We Found Love [Chapter 2]

image

Author : Mylovevil
Tittle : We Found Love
Category : romance, Chapter
Cast : Cho Kyuhyun, Park Jae In

Haiiiiii…. aku balik lagi setelah sekian lama. Karena mendekati liburan jadi aku nyempetin kelanjutan tulisan aneh aku ini hihi. Maaf ya nunggunya kelamaan (kayak ditungguin aja). Tadi pagi baru liat blog lagi, dan ada yang komen nungguin ff aku, jadi terharukan hihi. Nah, untuk next partnya gak janji cepet di post juga ya ^^

Sorry for Typo and Happy Reading guys..

==oOo==

CHAPTER 2

“Aku serius, Cho Kyuhyun! Kau pikir apa yang kau lakukan dengan baju-baju mahal itu, hah?” Jae In berbicara sedekat mungkin dengan Kyuhyun karena melihat jarak orang tuanya yang tak jauh dibelakang sana. Sedangkan pria yang dimarahi hanya tersenyum geli dengan tatapan yang fokus pada wajah cantik Jae In.

“Apa yang kau lihat?” Ketus Jae In mulai menjaga jarak dari tubuh Kyuhyun. Oh sial, Pria di depannya benar-benar berbahaya!

“Kau terlihat seperti wanita karir hari ini, sangat berbeda dengan penampilan tadi malam.” Bisik Kyuhyun diakhir kalimatnya. Pria itu masih tersenyum menyebalkan bagi Jae In, terlebih lagi tatapannya yang terlihat menggodanya. Jae In mendelikkan matanya tidak suka. Entah itu ejekan atau pujian, apa pun itu Jae In menganggapnya sebagai ejekan.

Jaraknya dengan Kyuhyun yang begitu dekat membuat kedua orang tua Jae In memicingkan matanya curiga. Terlebih lagi Daehwa yang sangat over protectif terhadap putri satu-satunya itu. Daehwa bahkan mendapati Kyuhyun tersenyum begitu lepas dengan tatapan lekat menatap putrinya.

Dan suara batuk yang disengaja menyadarkan Jae In maupun Kyuhyun dari rasa ketertarikan mereka masing-masing. Kyuhyun sibuk mengagumi kecantikan Jae In dalam balutan pakaian kerjanya, begitu pun Jae In yang mengagumi ketampanan Kyuhyun dengan jas mahalnya.

Suasana di sekitar mereka mendadak hening, Kyuhyun dan Daehwa saling melempar tatapan yang Jae In sendiri tidak mengerti arti tatapan mereka itu. Daehwa yang biasanya tak mempermasalahkan laki-laki yang mendekati putrinya, sekarang justru merasa was-was. Ia tahu betul Cho Kyuhyun, pria muda dihadapannya mungkin terlihat ramah didepan, tapi kita tidak tahu bagaimana keseharian Kyuhyun. Melihat seberapa kaya-nya Kyuhyun, Daehwa mengambil kesimpulan perangai buruk dari seorang Cho Kyuhyun.

Entah apa yang akan terjadi jika Kyuhyun dan putri kesayangannya disatukan. Jika mereka sama-sama liar, Daehwa tidak akan merestui hubungan putrinya dengan Kyuhyun. Selama ini Daehwa membiarkan Jae In mencari pujaan hatinya secara Cuma-Cuma, tapi jika dengan Cho Kyuhyun? Daehwa butuh waktu untuk berpikir untuk menerima Kyuhyun atau tidak. Dia tidak bodoh, tentu saja. Pertemuan di kantor kemarin bukanlah yang pertama untuk putrinya. Mungkin Jae In memang tidak menyadarinya karena gadis itu sibuk membaca komik dan terhanyut kedalam cerita yang ia baca. Waktu itu Daehwa memperhatikan ekspresi Kyuhyun yang berkali-kali tersenyum menatap putrinya. Kejadian itu terjadi sekitar 5 tahun yang lalu, disaat umur Jae In 19 tahun, dan Kyuhyun berumur 22 tahun.

“Tuan Park, maaf aku membawa putrimu.” Ucap Kyuhyun basa-basi. Daehwa sesaat terdiam namun setelahnya tertawa rendah, menghilangkan suasana canggung di sekitarnya.

“Ini masalah pekerjaan, tidak masalah bagiku. Asalkan anda bisa menjaga putri kesayanganku ini haha.” Canda Daehwa. Kyuhyun tersenyum sumringah. Layaknya seorang bangsawan, sebelah tangan pria itu terulur menunggu uluran tangan Jae In. “Aku akan menjaga tuan putri ini. Nona, bisakah kita pergi sekarang?”

Jae In menahan tawanya dan menerima uluran tangan hangat Kyuhyun. “Appa, Eomma  aku berangkat.” Ucapnya sebelum memasuki mobil Kyuhyun.

Mobil yang membawa mereka melesat keluar dari rumah Jae In. Di dalamnya Kyuhyun dan Jae In hanya terdiam menikmati pemandangan di jalanan. Melihat-lihat ramainya orang-orang yang berjalan menyusuri jalanan besar kota Seoul.

Sudut mata Kyuhyun melihat pergerakan Jae In yang sibuk dengan sebuah tas kecil dan mengeluarkan sepasang sepatu kets dari dalam sana. Kyuhyun mengerutkan alisnya dan mulai fokus menatap gadis di sampingnya.

“Untuk apa sepatu itu?” Kyuhyun mulai menyuarakan isi pikirannya.

Jae In menoleh dan tersenyum simpul lalu melepaskan high heels-nya. “Bukankah kita akan mengunjungi pembangunan hotel di Jeju? Jadi, aku menyiapkan sepatu ini. Aku tidak ingin mengambil resiko kakiku lecet-lecet.” Jawab Jae In. Ia sudah menyiapkan hal ini semalam. Ia pikir tidak ada salahnya menggunakan sepatu. Jalanan disana pasti sedikit sulit di lewati dengan high heels.

Kyuhyun tersenyum miring dan tanpa sadar tangannya mengelus puncak kepala Jae In. “Kau cukup pintar juga.” Kekehnya.

Kedua pipi Jae In memerah dan ia berusaha menyembunyikannya dengan telapak tangannya. Sifat malu-malu Jae In tak luput dari perhatian Kyuhyun. Pria itu tertawa dalam hati melihat perbedaan sifat Jae In.

“Kuingat, semalam kau menggodaku. Kenapa sekarang kau terlihat malu-malu?”

Jae In mulai duduk tegak, kedua sudut bibirnya mulai tertarik keatas, menampilkan senyuman menggoda. Ia menggeser duduknya hingga berdekatan dengan Kyuhyun, dan tak mempermasalahkan supir di depan mereka yang pasti bisa melihat pergerakan kedua anak adam itu.

“Ah, aku lupa bagaimana sikapku semalam? Bisakah kau mengingatkannya, Cho Kyuhyun?” Pergerakan tangan mungil Jae In di sekitar pahanya bahkan nyaris menyentuh pangkal pahanya membuat Kyuhyun dengan cepat menarik pergelangan tangan gadis nakal itu. Bibirnya mendesis pelan dan sedikit mendorong tubuh Jae In agar menjauh dari tubuhnya.

“Oh, wajahmu kenapa?”

“Sialan! Hentikan ocehanmu itu Park Jae In!”

“Oh wae? Tadi kau yang mulai duluan? Kau bilang kenapa sikapku berbeda? Seharusnya kau merasa tersanjung, aku tidak merayu sembarangan orang..”

“Tidak merayu sembarangan orang apanya? Kau bahkan sudah puluhan kali berhubungan dengan pria.”

“Berhubungan apanya? Aku hanya memacari mereka, tidak melakukan hal-hal lain seperti seks misalnya. Mereka hanya boleh menyentuh bibirku, jika mereka berani melakukan lebih, aku langsung memutusi mereka.”

“Aku bahkan sudah menyentuh bibirmu dan kita tidak memiliki hubungan apa pun. Bagaimana jika kita menjadi pasangan kekasih?”

***

Sesampainya di Jeju, Kyuhyun lebih dulu turun dari kursi penumpang diikuti Jae In. Gadis itu menghirup udara di sekitarnya, menikmati udara segar Pulau Jeju. Kyuhyun menatap Jae In malas. “Apa yang kau lakukan? Jangan tersenyum seperti itu, kita disini untuk bekerja bukan liburan!”

Kata-kata tajam Kyuhyun membuat senyum senang Jae In memudar. Gadis itu menatap garang pada Kyuhyun yang menatapnya datar. Sialan sekali, mengganggu kesenangan orang saja, gerutunya dalam hati.

“Ah Kyuhyun-ssi, bolehkan aku pergi ke pantai sebentar?” Tanya Jae In sembari memeluk lengan Kyuhyun. Kedua mata gadis itu nampak berbinar-binar, menunggu persetujuan dari Kyuhyun.

“Tidak!”

Satu kata itu berhasil menurunkan mood Jae In. Gadis itu menunduk lesu dan menghentakkan kakinya kesal. “Sialan sialan, Cho Kyuhyun sialan! Dasar pelit! Pria tak berperasaan!” Umpatnya dengan suara pelan.

“Kita tidak lama disini.”

“Ne?”

“Hanya melihat-lihat.”

Satu lagi kesialan hari ini. Selain bekerja, niatnya pergi kemari untuk berlibur. Tapi Cho Kyuhyun merusak suasana hatinya dan rencananya. Ah, bukankah setelah ini, dia tidak memiliki pekerjaan lain. Biarkan saja pria itu pulang duluan. Jae In bisa pergi menjauh dari Kyuhyun dan menikmati liburannya, atau mungkin ia bisa bermain mata dengan laki-laki disekitarnya dan menjadikannya kekasih. Laki-laki disini tidak terlalu buruk juga.

“Geure, kita selesaikan dengan cepat!” Sahut Jae In sombong. Gadis itu berjalan mendahului Kyuhyun dengan langkah lebar. Beruntung Jae In mengenakan rok ketat, jika tidak pasti para pria disana mendapati tontonan paha gratis darinya karena angin yang berhembus lumayan kencang.

Kyuhyun mengikuti di belakangnya dengan langkah santai. Jalanan bebatuan dibawahnya tak membuatnya kesulitan melangkah, berbeda dengan Jae In yang berulang kali mengumpat kesal karena berkali-kali tersandung dan hampir terjatuh.

“Aarrgghhh… Sialan kau Cho Kyuhyun! Kenapa harus memilih tempat seperti ini!”

Jae In memutar tubuhnya menghadap Kyuhyun yang menatap bingung kearahnya. Pria itu berjalan menghampirinya dan salah satu sudut bibirnya tertarik keatas. Sialnya luapan emosi Jae In yang tadinya berapi-api mulai reda. Di cuaca yang sepanas ini, tempat sekarang ia berada benar-benar menyebalkan, dan senyuman Cho Kyuhyun yang nampak menyebalkan malah terlihat menawan. Oh matamu, Park Jae In. Gila… ini benar-benar gila. Seharusnya, ia melempari pria menyebalkan itu dengan batu supaya tidak mengganggu detak jantungnya! Oh jangan, Kyuhyun terlalu tampan, lebih baik dia melempari pria itu dengan bibirnya ck.

“Naiklah!” Perintah Kyuhyun tegas. Mulut Jae In membentuk huruf O, matanya menatap punggung lebar Kyuhyun yang nampak menggiurkan. Pria itu berjongkok di depannya. Apa Kyuhyun ingin menggendongnya?

“Sirheo.” Tolak Jae In mentah-mentah. Sebenarnya ia mau saja, tapi Jae In cukup sadar diri. Banyak orang disini, tidak mungkin Kyuhyun menggendongnya. Apa kata orang-orang nanti jika mereka tertangkap basah berdekat-dekatan seperti tadi. Jae In tidak ingin orang-orang menganggap dirinya buruk. Seluruh masyarakat mengetahui perusahaan ayahnya yang sukses karena bantuan Kyuhyun. Bisa saja nanti muncul berita burung tentang dirinya yang menjual diri demi suksesnya perusahaan.

“Omoo…” Jae In memekik kencang saat tubuhnya diangkat dan wajahnya berhadapan langsung dengan leher Kyuhyun.

Astaga ini gila! Kyuhyun menggendongnya ala bridal style!!

“Seperti ini lebih bagus. Rokmu tidak tersingkap, kan?” Ucap Kyuhyun menyadarkan keterkejutan Jae In. Dan dengan bodohnya Jae In mengangguk.

“Gadis pintar. Kau tidak ingin di gendong dipunggungku, dan lebih suka digendong seperti ini? Kenapa tidak bilang dari awal, hhmm..”

Tidak, bukan begitu! Aah, Kyuhyun salah! masa bodoh dengan pendapat Kyuhyun. Jae In tidak bisa berpikir jernih sekarang!

“Sajangnim, apa anda ingin melihat ke dalam?” Tanya sekretarisnya. Sesekali bola mata sekretarisnya itu menatap Jae In jengah. Wanita itu merasa jengah karena Jae In bisa berdekatan dengan atasannya. Sedangkan dirinya mengenakan high heels setinggi 10 senti, dan terpaksa harus dilepas hingga kakinya nampak memerah. Kenapa Kyuhyun tidak menggendong dirinya? Itulah yang ada dipikirannya.

Sudah 2 tahun ini ia bekerja dengan atasannya itu dan.. rasa suka itu timbul dengan sendirinya. Yoon Eunha, awalnya gadis itu menganggumi kinerja Kyuhyun, tapi semakim lama rasa kagum itu berubah menjadi rasa suka, yang ia sendiri tidak tahu alasan pastinya. Kyuhyun memang tampan, tinggi, dan pintar, tapi bukan itu yang membuat Eunha menyukainya. Kebaikan hati Kyuhyun lah yang membuat Eunha menyukainya. Selama ini ia memang melihat Kyuhyun selalu baik pada semua orang dibalik wajah datarnya.

“Turunkan aku.” Desisan Jae In membuat Eunha tersadar dari lamunannya.

Kedua bola matanya mengikuti pergerakan Jae In yang baru saja turun dari gendongan Kyuhyun. Dahinya mengerut dalam melihat Jae In melepas kedua sepatunya. Eunha terhenyak saat lirikan mata Jae In seperti memberinya kode, gadis itu seperti meminta dirinya untuk mengikutinya.

Eunha menatap takut-takut kebelakang, berbeda dengan Jae In yang terlihat tenang dan tidak takut dengan tatapan Kyuhyun. Padahal tatapan Kyuhyun terasa seperti menusuk punggung mereka. Mungkin, memang sikap Jae In yang sedikit bengal jadi tidak merasakan apapun dampak tatapan seorang Cho Kyuhyun.

“Bisakah kau membantuku?” Tanya Jae In serius.

“Ne?” Eunha menoleh dengan dahi mengkerut.

“Bisakah kau alihkan perhatian Kyuhyun? Aku ingin tinggal lebih lama di sini, tapi pria menyebalkan itu tidak mengijinkanku. Huh, memangnya dia siapa, seenaknya mengekang anak orang.”

“Kumohon bantu aku eoh..” Pinta Jae In dengan tatapan memelas. Gadis itu mengerjapkan kedua matanya, menatap penuh harap pada sekretaris Kyuhyun yang ia sendiri tidak tahu namanya.

“Ne.” Eunha mengangguk setuju walaupun sedikit ragu. Dan Jae In memekik senang setelahnya, bahkan gadis itu memeluk Eunha.

“Aigo gomawo.. Kau malaikat penyelamatku. Ngomong-ngomong siapa namamu?”

“Eunha… Yoon Eunha imnida.”

“Baiklah Eunha-ssi, sekarang kita berteman.” Kekeh Jae In sembari menyalami Eunha penuh semangat.

Jae In menunduk lalu menatap wajah Eunha yang nampak memerah menahan malu. Jae In merasa iba dengan Eunha setelah melihat beberapa luka goresan di kaki Eunha. Tangannya terulur memberikan sepatunya untuk gadis itu. “Ini, pakailah. Apa kau membawa obat luka?” Eunha bergerak-gerak gelisah dan menggeleng. Jae In menghela nafasnya pelan. Beruntung ia sudah menyiapkan hal ini sebelumnya.

Tangannya merogoh isi tasnya dan mengeluarkan sebotol kecil obat merah dari sana. “Ini, obati kakimu.” Eunha menerima obat dari Jae In dengan canggung. Gadis itu menggumamkan kata terimakasih yang dibalas anggukan dari Jae In.

“Maaf, bagaimana denganmu, Jae In-ssi?” Sela Eunha.

“Oh, aku membawa sepatu yang lain di koperku, jangan khawatir.” Jae In tersenyum dan mulai mengeluarkan high heels-nya, lalu dipakainya.

Kedua gadis itu tak menyadari tatapan takjub Kyuhyun yang lebih diarahkan pada Jae In. Hingga Eunha menoleh kearahnya, Kyuhyun dengan cepat merubah raut wajahnya yang mungkin terlihat konyol saat ini.

Didepannya, Jae In berdecak kagum dengan kedua tangan yang bertolak pinggang. “Lumayan bagus.” Komentarnya setelah meneliti dengan jeli bangunan megah dihadapannya. Hanya itu yang bisa ia katakan karena bangunan itu belum sepenuhnya jadi.

“Lumayan bagus kau bilang?”

Jae In menoleh cepat menuju asal suara bass itu. Kyuhyun berdiri tak jauh dibelakangnya dengan kedua tangan yang dimasukkan kedalam saku jasnya.

“Tuan Cho, anda sudah datang.” Seseorang datang menghampiri Kyuhyun dengan sebuah buku ditangannya.

Pria yang umurnya tak jauh lebih muda dari Kyuhyun itu menyalami mereka dengan senyum kekanak-kanakannya. Henry, pria itu mengangakan mulutnya melihat gadis yang menurutnya sangat cantik, siapa lagi kalau bukan Jae In.

Jae In tersenyum manis menambah suasana hati Henry menjadi berbunga-bunga. Pria itu kembali tertawa, kali ini sembari menepuk-nepuk pundak Kyuhyun. “Hahaha… hyung, kau dapat dari mana gadis secantik ini?”

Kyuhyun mendelikkan matanya, terlebih lagi panggilan Henry yang tiba-tiba berubah. Sejak kapan ia menganggap Henry sebagai adiknya? Dan kapan ia mengijinkan Henry memanggilnya ‘hyung’?

Henry tak mempedulikan tatapan tajam Kyuhyun. Bocah tengik itu malah merangkul bahu Jae In, membawa gadis itu menuju sebuah miniatur kecil.

“Wah..” Jae In berdecak kagum melihat miniatur hotel dihadapannya. Siapa pun pasti betah tinggal berlama-lama disini untuk menikmati pemandangan sekaligus menikmati fasilitas yang tersedia. Di tengah-tengah bangunan terdapat kolam renang besar untuk pengunjung dan juga tersedia kolam renang privat di masing-masing kamar. Belum lagi restoran dengan berbagai macam makanan luar maupun lokal, dua ruangan untuk spa, pemandian air panas buatan, dan taman bermain untuk anak-anak.

“Daebak..” Gumam Jae In tanpa sadar.

“Keren kan? Tentu saja, aku yang membuat desain seperti ini. Kalian pasti terkagum-kagum.” Seru Henry menyombongkan diri.

Jae In menatap Henry dengan pandangan berbinar, tidak dengan Kyuhyun yang hanya bersidekap dan tatapan datarnya menatap Henry jengah.

“Kau… arsitek?”

Henry tertawa renyah hinga kedua matanya menyipit. Sebelah tangannya menggaruk kepala bagian belakangnya yang tidak terasa gatal sama sekali. “Ah, iyaa.. Oh, anda bisa meminta bantuanku jika ingin membuat rumah.” Secara tak langsung Henry mempromosikan dirinya sendiri pada Jae In dan Jae In membalasnya dengan anggukan semangat.

“Henry-ssi.” Kali ini Kyuhyun yang angkat bicara. Menurutnya, sudah cukup Jae In dan Henry yang berbicara, sekarang gilirannya.

“Ne?”

“Bagaimana perkembangan proyek ini?”

Secepat kilat, Henry menghampiri Kyuhyun sebelum laki-laki itu marah, dan mulai menjelaskan bagaimana perkembangan hotel saat ini. Baik Kyuhyun maupun Jae In mendengarkan apa yang Henry bicarakan, sesekali kedua orang itu bertanya apa yang mereka ingin tanyakan. Letak pembangunan hotel yang strategis membuat mereka begitu yakin jika proyek besar ini akan sukses nantinya. Belum lagi fasilitas yang disediakan dan pemandangan alam, menambah nilai plus untuk pembangunan ini.

Selesai berbincang-bincang dengan Henry, Kyuhyun memutuskan untuk kembali ke Seoul. Ia tidak perlu memeriksa lebih lanjut hingga menelusuri ke dalam gedung. Kyuhyun sangat percaya dengan para orang kepercayaannya yang menangani hotel ini.

Kyuhyun menggeram marah. Matanya tidak melihat keberadaan Jae In dimana pun. Baru beberapa menit Kyuhyun mengalihkan tatapannya dari gadis nakal itu, dan secepat kilat Jae In tidak ada dihadapannya. Sialan sekali!

“Eunha-ssi, kau melihat Jae In?” Tanya Kyuhyun pada sekretarisnya yang berdiri gugup tak jauh dari Kyuhyun.

Gadis itu menggeleng pelan, tapi Kyuhyun tetap menatapnya datar dan penuh tuntutan. Ah jika sudah seperti ini mana bisa berbohong. “Di.. diaa… pergi kearah sana.” Ujarnya sembari menunjuk ke arah yang dilewati Jae In.

“Kau pulang duluan, biar aku mencari gadis itu.”

“Ne.”

***

Jae In segera memberhentikan sebuah taksi setelah melihat keberadaan mobil itu. Kedua sudut bibirnya tertarik keatas. Ah ini kesempatan langka, Ia bisa terbebas dari Cho Kyuhyun. Ia satu-satunya gadis yang berani membangkang perintah Kyuhyun. Dari beberapa berita yang ia baca dan ia dengar, Kyuhyun sangat over protektive pada kekasih-kekasih sebelumnya. Jika tidak salah, aktris Kim Ji Hee adalah kekasih terakhir pria itu, dan banyak berita miring tentang pasangan itu. Seperti, Kim Ji Hee yang memanfaatkan Kyuhyun supaya menjadi lebih tenar. Nyatanya, tidak! Tidak ada kelebihan yang dimiliki gadis itu. Bahkan tubuhnya yang molek dan wajahnya yang cantik berkat kerajinan tangan seorang dokter. Dan ada juga berita jika Kyuhyun hanya memanfaatkan tubuh aktris cantik itu.

Apapun itu, Jae In tidak ingin mempermasalahkannya. Toh, dia hanya tertarik pada ketampanan Kyuhyun, belum sampai taraf lebih seperti menyukai. Bukankah tertarik dengan seseorang dan menyukai seseorang itu berbeda?  Begitulah yang ada di pikirannya sekarang.

Perjalanan pertama dari liburannya ini diawali dari mengunjungi sebuah hotel mewah yang ia sewa untuk beberapa hari kedepan. Sesampainya dikamar, ia melempar tubuhnya keatas ranjang berukuran king size dengan seprai berwarna biru laut. Sebuah senyuman menghiasi kedua sudut bibirnya yang merah alami. Dilihatnya pemandangan yang begitu indah. Dihadapannya terdapat kaca berukuran besar yang menghadapkannya langsung ke arah luasnya lautan.

Ponselnya berdering.

Jae In menatap malas pada layar ponselnya seolah-olah mengetahui siapa orang yang mengganggu kesenangannya.

“Halo.” Sahutnya ketus.

“Dimana kau sekarang?” Bentakkan kasar tak bisa dihindarinya. Jae In menjauhkan sedikit ponselnya.

“Aku tidak tahu.”

“Nona Park, jangan bermain-main denganku!” geram Kyuhyun diseberang sana.

“Aku memang sedang bermain-main.” Goda Jae In mulai tertarik menggoda Kyuhyun, yang baru ia ketahui jika pria itu seorang pemarah.

“Sial! Aku akan memberimu waktu hingga nanti malam. Camkan itu!”

Tutt ttutt

Jae In mengerutkan alisnya. Memberi waktunya hingga nanti malam? Apa maksudnya itu? Well, untuk apa memikirkan perkataan pria sinis itu. Sekarang waktunya berlibur Park Jae In. Ah bagaimana jika ia pergi kepantai dengan bikini yang ia bawa? Ia rasa itu ide yang bagus!

Jae In menata pantulan dirinya sendiri di depan cermin sembari mengikat tali pinggang kimononya. Sebuah bikini berwarna biru laut tertutup rapat dibalik kimononya. Lagipula mana mungkin ia mengumbar tubuhnya dengan berjalan lenggak-lenggok di sebuah hotel. Oh ini bukan tempat yang tepat untuk mengumbar tubuh rampingnya.

Selesai dengan urusan pakaiannya, Jae In segera mengambil ponselnya, melihatnya dan mendapatkan sebuah pesan dari Kyuhyun.

Jangan melakukan hal-hal aneh atau aku akan membawamu kembali ke Seoul saat itu juga!!

Wah, Tuan arogan melarangnya! Jae In tidak takut sama sekali dengan ancaman Kyuhyun dan terus melanjutkan rencananya.

Sesampainya di pinggiran pantai, Jae In segera duduk di atas kursi berjemur dan memesan minuman jus jeruk. Beruntung dirinya mengenakan kaca mata hitam hingga menghalau silaunya terik matahari. Dikejauhan segerombolan laki-laki menatap penuh minat padanya. Memang dasarnya Jae In sudah terbiasa dengan tatapan lapar dari kaum adam, ia malah melepaskan kaca matanya dan sengaja mengerlingkan mata ke arah laki-laki itu.

Salah satu dari mereka menghampirinya sembari tersenyum. Dalam hatinya, Jae In hanya mendengus geli. Membuat para laki-laki bertekuk lutut memang hobinya.

“Hai nona.” Sapa pria itu dan perut Jae In terasa mual mendengar aksen inggris yang tak terlalu bagus keluar dari mulut pria didepannya.

“Kau sendirian?”

Ah, mungkin laki-laki ini buta! Serunya dalam hati. Berbeda dengan raut wajahnya yang menampilkan senyum menawan.

“Aku tidak sendirian lagi.” Goda Jae In. Laki-laki itu tersenyum lebar dan sebelah tangannya terangkat menuju paha putih milik Jae In yang terpampang jelas. Tapi sebelum itu terjadi ponsel Jae In berbunyi cukup keras hingga laki-laki itu mengurungkan niatnya.

Dengan malas, Jae In mengambil ponselnya. Matanya melotot kesal menerima video call dari pria menyebalkan.

“Apa!!” Bentaknya kesal.

”Apa yang kau lakukan?” Jae In memutar matanya malas. Ayolah, apa semua para laki-laki didunia ini buta. Kenapa mereka bertanya yang sudah jelas tau jawabannya!

Jae In segera memutar ponselnya ke segala arah dan berakhir di wajahnya lagi. “Bermain-main sebentar.” Jawabnya acuh.

“Bermain-main katamu? Astaga, kembali ke hotel sekarang juga! Satu lagi, Kau masih saja menggoda pria lain hah?” Bentakan penuh amarah dari Kyuhyun tak membuat Jae In takut, gadis itu justru senang bisa membuat Kyuhyun uring-uringan seperti sekarang ini.

“Uhum.. aku tidak menggodanya, dia yang menghampiriku.” Jae In menoleh kesamping dan mengerlingkan matanya.

“Astaga, Park Jae In! Kau tidak akan selamat hari ini!!”

Tutt tutt

Senyuman sinis tercetak jelas di kedua sudut bibirnya. Membuat Cho Kyuhyun kesal adalah hobi barunya.

“Apa laki-laki tadi kekasihmu?”

Jae In menoleh dan meringis pelan. “Mungkin.” Jawabnya singkat.

Laki-laki disampingnya tiba-tiba saja beranjak dan membungkuk hormat padanya. “Kalau begitu maaf sudah mengganggu waktumu.” Jae In mengerutkan alisnya bingung dengan kelakuan laki-laki tak dikenalnya itu. Beberapa menit yang lalu laki-laki tadi tertarik padanya, dan sekarang malah menjauh dan membungkuk hormat padanya. Aneh sekali.

“Ada yang salah?” Tanya Jae In.

Laki-laki itu mengangkat bahunya tak acuh. “Kekasihmu, siapa yang tak mengenalnya. Dia saingan tersulit untuk semua pria.”

Jae In mengangkat sebelah alisnya. Saingan tersulit untuk semua pria? Wow kira-kira apa yang tak dimiliki laki-laki lain yang ada pada dalam diri Cho Kyuhyun. Atau mungkin kekayaan? Bisa saja.

***

Rapat mendadak di Seoul tak bisa Kyuhyun tolak. Beberapa Kolega dari eropa sudah berdatangan menuju kantornya, dan yang bisa Kyuhyun lakukan adalah mengikuti jadwal yang sudah ditetapkan. Setelah urusannya di Jeju selesai dan Jae In kabur dari jangkauannya, sekarang Kyuhyun hanya bisa duduk diam di kursi pesawat sambil mewanti-wanti keberadaan Jae In. Ponselnya sengaja tidak ia nonaktifkan saking khawatirnya dengan Jae In. Sialnya, apa yang baru saja ia lihat ini membuatnya tak bisa menahan geraman kemarahannya. Park Jae In berada di sekitar pantai dengan pakaian sialan tipis dan ditemani oleh seorang pria tak dikenal.

Sialan! Kapan ini semua selesai dan ia bisa langsung menemui gadis nakal itu!

Beberapa jam kemudian, Kyuhyun sudah selesai dengan urusannya di Seoul, dan kembali lagi ke Jeju dengan pesawat jet miliknya untuk mempersingkat waktu. Kilat kemarahan tak bisa dihindari tatkala ia menemukan keberadaan Jae In di sebuah club malam melalui ponselnya. Supirnya berkali-kali mendapati bentakannya karena dirasa lamban, padahal saat ini sedang banyak kendaraan yang berlalu lalang hingga menimbulkan kemacetan.

“APA!” Bentaknya kasar saat menadapati panggilan dari sekretarisnya. Kyuhyun diam sejenak mendengar Eunha berbicara di seberang sana dan setelahnya sebuah umpatan keluar dari mulutnya. “Sialan! Bukankah sudah kukatakan untuk membatalkannya! Sudah berapa kali aku mengulangi jawabanku!! Apa kau tuli!” Kyuhyun langsung mematikan panggilannya secara sepihak. Disaat seperti ini keahlian Eunha dibawah rata-rata. Wanita itu mungkin sedikit tuli dengan tidak mendengarkan perintahnya. Yah, wanita itu terlalu tak enak hati mengatakan tidak pada kolega bisnisnya, dan Kyuhyun menyesal telah mempekerjakan seorang wanita lemah lembut seperti Yoon Eunha.

Sang supir berhenti di depan club yang majikannya yakini Jae In ada didalam sana. Kyuhyun segera keluar dengan tergesa-gesa dan mulut menggeram marah layaknya seekor singa yang siap berburu mangsa. Langkah kakinya yang lebar membuatnya bisa lebih cepat masuk kedalam sana.

Geraman kasar keluar dari tenggorokkannya saat matanya menangkap tangan pria tak dikenal itu menyentuh pinggang Jae In. Gadis itu nampak lunglai dan tidak bisa berdiri dengan tegak. Kyuhyun semakin meradang saja melihat laki-laki itu mulai gencar menggerayangi tubuh Jae In. Dengan langkahnya yang lebar, Kyuhyun menghampiri kedua orang itu dengan rahang sekeras baja.

“Dia gadisku, bung!” Serunya tanpa basa-basi. Sesaat, laki-laki di depannya menatapnya dengan dahi mengkerut dalam. Setelahnya yang didapati Kyuhyun adalah tatapan kaget laki-laki itu yang terarah kepadanya. Laki-laki itu seperti mengenalinya. Yah, siapa yang tidak mengenal Cho Kyuhyun, pria muda yang memiliki perusahaan besar se-Korea Selatan.

“Ma…. Maaf.” Suara laki-laki itu terdengar gugup dan ketakutan. Aura Kyuhyun begitu mendominasi sehingga nyali laki-laki itu menciut seketika.

Kyuhyun menarik lengan Jae In dari laki-laki itu. Gadis itu belum sepenuhnya tertidur. Buktinya, matanya sedikit terbuka karena mengenal aroma tubuh Kyuhyun didepannya. Jae In mendongak dengan menopang dagunya di dada Kyuhyun.

“Aaahh.. Si tampan.” Celoteh Jae In sambil memeluk pinggang Kyuhyun. Pria itu sedikit menjauhkan badannya untuk melihat wajah Jae In dengan kedua pipinya yang memerah kedinginan. Beruntung Jae In tidak mengenakan pakaian super minim seperti di kelab waktu itu.

“Berapa banyak kau minum?” Tanya Kyuhyun di depan bibir Jae In. Hidungnya menghirup bau minuman alkohol dari bibir Jae In. Sepertinya gadis itu tidak terlalu banyak minum karena bau alkohol yang keluar tidak terlalu menyengat.

“Kita pulang!”

Jae In hampir terjatuh kebelakang jika Kyuhyun tidak menahan punggungnya. Gadis itu mulai meracau tidak jelas dengan mata yang tertutup rapat. Lagi-lagi Kyuhyun menghela nafasnya kasar. Apapun yang berhubungan dengan Park Jae In entah kenapa selalu bisa membangkitkan gairahnya. Seperti sekarang ini, gadis itu sibuk mengendus-endus lehernya seperti kucing.

“Sialan!” Geram Kyuhyun gusar. Dengan cepat Kyuhyun menggendong Jae In dibahunya. Membawa gadis itu menuju mobilnya berada.

“Semuanya terbalik… Hihihi. Choco pie semuanya terbalik. Ahaa… Ini apa? Tus tus tuss.” Jari telunjuk Jae In mulai gencar menusuk-nusuk pantat Kyuhyun.

Brukk

Kyuhyun mendudukkan Jae In di kursi mobilnya. “Diam disini!” Perintah Kyuhyun ingin pergi membeli air mineral untuk gadis itu. Sayangnya Jae In malah menarik-narik lengan kemejanya.

“Ikut.” Gumamnya. Kepalanya ia sandarkan di perut Kyuhyun. Pria itu terkekeh pelan dan mulai melepaskan pelukan tangan Jae In di pinggangnya. Kyuhyun menundukkan kepalanya, kedua tangannya menangkup wajah Jae In. Gadis itu mengerjapkan kedua mata sayunya. Kyuhyun tersenyum tipis sembari mengusap kedua pipi Jae In yang memerah dengan ibu jarinya. Gadis itu terlihat menggemaskan jika sedang mabuk. Kyuhyun berjanji akan memastikan Jae In hanya mabuk didepannya, tidak dihadapan laki-laki lain selain dirinya!

“Tetap disini!”

“Anni, ikutttt…..” Bantah Jae In kesal. Kyuhyun diam, dan memajukan tubuhnya hingga tanpa sengaja menyentuh dada Jae In. Sial, niatnya yang ingin mengambil jas miliknya malah membawa petaka untuk dirinya sendiri.

Cepat-cepat Kyuhyun menegakkan tubuhnya, sebelumnya ia menyelimuti tubuh dingin Jae In dengan Jasnya. Selanjutnya suara dentuman pintu mobil yang ditutup secara kasar tak bisa dielakkan. Pria itu masih berusaha menekan gairahnya dengan menyandarkan punggungnya di kap mobil.

Baiklah, selesaikan ini dengan cepat Cho Kyuhyun. Kau harus menahannya! Batinnya berteriak.

Kakinya kembali melangkah menuju supermarket terdekat dan membeli sebotol air mineral. Sesampainya di dalam mobil, Jae In sudah tertidur pulas. Kyuhyun jadi tidak tega membangunkan tidur nyenyak Jae In. Gadis itu terlihat semakin cantik tanpa celah. Bibirnya yang memang sudah merah hanya dipolesi lipbalm tipis dan make up yang tidak terlalu mencolok seperti wanita kebanyakan.

Kyuhyun menjauhkan sulur-sulur rambut di wajah Jae In yang menghalangi pemandangannya. Ia melupakan niatnya yang ingin menyadarkan Jae In dari mabuknya dan lebih memilih menjalankan mobilnya menuju hotel tempat dia menginap. Tak butuh waktu lama, Kyuhyun sudah sampai di hotel dan membawa tubuh Jae In yang tertidur pulas di pelukkannya.

Tanpa kesusahan sedikit pun, Kyuhyun mendorong pintu kamarnya. Pria itu langsung membaringkan tubuh Jae In keatas ranjang king size. Kemudian melepaskan high heels Jae In yang berwarna peach, lalu menyelimuti tubuh gadis itu. Ditatapnya wajah Jae In lama-lama. Ini tidak biasanya Kyuhyun rela menekan gairahnya hingga ke titik yang paling rendah. Hanya Jae In gadis satu-satunya yang bisa membuatnya seperti ini. Tidak wanita-wanita lainnya, bahkan istri-istri sebelumnya. Ya istri-istri. Kyuhyun pernah menikah beberapa kali diumurnya yang masih muda. Alasannya sangat sepele, Kyuhyun menikah hanya untuk memuaskan hasrat liarnya, ia juga tidak mencintai istri-istri sebelumnya. Tidak ada satu orang pun yang mengetahuinya, bahkan ibunya yang berada jauh darinya.

Park Jae In, gadis pertama yang bisa membuat Kyuhyun kembali berpikiran waras. Pertemuan pertama mereka Kyuhyun sudah merasa tertarik dengan pembawaan gadis itu yang sedikit berbeda dengan wanita-wanita sebelumnya. Pertemuan kedua, Jae In jelas-jelas menggodanya, tapi setelah Kyuhyun memberikan ciuman andalannya, Jae In malah merasa linglung. Gadis itu sedikit berbeda, jika Kyuhyun melakukannya pada wanita lain, pasti para wanita-wanita itu bersorak kegirangan dan semakin gencar menggodanya.

Ia berjanji akan memperlakukan Jae In berbeda seperti ia memperlakukan wanita-wanita sebelumnya. Gadis itu begitu istimewa dan sangat disayangkan jika Kyuhyun memperlakukannya seperti pelacur.

***

Cahaya sinar matahari yang masuk melalui jendela kamar mengganggu tidur nyenyak Jae In yang masih bergelung dibalik selimut tebalnya. Gadis itu menyipitkan matanya melihat sinar matahari yang menyilaukan itu. Sesaat ia tersadar tempatnya sekarang berada. Ini bukan kamar dirumahnya maupun kamar hotelnya. Dimanakah dia berada sekarang?

Jae In meringis pelan mengingat kejadian semalam. Niatnya Jae In ingin menggoda beberapa laki-laki di kelub, tapi kenapa dia terjebak minuman sial itu. Setelah itu tidak ada lagi yang ia ingat selain seorang laki-laki datang menariknya dari laki-laki lain dan memeluknya yang saat itu sedang mabuk. Laki-laki itu….

“Sudah bangun.”

Jae In terkesiap, dan tanpa sadar menarik selimutnya lebih tinggi hingga menutupi lehernya. Lantas Kyuhyun terkekeh geli melihat reaksi berlebihan Jae In. Pria itu datang membawa sebuah nampan berisi segelas air jeruk, roti panggang, dan.. sebutir obat penghilang hangover.

“Kau…” Jae In berdeham pelan karena suaranya serak. “Kau ada disini?”

Kyuhyun mengerutkan dahinya dan duduk di pinggiran ranjang dan meletakkan nampan itu di pangkuannya. “Aku melihatmu mabuk dihadapan laki-laki lain. Apa kau tahu laki-laki itu menyentuhmu? Kau tidak seharusnya mabuk dihadapan laki-laki yang tidak dikenal, bagaimana jika laki-laki itu berhasil mengambil keperawananmu?”

Kedua pipi Jae In bersemu semakin merah. Ucapan Kyuhyun benar. Tidak seharusnya ia mabuk dihadapan laki-laki yang tidak ia kenal. Lagipula niatnya semalam ingin menggoda beberapa pria dan menjadikannya kekasih, namun entah kenapa setelah melihat macam-macam wine ia jadi ingin meminumnya dan berakhir mabuk dihadapan laki-laki lain.

“Sudahlah, kau aman bersamaku disini. Minumlah!”

Jae In menatap uluran gelas jus jeruk dengan mata berbinar melihat minuman kesukaannya, tapi ada yang mengganjal pikirannya, kenapa pria itu ada disini? Bukankah seharusnya Kyuhyun sudah kembali ke Seoul bersama Eunha?

“Aku sudah bilang padamu, jika kau berani macam-macam maka detik itu juga aku akan menghampirimu. Jika kau ingin merasa bebas, maaf saja, kau sudah terikat denganku. Oh, seingatku kita disini bekerja, kau juga memiliki beberapa pekerjaan di Seoul mengingat jabatanmu sekarang. Minum ini!” Perintah Kyuhyun diakhir kalimat masih belum ditanggapi Jae In. Gadis itu malah meliriknya sinis sambil mencibir.

“Memangnya kau siapa? Kau tidak perlu mengatur kehidupanku! Dan apa katamu? Aku…. sudah terikat denganmu?” Ketus Jae In membuat Kyuhyun mengeluarkan tatapan dead glare nya.

“Kau kekasihku mulai se-ka-rang!” Ucap Kyuhyun akhirnya dengan menekankan kata sekarang.

Jae In tertawa sumbang setelah mendengar ucapan Kyuhyun. Laki-laki itu pasti sedang bergurau dan gurauan seorang Kyuhyun tidaklah lucu. Dan kata-kata berikutnya membuat tawa Jae In berhenti dan menampilkan wajah bodohnya.

“Aku serius.”

***

Jae In POV

Dua kata terakhir itu membuatku salah tingkah. Mana mungkin Kyuhyun begitu mudahnya mengatakan hal seperti itu.

“Hmmm…. kurasa, aku harus mandi.” Aku berusaha mengalihkan pembicaraan dengan menyingkap selimut yang menutupi tubuhku. Aku bersyukur masih mengenakan pakaianku semalam. Ku pikir Kyuhyun mengganti pakaianku saat mabuk. Oh ayolah, apa yang kau harapkan, Park Jae In! Kau harus berhenti membaca novel romance.

“Apa yang kau harapkan?” Tanya Kyuhyun padaku dengan tatapannya yang sedikit geli. Aku mendengus kesal dan memilih mengabaikannya. Aku beranjak turun dari ranjang, berusaha mengabaikan keberadaan Kyuhyun yang membuatku menahan nafas selama ia mendudukan bokongnya dipinggiran ranjang.

Aku berlarian menuju pintu kamar mandi dan mendorong pintu bercat putih itu cepat-cepat dan menutupnya dengan cepat pula. Jantungku berdegup kencang. Sialan pria panas itu! dia tidak melakukan apapun dan berhasil membuatku merasa seperti orang tolol.

Oke fokus, Park Jae In. Kau tidak boleh termakan rayuannya!

Oke, sekarang cepat bersihkan dirimu, dan kembali ke hotel se-ce-pat-nya!!

Sial, aku tidak membawa apa-apa. Ah, kenapa aku bisa pikun mendadak? Aku sedang di kamar hotel Kyuhyun dan tidak memiliki apa-apa selain gaun yang kukenakan sekarang.

“Keluarlah, pakaianmu datang!”

Pakaianku? Oh my, apa Kyuhyun mengambilnya dari koperku?

Spontan, aku membuka pintu kamar mandi dengan gerakan cepat dan sedikit demi sedikit aku keluar dari balik pintu sambil menundukkan wajah. Sekantung plastik terulur di hadapanku.

“Pakailah dan kita pulang nanti malam! Tak perlu khawatir masalah pakaian dalam, semuanya ada di dalam kantung ini.”

Aku mendelik tajam kearahnya yang menampakkan senyum mesum dan sebelah alis terangkat. Dasar pria gila!

“Kupikir kau mengambil koperku.” Cicitku sedikit malu.

“Aku memang sedang melakukannya.”

Aku mengerutkan dahi. Apanya yang sedang dilakukan? Dia berada disini, dihadapanku. Kapan dia mengambil barang-barangku?

“Supirku yang mengambil barangmu.” Ucapnya geli. Argh, ini membuatku kesal, pria ini seperti tidak bisa melakukan apapun sendiri.

“Kenapa masih berdiri disini? Apa perlu aku ikut membantumu mengganti baju?”

Pria mesum sialan!

“Enyah kau dari sini, Cho Kyuhyun!” Teriakku nyaring disertai suara dentuman pintu kamar mandi yang hampir memekakkan telinga, dan suara tawa Kyuhyun diluar sana. Sialan sekali pria

To Be Continue

Advertisements

57 thoughts on “We Found Love [Chapter 2]

  1. Ah…sayang sekali..!! Kyuhyun udah nikah,,apalagi katanya gk sekali. Meskipun tanpa cinta tpi ttp aja kecewa. Karna statusnya Duda. Jae in mau nggak ya sma Duda..?? Ania..ani…pertanyaannya salah. Ayah Jae in mau gk ya punya mantu duda..??

    Kyuhyun emang mesum tapi sialan tampan dan mempesona. Suka part ini. Ntar part berikutnya ada sweet” romance Kyu-Jae in ya.

    Like

  2. ff nya genre romance comedy.. i like this.. wkwkwk.. semoga author bisa dapet pencerahan untuk menyelesaikan part ini…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s