii, jangan terlalu erat. Kasihan bayinya.” Kyuhyun sedikit menarik tubuh Jae In agar menjauh, tapi wanita itu malah memeluknya semakin erat.

 

“Baby G juga ingin memeluk Appa-nya.” Sahut Jae In disela-sela dada bidang Kyuhyun.

 

“Baby G?”

 

Jae In mendongak dengan senyum konyolnya. Gadis itu melompat turun dari meja pantry dan mulai berlarian menuju pintu. Kyuhyun mendesis geram membayangkan jika istrinya itu terjatuh.

 

“Kau baru saja melompat? Bagaimana jika Baby Cho sakit?”

 

“Dia baik-baik saja, Oppa. Oh namanya Baby G bukan Baby Cho.”

 

Kyuhyun menggeleng pelan. Entah dari mana julukan ‘Baby G’ yang diberikan Jae In untuk bayi mereka itu. mungkin diam-diam gadis itu sudah memiliki nama untuk bayi mereka nanti. Mungkin Kyuhyun akan menanyakannya nanti.

 

 

***

 

 

“Bisakah kau mencarikanku pengawal terbaik yang dimiliki negara ini?” Tanya Kyuhyun pada Kim Yoon Ho sembari membuka beberapa dokumen di hadapannya.

 

“Tentu Tuan. Berapa banyak yang anda butuhkan?”

 

“Aku akan memberitahunya nanti. Satu lagi, aku butuh pengawal-pengawal itu besok pagi. Kita harus pergi ke Jepang besok, dan kau… aku percayakan sebagai kepala pengawal mulai saat ini. Melihat kinerjamu yang bagus selama beberapa minggu ini, kuharap kau tidak seperti Jeremy.” Ucap Kyuhyun dengan nada datar di akhir kalimatnya.

 

“Ah sekarang tugasmu cari keberadaan Jung Ill Woo dan cari tahu jumlah anak buahnya disana. Kita juga membutuhkan beberapa orang dari jepang untuk membantu kita menghadapi Jung Ill Woo.”

 

“Baik, akan saya lakukan, Tuan Cho.”

 

“Ya, kau boleh pergi.”

 

Kim Yoon Ho beranjak dari duduknya lalu membungkuk hormat pada Kyuhyun. Tak lama, setelah tubuh Kim Yoon Ho menghilang dibalik pintu kerjanya, Dave datang.

 

“Ada apa?” Tanya Dave tanpa basa basi. Pria itu langsung mendudukan dirinya di kursi yang tersedia.

 

“Aku akan ke Jepang besok.” Sahut Kyuhyun.

 

“Apa? ke Jepang? Besok? Yang benar saja kenapa mendadak?” Pekik Dave histeris.

 

“Aku harus bergerak cepat sebelum Jung Ill Woo kembali bertindak. Aku yakin pelaku penembakan itu ulah anak buah Jung Ill Woo. Aku ingin menemuinya langsung dan memberikan sedikit peringatan.”

 

“Cho Kyuhyun jangan gila! Kau tahu sedang berhubungan dengan siapa sekarang. Jung Ill Woo mafia terbesar, dan kau tahu dia memiliki ratusan anak buah.”

 

Kyuhyun terkekeh geli. Mafia terbesar? Ia perlu memastikan hal itu sendiri. Kyuhyun ingin melihat bagaimana rupa pria tua itu. Kyuhyun juga ingin membuktikan seberapa hebatnya pria terkenal itu. “Aku tahu itu. Aku dan pengawalku sudah mengatur strategi dan kami juga bekerja sama dengan polisi disana. Dan aku memanggilmu kemari hanya ingin memberimu pilihan. Kau… Ikut ke Jepang atau tetap disini menjaga adikmu?”

 

“Kau memberikanku pilihan yang sulit.” Desah Dave.

 

“Pilih saja salah satu.” Jawab Kyuhyun santai.

 

“Siapa yang menjaga istrimu jika jika pergi?”

 

“Ada orang tua dan kakakku, ada Haneul juga, Eunhyuk dan Donghae. Mereka pasti bisa menjaga Jae In.” Jelas Kyuhyun

 

“Baiklah, aku ikut.”

 

“Kau mengambil pilihan yang tepat. Bagaimana kabar ayahmu?”

 

Dave menghela nafasnya berat. Ia belum mengetahui keadaan ayahnya pasca kecelakaan itu. Dave sudah berulang kali menghubungi ayahnya itu, tapi haslnya nihil. Tidak ada konfirmasi apa pun dari pihak bandara. Bahkan mereka belum mengetahui keadaan penumpang.. Aneh sekali.

 

“Semoga Siabeoji baik-baik saja.”

 

Ping

 

-Kim yoon Ho-

‘Aku sudah menemukan keberadaan Jung Ill Woo, tuan. Alamatnya sudah kukirim ke surelmu’

 

Kyuhyun tersenyum puas melihat kinerja pengawalnya yang satu ini. Seharusnya sejak dulu Kyuhyun memilih Kim Yoon Ho, bukan Jeremy yang jelas-jelas tidak berpihak padanya. Berbicara tentang Jeremy, selama kejadian itu, Kyuhyun tidak pernah mengetahui keadaan pria itu. Ia menyesal pernah menjadikan Jeremy sebagai pengawalnya. Menyesal pun percuma, semuanya sudah terjadi, beruntung Jae In tidak apa-apa, hanya luka ringan di sekujur tubuhnya. Jika saja Kyuhyun terlambat sedikit dan luka Jae In lebih parah, Kyuhyun pasti mematahkan leher para pria disana.

 

Di ruang tamu, Jae In dan Haneul sibuk memakan kue beras yang di beli Dave di jalan selama perjalanan menuju rumah Kyuhyun. Sesekali kedua gadis itu saling melontarkan candaan dan tertawa setelahnya. “Eii, sebelum tertawa sebaiknya telan dulu makanan kalian.”

 

Kedua gadis itu menoleh serempak ke arah Dave yang berjalan sembari terkekeh geli melihat kedua gadis kesayangannya. Kyuhyun berjalan di belakangnya membawa piring yang berisi berbagai macam buah. Jae In segera beranjak dan mengambil alih piring itu dari tangan Kyuhyun. Jae In mengambil sebutir anggur lalu memakannya. Kyuhyun menarik pinggang Jae In, kemudian menundukan sedikit wajahnya hingga bibirnya menyentuh sudut bibir istrinya.

 

“Manis.” Bisik Kyuhyun di telinga Jae In. Gadis itu mendorong bahu Kyuhyun dengan kedua pipinya yang bersemu merah.

 

“Pengantin baru memang menyebalkan.” Gerutu Dave.

 

“Kalau begitu cepatlah nikahi Haneul dan kau akan merasakan apa yang ku rasakan!” Sahut Kyuhyun. Kali ini Haenul yang menunduk malu. “Sialan kau.” Umpat dave.

 

“Oppa, apa yang kalian bicarakan?” Sela Haneul. Dave mengusap puncak kepala kekasihnya sembari tersenyum misterius.

 

“Aku akan pergi ke Jepang.” Jawab Dave.

 

“Dave juga?” Tanya Jae In terkejut. Matanya melirik suaminya yang sibuk memeluk pinggangnya dengan kepala yang terbenam di sela-sela lehernya. “Dia membantuku memantau projek disana.” Jawab Kyuhyun.

 

Jae In mengerutkan alisnya, tidak biasanya seperti ini, pikirnya. “Yah, kita bisa bersenang-senang selama mereka pergi, Jae In-ah.” Pekik Haneul berusaha membuat sahabatnya senang.

 

“Ya, kau benar. Aku bisa melirik namja tampan di kampus.” Canda Jae In membuat Kyuhyun spontan menegakkan tubuhnya.

 

Pria itu menggeram kesal dan berjalan mendekati Dave yang sudah duduk di sofa. “Awas saja jika kau berani, istriku. Aku akan mengurungmu di dalam rumah selamanya jika kau melakukan hal itu.”

 

“Aku tidak mendengarnyaaaa…”

 

 

 

***

 

 

 

3 hari kemudian

 

Kepergian Kyuhyun ke Jepang tidak membuat Jae In merasa kesepian. Gadis itu justru merasa bebas seperti dulu. Pergi berbelanja ditemani sahabatnya ditambah kakak iparnya. Kedatangan Ahra justru membuat Jae In senang. Ia jadi memiliki banyak teman untuk berbagi cerita. Mereka bertiga layaknya gadis SMA yang berbelanja kesana-kemari mengelilingi mall sesuka hati mereka.

 

Seperti saat ini, Jae In, Haneul, dan Ahra mencari beberapa pakaian yang menurut mereka cocok. Beruntung Kyuhyun memberikan kartu kreditnya untuk Jae In, jadi mereka bisa berbelanja sepuasnya.

 

“Halo.”

 

“Yakk, anak kurang ajar, kenapa lama sekali?? Kau tidak tahu anakmu terus-terusan menangis hah!!” Sembur Cho Hana begitu Ahra mengangkat panggilannya.

 

“Ne ne eomma, aku sebentar lagi pulang.” Jawab Ahra malas.

 

“Cepat! Kutunggu 10 menit dari sekarang!”

 

Tut

 

Ahra menatap ponselnya dengan wajah meringis. Ibunya jika sudah marah sangat menyeramkan.

 

“Kenapa eonni?” Tanya Jae In setelah membayar belanjaan mereka.

 

“Min Woo menangis.” Jawab Ahra.

 

“Ah, seharusnya kita ajak saja dia.”

 

“Andwae!!” Pekik Ahra dan Haneul serempak. Jae In mengangkat bahunya tak acuh dan berjalan di depan kedua orang itu.

 

Sesampainya di rumah Hana. Ahra lebih dulu turun dari mobil dan berlarian menuju rumah besar itu. Haneul yang turun belakangan harus bersusah payah mengeluarkan barang-barang mereka dibantu Jae In. Haneul memukul tangan Jae In saat gadis itu ingin mengambil semua barang-barang mereka dari dalam bagasi. “Biarkan aku saja, kau masuk saja ke dalam.”

 

“Mana bisa begitu.” Jae In tetap membantu Haneul. Tapi sahabatnya itu malah diam menatapnya.

 

“Wae?” Tanya Jae In.

 

Tiba-tiba Haneul menarik tangannya dan membawanya menjauhi mobil itu. Haneul teringat pesan Kyuhyun kalau Jae In tidak boleh merasa lelah sedikit pun, jadi dia tidak ingin mengambil resiko dimarahi pria dingin itu.

 

 

.

.

.

 

 

“Sampai kapan kita berdiam diri di sini?” Tanya Dave frustasi. Setelah mengetahui keadaan ayahnya yang tertembak di bagian kaki, Dave tidak bisa diam. Pria itu rasanya ingin membunuh Jung Ill Woo beserta anak buahnya detik itu juga.

 

Saat ini mereka berada di rumah sakit menemani ayahnya yang menjalani rawat inap. Kondisi ibunya memburuk setelah mengetahui kejadian itu. Beruntung kandungan ibunya baik-baik saja.

 

“Tunggu sampai pengawalku melihat pria tua itu keluar dari rumahnya.” Jawab Kyuhyun santai.

 

“Ya, sampai kapan? Sebulan? Dua bulan? Setahun?”

 

Kyuhyun menatap sinis sahabat cerewetnya itu. Ia mengarahkan laptop dipangkuannya pada dave. “Kau lihat? Ini rumah pria tua itu.” ucap Kyuhyun sembari menampilkan sebuah video di layar datar itu.

 

“Lalu?” Tanya Dave dengan dahi mengerut.

 

“Itu… itu diaaa….” Pekik Dave histeris.

 

“Tunggu apa lagi, ayo kita pergi…” Ucap Kyuhyun sambil meninggalkan laptopnya di atas sofa.

 

Kyuhyun segera mengambil mantelnya dan memakainya cepat. Tak lama, pintu kamar mandi terbuka dan daehwa keluar dari dalam sana sambil berpegangan pada kusen pintu. “Kalian mau pergi?” Tanya Daehwa penasaran.

 

“ya, ada urusan mendadak.” Jawab Kyuhyun sekenanya.

 

“Malam malam seperti ini?”

 

“Ya, Appa.. tiba-tiba saja aku ingin makan enak.” Jawab Dave bohong. Mereka sengaja tidak memberitahukan hal ini pada siapa pun, bahkan pada Daehwa.

 

“Baiklah hati-hati.”

 

“Kami pergi Appa.”

 

Ucap Dave sebelum pergi. Ibunya datang membawa nampan berisi makanan untuk Daehwa. Wanita itu menatap Kyuhyun dan Dave bingung. Tiba-tiba dave berlarian menghampirinya dan memeluknya erat lalu mengusap perutnya yang membesar. “Aku sayang kalian.”

 

Nuri mengernyitkan dahinya melihat kelakuan putranya yang aneh. Tapi setelahnya kernyitan itu menghilang digantikan senyuman lembut. “Kalian akan pergi?”

 

“Hmm. Kami pergi dulu, eomma.”

 

“Ne, hati-hati.”

 

Dave mengangguk dan berjalan melewati ibunya. Kyuhyun yang masih berdiri di belakang Dave mulai membungkuk hormat ke arah Nuri lalu berjalan mengikuti langkah Dave.

 

Mereka berjalan melewati lobi rumah sakit. Beberapa pengunjung disana menoleh dua kali untuk melihat Dave maupun Kyuhyun. Terlebih lagi para suster perempuan yang saling tersenyum setelah melihat Dave.

 

“Aku menyesal mengajakmu pergi.” Gerutu Kyuhyun.

 

“Kenapa? Ketampananmu terkalahkan olehku? Ayolah Cho Kyuhyun, mereka mungkin tidak biasa melihat pria blasteran sepertiku.” Sahut Dave tak acuh.

 

“Cih..” decak Kyuhyun geli.

 

Kyuhyun lebih memilih meninggalkan Dave dengan menaiki sebuah mobil van berwarna hitam. Kakak iparnya itu menggerutu marah kearahnya dan dibalas lirikan sinis dari Kyuhyun.

 

“Kita hanya bertiga?” Tanya Dave bingung karena ia tidak melihat rombongan pengawal Kyuhyun yang lain.

 

“Aku tidak mungkin menyuruh para pengawalku berkumpul di rumah sakit. Mereka menunggu kita di pinggir jalan.” Jawab Kyuhyun jengah.

 

Tak jauh dari rumah sakit, beberapa mobil van menunggu kedatangan Kyuhyun dan Dave. Mereka berbondong-bondong mengikuti mobil yang di tumpangi Kyuhyun dan berjalan beriringan.

 

Jelang beberapa menit, mereka sudah sampai di kawasan perumahan elit. Jung ill Woo tinggal disini bersama istri ke-5 nya. Dan Kyuhyun baru mendapati informasi itu dari Kim Yoon Ho.

 

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Kyuhyun segera keluar dari mobilnya dan berjalan melewati gerbang tinggi yang sudah terbuka setengah. Sudut matanya melihat dua orang pria bertubuh besar yang berlari menghampirinya. Kyuhyun segera menendang salah satu pria itu yang siap melemparkan tinjuan kearahnya. Tapi sebelum wajahnya terkena pukulan, pria berbadan besar itu sudah jatuh lebih dulu dengan dentuman yang lumayan kencang.

 

Pria satunya lagi tak tinggal diam, pria itu dengan wajah marah langsung menghampiri Kyuhyun dengan tangan terkepal. Tapi setelahnya sebuah batu berukuran sedang mendarat sempurna di kepala pria itu dan mengenai pelipisnya. Kyuhyun menoleh kebelakang dan mendengus geli. Dave melempari batu dan tepat sasaran.

 

Brakk

 

Kyuhyun membelalak melihat Dave yang memberikan tendangan di perut penjaga itu. “Wah.” Hanya satu kata itu yang keluar dari mulutnya. Dave yang dikenal pendiam bisa melakukan itu? oke ini hanya awal, kita tidak tahu apa lagi yang bisa dilakukan Dave.

 

“Sepertinya kita akan kelelahan hari ini.” Gerutu Dave dengan tatapan fokus ke depan. Dan Kyuhyun mengikuti arah pandang Dave kemudian tersenyum miring. Sepertinya apa yang dikatakan Dave benar.

 

Kyuhyun membelalakan matanya dan segera mendorong Dave untuk berlindung dibalik dinding. Beberapa anak buah Jung Ill Woo melayangkan peluru kearahnya. Kyuhyun segera mengeluarkan pistolnya dan menembak ke depan tepat sasaran. Beberapa pengawalnya dibelakang ikut membantu menembak anak buah Jung Ill Woo.

 

Dave yang merasa bingung hanya bisa diam menyaksikan kejadian di depannya. “Keluarkan pistolmu!” perintah Kyuhyun dengan tatapan fokus ke depan. Dave menoleh dan menuruti perintah Kyuhyun. Wajahnya terlihat sangat menyebalkan bagi Kyuhyun. Pria itu bukannya membantunya malah takjub menatap senjata berapi di tangannya.

 

“Eissh.” Dengus Kyuhyun yang langsung merampas pistol di tangan Dave. “Kau tidak tahu cara menggunakannya?”

 

“Lihatlah hanya seperti ini!” Gerutu Kyuhyun dengan kedua tangan yang memegang pistol dan menodongkannya ke arah depan.

 

“Arraseo!” Dengan semangat Dave mengambil pistol di tangan Kyuhyun dan mulai mengikuti instruksi pria disampingnya itu. beberapa anak buah Jung Ill Woo mulai tumbang. Dan Kyuhyun mulai keluar dari persembunyiannya. Bunyi keras dari peluru itu tak bisa di elakkan dan beberapa warga di sekitar mulai berlari untuk menyaksikan apa yang terjadi.

 

“Arrgghh…” Kyuhyun menggeram kesakitan setelah mendapati tembakan di lengan kirinya. Beruntung peluru tidak benar-benar menusuk lengannya.

 

Diam-diam beberapa pengawal Kyuhyun menyusup masuk kedalam rumah besar itu dan Kyuhyun tersenyum puas saat tembakan para pengawalnya berhasil mengenai anak buah Jung Ill Woo.

 

Kim Yoon Ho berlarian menghampirinya. “Tuan, anda tidak apa-apa?”

 

“Astaga darah!” Pekik Dave histeris.

 

“Tidak. Apa Jung Ill Woo ada di dalam?” Kyuhyun menggulung lengan kemejanya dan membiarkan darahnya menetes.

 

“Yak, apanya yang tidak! Darahmu mengalir terus, kau bisa kekurangan darah!”

 

Kyuhyun menatap jengah sahabatnya yang sangat menyebalkan beberapa hari ini. Bibirnya mencibir pelan dan berjalan meninggalkan Kim Yoon Ho maupun Dave yang menatapnya khawatir.

 

Kakinya terus melangkah memasuki rumah besar Jung Ill Woo. Kyuhyun menghentikan langkahnya setelah melihat seorang laki-laki paruh baya yang ia yakini jika itu Jung Ill Woo, sedang berdiri di anak tangga.

 

“Kau cukup berani juga datang kemari, Cho Kyuhyun.” Suara pria tua itu terdengar senang. Matanya nampak nyalang menatap Kyuhyun seperti melihat seekor mangsa yang siap di terkam kapan saja.

 

Pria paruh baya itu mulai menuruni sisa anak tangga dengan senyum kejam menghiasi wajahnya. “Sepertinya aku akan membuat kuburan masal. Oh, Ternyata para pengawalmu lebih hebat dibandingkan anak buahku.”

 

“Berhenti mengganggu Park Daehwa dan keluarganya!”

 

Jung Ill Woo mengerutkan sebelah alisnya tak terima. “Rasa benciku pada Daehwa tak akan pernah hilang. Kau tahu, aku seperti mendapatkan kepuasan tersendiri setelah melakukan hal-hal kecil yang bisa melukai keluarganya.”

 

Kyuhyun menggeram marah. Langkah kakinya yang lebar membuatnya lebih cepat bisa menggapai kerah kemeja pria tua itu. Masa bodoh dengan kesopanan! Pria psikopat ini tak pantas dihormati.

 

Tak disangka seorang pria menendang bahunya hingga Kyuhyun dentuman suara keras dari tubuhnya tak bisa dihindari. Kim Yoon Ho dan Dave yang berdiri di belakang Kyuhyun terbelalak kaget. Kim Yoon Ho segera menodongkan pistolnya dan menembak tepat sasaran di dada pria yang berani mencelakai bosnya. Sedangkan Dave berlari membantu Kyuhyun bangun. Sedangkan Jung Ill Woo yang melihatnya hanya bisa tersenyum sinis dengan kedua tangan yang diletakkan di depan dada.

 

“Sudah lama kita tidak bertemu, Dave.” Dave menatap Jung Ill Woo geram. Pria itu hampir saja melayangkan tinjuannya ke wajah pria tua itu jika ia tidak ingat kalau ada polisi yang sebentar lagi datang.

 

Derap langkah kaki yang saling bersahutan terdengar dari luar. Beberapa pria berseragam polisi datang sembari menodongkan pistolnya. Jung Ill Woo yang mengerti situasi saat ini hanya bisa tertawa. “Well, kalian cukup pintar juga.” Kekehnya pasrah saja saat dua orang polisi menarik tangannya dan memborgolnya. Lagi pula apa yang ia bisa? Tubuhnya yang mulai keriput tidak akan kuat melawan para polisi dan jiwa muda Kyuhyun maupun Dave.

 

Tatapan Kyuhyun mulai mengabur melihat banyaknya darah yang terus mengalir di lengan kirinya. Tubuhnya hampir saja roboh jika ia tidak segera menopang tubuhnya. “Jung Ill Woo-ssi.” Cegah Kyuhyun sebelum Jung Ill Woo benar-benar pergi dari jarak pandangnya.

 

“Kau tidak ingin menjenguk anak perempuan-mu yang sedang koma?”

 

Salah satu sudut bibir pria tua itu menaik keatas, menampilkan senyum keji yang sangat menyebalkan. “Kau pikir aku peduli.” Dan Setelahnya Kyuhyun hanya bisa tersenyum miris setelah mendengar jawaban tak acuh dari pria gila itu. Bagaimana bisa seorang ayah sejahat itu pada anak kandungnya sendiri.

 

Seorang wanita sekitar berumur 40-an berlarian menuruni anak tangga. Kedua matanya membulat sempurna dan memekik kencang melihat beberapa orang mati mengenaskan dengan luka tembak dimana-mana. Terlebih lagi setelah melihat suaminya dibawa oleh polisi.

 

“Maaf, mengganggu, Nyonya. Bisakah anda ikut ke kantor polisi?” Salah satu polisi menghampiri wanita itu.

 

“Nde.” Jawab wanita itu gugup. Sebelum pergi mengikuti langkah kaki sang polisi, wanita itu melirik sinis pada Kyuhyun dan Dave.

 

“Apa sudah selesai?” Suara Dave mengalihkan perhatian Kyuhyun.

 

“Astaga, wajahmu terlihat pucat. Kau harus segera ke rumah sakit!” Dan setelahnya Kyuhyun kehilangan sadaran.

 

.

.

 

Daehwa dan Nuri menatap khawatir pada pintu UGD di hadapannya. Mereka sudah menelpon Cho Hana, dan menceritakan semua kejadiannya. Wanita itu nampak kaget setelah Daehwa menjelaskan kondisi Kyuhyun, Daehwa juga berpesan untuk tidak menyampaikan masalah ini pada Jae In karena takut terjadi apa-apa pada calon cucu mereka. Awalnya Daehwa juga tidak mengerti kenapa menantu dan anaknya itu datang kemari. Yang ia tahu kedua laki-laki itu hanya ingin menjenguknya. Tapi, Daehwa tidak menyangka jika ada alasan lain mereka datang kemari.

 

Pria paruh baya itu juga sudah mengetahui tentang masalah Jung Ill Woo yang saat ini sedang berada di kantor polisi. Dave sudah menceritakan semuanya tadi. Yang sekarang ia khawatirkan adalah keselamatan Kyuhyun. Menantunya itu datang dengan mobil ambulans dan dengan darah di sekitar lengannya. Ah, Daehwa tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika keadaan Kyuhyun memburuk. Seharusnya, ia yang bertindak melawan Jung Ill Woo, bukan Kyuhyun.

 

Pintu bercat putih itu terbuka. Daehwa segera mendekati sang dokter. “Bagaimana dok?”

 

“Keadaannya tidak terlalu buruk. Beruntung, kalian cepat membawanya kemari.”

 

“Apa kami boleh melihatnya?” Kali ini Dave yang angkat bicara. Dan dokter berdarah asia itu mengangguk ramah, lalu mempersilakan ketiga orang disana untuk masuk.

 

Di atas ranjang terlihat Kyuhyun sedang duduk dengan punggung yang menyandar pada kepala ranjang. Pria itu menundukkan wajahnya sembari menatap lengannya. Setelahnya sekpalanya mendongak karena mendengar langkah kaki yang terdengar di sekitarnya.

 

“Sepertinya aku tidak bisa pulang cepat.” Kekehnya.

 

“Ya, kau harus tetap disini sampai kondisimu pulih.” Sahut Daehwa. Kyuhyun mengangguk, kepalanya menoleh ke arah jendela yang terbuka hingga semilir angin menerpa wajahnya.

 

“Ne, aku juga ingin hadir di sidang Jung Ill Woo nanti, siabeonim.” Setelah mengatakan itu, kedua bola mata hitam pekatnya menatap Daehwa murung.

 

“Maaf.”

 

“Maaf untuk apa?” Tanya Nuri penasaran.

 

“Karena aku tidak bisa pulang cepat dan menjaga Jae In.”

 

Daehwa tertawa dan menepuk pundak Kyuhyun. “Kau pikir dia sendirian disana? Kau tenang saja, ada ibumu, Haneul, dan kedua sahabatmu. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Kau seharusnya mengkhawatirkan dirimu sendiri, anak muda.”

 

Kyuhyun mengangguk paham. Sungguh, sudah lama sekali ia tidak merasa diperhatikan oleh seorang ayah. Jika saja yang ada di sampingnya ini ayahnya, Kyuhyun pasti sudah memeluknya.

 

“Gomawo Siabeonim.”

 

 

 

***

 

 

 

Sebulan kemudian

 

“Oppa..” Panggil Jae In pelan. Gadis itu tidur menyamping menghadap Kyuhyun yang saat ini sedang tidur terlentang dengan kedua lengan untuk bantalan kepalanya sendiri. Sebelah tangan Jae In terulur menyentuh luka berbentuk garis panjang di sekitar lengan kiri Kyuhyun. Banyak pertanyaan yang berputar di kepala cantiknya, mengenai apa saja kegiatan yang pria itu lakukan selama di Jepang hingga menimbulkan luka seperti ini. Jika hanya memantau projek disana, apa harus terluka? Bukankah Kyuhyun bosnya?

 

“Hmmm.” Kyuhyun hanya menggumam tak jelas dengan mata terpejam.

 

Mata Jae In meneliti garis luka yang terlihat mengering itu. Ia tahu kalau Kyuhyun berbohong, tapi Jae In tidak ingin banyak bertanya. Jae In memang merasa kesal karena pria itu meninggalkannya begitu lama. Selama sebulan lebih 3 hari pria itu meninggalkannya dan Jae In merasa khawatir sekaligus sedih. Pria itu hanya menghubunginya seminggu sekali selama disana, bagaimana tidak kesal.

 

“Apa lukanya masih sakit?” Tanya Jae In hati-hati. Perlahan Kyuhyun membuka kedua matanya yang terpejam lalu menoleh kearah Jae In yang menatapnya sendu.

 

“Anni, Ini hanya luka kecil. Kau tidak perlu khawatir.” Jawab Kyuhyun lembut dan Jae In masih belum puas dengan jawaban Kyuhyun. Karena rasa penasarannya yang tinggi, jari telunjuknya menyentuh luka itu dan menekannya lumayan kencang. Kyuhyun terkekeh geli kemudian memeluk pinggang gadis itu dan membawanya ke atas tubuhnya.

 

Jae In menopang tubuhnya dengan kedua lengan yang menekan dada telanjang Kyuhyun, sedangkan kepalanya mendongak, menatap pria itu lekat-lekat. “Ada yang mengganggu pikiranmu?” Tanya Kyuhyun.

 

Jae In mendesah frustasi lalu membenamkan kepalanya di dada bidang Kyuhyun. “Oppa tidak jujur.” Cicit Jae In pelan.

 

Kyuhyun mengusap punggung Jae In. Kedua bola mata tajamnya meneliti wajah Jae In yang murung. Pria itu mendesah pasrah. Mungkin saatnya ia berkata jujur tentang kepergiannya yang lama. Maka dari itu, Kyuhyun beranjak dari duduknya dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang dengan Jae In di pangkuannya.

 

“Ayahmu mengalami kecelakaan pesawat di bandara Haneda.” Ucap Kyuhyun pelan. Ekspresi sedih Kyuhyun disalah artikan oleh Jae In. Kedua mata gadis itu berkaca-kaca dan mulai menundukan wajahnya sedih.

 

“Hei, aku belum selesai bicara.” Bisik Kyuhyun sambil mendongakan wajah istrinya. “Dengarkan hingga selesai, arra.” Ujar Kyuhyun lagi, lalu mengecup kedua pipi gadis itu yang memerah.

 

“Ayahmu baik-baik saja, hanya mendapati luka tembak di kakinya. Sekarang kondisi ayahmu sudah pulih dan bisa berjalan seperti biasanya. Kau tahu paman tirimu itu? dia menyuruh beberapa orang untuk menembak pesawat yang ditumpangi ayahmu.”

 

“Jadi, apa saja yang kau lakukan disana? apa kau bertemu Jung Ill Woo samchon?”

 

“Ya, aku mendatanginya langsung..”

 

“Dan ini luka darinya?” Kyuhyun mengangguk.

 

“Sekarang dia tidak akan melukai keluargamu lagi. Polisi berhasil menangkapnya dan dikenakan hukuman 15 tahun penjara.”

 

“Hanya 15 tahun?” Kyuhyun terkekeh geli. Sepertinya gadis itu menginginkan hukuman mati untuk pria tua itu. Tapi sayangnya Daehwa meminta keringanan untuk hukuman Ill Woo karena bagaimana pun, Jung Ill Woo adalah adiknya, walaupun adik tiri.

 

“Hmmm…” Gumam Kyuhyun sibuk membaui aroma rambut istrinya.

 

“Apa kalian berkelahi?” tanya Jae In kesekian kalinya. Kyuhyun menunduk dan Jae In mendongak.

 

“Ya. Luka ini dari salah satu pengawalnya.. kau tahu, Jung Ill Woo tidak bisa apa-apa selain menghasut orang.”

 

“Dasar pria gila! Apa dia melukai eomma juga?”

 

“Tidak.”

 

“Syukurlah.. bagaimana kondisi eomma dan bayinya disana?”

 

“Sangat baik. Lalu bagaimana kondisi anakku?” Balas Kyuhyun sembari mengusap perut Jae In.

 

“Dia sangat sehat seperti eomma-nya.” Jawab Jae In. Kyuhyun tersenyum dan mendongak lalu mengecup hidung istrinya.

 

“Waktunya tidur.”

 

Jae In mengerutkan dahinya. Kepalanya segera melihat jam dinding dan bibirnya mengerucut sebal. Yah tidurnya tak boleh lewat dari jam 10 malam. Ini benar-benar menyebalkan. Ia masih merindukan suami tampannya yang tidak ia temui selama sebulan lebih. Dan Jae In ingin memandangi wajah tampan Kyuhyun yang dirindukannya.

 

“Tidak bisakah aku tidur lebih lama?” pinta Jae In dengan tampang memelas. Kyuhyun tertawa pelan, lalu mengusap rambut bergelombang istrinya. Pria itu mulai merebahkan dirinya hingga Jae In yang berada dipangkuannya ikut tidur telungkup di atas tubuhnya. Setelahnya, Kyuhyun memiringkan tubuhnya hingga Jae In tidur dipelukannya.

 

“Tidak. Kau harus tidur.” Perintah Kyuhyun yang mulai memejamkan matanya.

 

Jae In merenggut kesal. Dan lebih memilih memainkan adam apel Kyuhyun. Tiba-tiba tangan Kyuhyun menangkap pergelangan tangannya dan mata tajam pria itu menatap tajam padanya.

 

“Aku tidak bisa tidur.”

 

“Ingin sesuatu?”

 

“Hmm, aku ingin makan ramen di pinggiran jalan.”

 

Kyuhyun segera beranjak dari tidurnya, kemudian mengambil bajunya yang tergeletak di kepala ranjang. Setelahnya, Kyuhyun mengambil jaket untuk Jae In. “Kemarilah.” Perintah Kyuhyun pada Jae In yang masih terduduk di atas ranjang. Gadis itu memekik senang, lalu turun dari ranjangnya.

 

Kyuhyun tersenyum tipis dan mulai memakaikan jaket berwarna cokelat ke tubuh istrinya yang hanya mengenakan baju tidur terusan selutut dengan gambar boneka kelinci. Kyuhyun menyambar kunci mobilnya yang terletak di atas meja rias lalu menarik tangan Jae In. Membawa gadis itu ke mobilnya.

 

Kyuhyun mulai menyetir dengan kecepatan sedang. Walaupun sudah malam, ternyata jalanan masih cukup ramai kendaraan.

 

“Oppa.” Panggil Jae In cepat.

 

“Hmm..” Sahut Kyuhyun tanpa menoleh.

 

“Bagaimana jika besok kita pergi ke kebun binatang? Kebetulan besok jadwalku kosong.”

 

Kali ini Kyuhyun menoleh dengan alis mengkerut, dan yang didapatinya adalah wajah sumringah istrinya sambil memegangi lengannya dan menggerakkannya pelan. Kemudian Kyuhyun terkekeh geli dan menarik tangan istrinya untuk di genggam. “Oke, besok pagi kita pergi.”

 

“Yeyy… Apa aku bisa membawa pulang Panda-nya?”

 

“Park Jae In!!”

 

“Aku hanya bercanda hehe..”

 

 

END

 

Selesaiiiiiii….. akhirnya selesai juga. Ceritanya kecepatan? Jelek? Typo dimana-mana? Gak jelas? Kelamaan? Maaf ya untuk masalah Typo, aku emang gak sempet ngeliat lagi. Tau kan, aku kalau abis nulis langsung main  post aja.

Maaf juga kalo ceritanya gak sesuai harapan pas dibagian kyuhyun ketemu jung ill woo. Jujur, otakku mumet mikirin ini sama pekerjaan di kehidupan nyata. Jadi, terima aja apa adanya okee!! Aku juga gak terlalu bisa bikin konflik jadi emang agak aneh ceritanya.

Epilog? Gak tau mau dibikin atau gak nih ya? Bingung. Kalau sempet ya dibuatnya.

 

Advertisements

106 thoughts on “Young, Wild & Free Part 13 END

  1. Cerita nya seru sangat,
    Konflik nya jga ng’ terllu berat,
    Jadi ng’ bikin sakit kepala…
    Tapi anngung ending nya,
    Kenapa ng’ bikin sequel ja,
    Hingga jaein lahiran dan anak nya besar,
    Kyk nya seru…
    Hehheee

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s